(62) 812 245 6452

Info Kegiatan

 
 

”SAYA sudah menulis dua novel, dan sekarang sedang nyelesein novel ketiga. Hampir selesai,” ujar Dewi dengan nada ringan. Lalu mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung itu bla bla bla nyeroscos menceritakan isi novelnya.

Dari caranya bercerita, tak ada sedikit pun terkesan bahwa menulis novel itu sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang tak diniatkan untuk disebut sebagai novelis. Semuanya karena merasa senang saja. Dan novel-novel itu memang tidak diterbitkan, melainkan hanya beredar di antara beberapa temannya dalam bentuk foto kopian.

Bukan tidak pernah gadis penggemar karya-karya Pramoedya Ananta Toer ini mengirimkan karya novelnya ke sebuah penerbit atau untuk mengikuti sebuah lomba. Tapi kenyataan bahwa novelnya ternyata tak menarik perhatian pihak penerbit atau juri lomba, tampaknya bukanlah itu yang menjadi tujuannya benar menulis. Atau paling tidak, semua itu tidaklah menyurutkan gairahnya untuk terus menulis. Bersama beberapa orang temannya di kampus, ia kerap berkumpul dan berdiskusi.

“Ada juga yang suka puisi atau cerpen. Pokoknya kami ngobrol, ngebahas karya masing-masing, siapa aja boleh gabung. Ada juga temen yang sedang nulis novel tentang anak-anak punk di Indonesia, mungkin dia terinspirasi oleh Gideon Sams,” kata Dewi sambil memperbaiki letak kaca-matanya.

Sementara itu, di sebuah taman kota di Bandung beberapa anak muda berkumpul. Menggelar tikar di atas rumput dan duduk berkeliling. Mereka mendiskusikan karya salah seorang di antara mereka yang telah difoto kopi dan dibagikan. Masing-masing berkomentar, mengkritisi dan mengapresiasi. Di tengah keramaian lalu-lintas kota di sekeliling taman, mereka seperti membangun dunia mereka sendiri. Teks sastra sebagai dunia imajinasi yang lahir dari ruang kreatif salah seorang di antara mereka dimasuki dan diperbincangkan, tanpa ada salah seorang yang berhak merasa paling tahu dan paling benar.

Menulis sebagai kegairahan di kalangan anak muda di berbagai kota besar di Indonesia akhir-akhir ini agaknya adalah sebuah fenomena menarik. Paling tidak fenomena ini, jika hendak dicermati dari konteks perkembangan sastra di Indonesia, belum pernah terjadi sebelumnya. Tidak seperti dulu, yang terjadi kini bukan hanya munculnya para pengarang baru dengan karya mereka yang meledak di pasaran, melainkan juga tumbuh dan kian terbukanya kegairahan berapresiasi yang diikuti dengan kegairahan untuk menulis. Berbagai tumpukan manuskrip sajak, cerpen, hingga novel pun kerap mudah ditemui di kamar-kamar kos mereka yang memang umumnya mahasiswa.

Tentu saja banyak soal dan sudut bisa dihampiri untuk mencermati fenomena yang mulai terasa sejak sekira tahun awal tahun 2000-an tersebut. Termasuk dari munculnya berbagai ruang-ruang alternatif yang menyebabkan terjadinya kontak-kontak di antara mereka. Meskipun kampus masih menjadi pusat aktivitas pertemuan dan kegiatan, paling tidak ia bukan lagi menjadi satu-satunya ruang. Demikian pula dengan tempat-tempat yang selama ini dikenal sebagai ruang kesenian.

Mobilitas pergaulan di antara mereka pun turut diperluas oleh kemudahan teknologi, serupa surat elektronik (e-mail), mailling list, atau pesan singkat serupa SMS. Di situ mereka saling bertukar komentar tentang banyak soal, dari mulai isi sebuah novel, cerpen di media massa yang dimuat, polemik, sampai isu dan gosip dalam dunia kepenulisan.

**

DI Bandung sendiri, komunitas menulis ini muncul dari ruang-ruang alternatif semacam itu. Ruang itu mungkin hadir sebagai sesuatu yang berbeda. Paling tidak, ruang ini menyediakan atmosfer perbincangan yang lebih terfokus namun tidak juga kelewat ketat. Semua berlangsung tumbuh dengan sendirinya, sebagai sebuah kebutuhan untuk bersama-sama menciptakan ruang apresiasi. Dan jika pun lantas hendak disebut sebagai sebuah komunitas, maka itu bukan berarti mereka berkumpul dalam pengertian keanggotaan, melainkan lebih merupakan sebuah forum. Siapa pun boleh datang dan pergi.

Mereka datang untuk berkumpul membahas karya masing-masing. Difoto kopi dan dibagikan. Semuanya bebas berkomentar, saling mengapresiasi, dan tak ada yang jadi patron, mentor, atau guru. Inilah yang mungkin membedakannya dengan sanggar. Meski demikian ada juga ruang yang mengambil format pembelajaran atau “pelatihan” dengan nama “kelas penulisan”, seperti yang terdapat di Institut Nalar Jatinangor atau di Kelas Penulisan Cerpen Malka.

Dan umumnya, klub atau forum-forum semacam ini lahir dari ruang alternatif berupa toko buku, seperti Tobucil (Toko Buku Kecil) atau Ultimus, Malka, juga Nalar, yang kerap mengadakan kegiatan peluncuran atau diskusi buku. Pada perkembangannya toko-toko buku alternatif yang banyak menyediakan buku kebudayaan ini menjadi ruang di mana mereka kerap bertemu. Adanya minat yang sama dalam bidang tulis-menulis telah mempertemukan mereka untuk tak hanya sekadar berkumpul, namun juga bertemu secara rutin dan mengapresiasi karya masing-masing, sehingga berdirilah apa yang hendak disebut sebagai klub menulis.

Dalam hal inilah Tarlen dari Tobocil mengemukakan, pada awalnya klub menulis yang rutin diadakan sejak awal tahun 2003 difasilitasi oleh seorang dosen psikologi Unpad, dengan tujuan menulis sebagai kegiatan terapi. Namun dalam perkembangannya, sejak tahun 2004, klub menulis itu bergeser ketertarikannya pada penulisan fiksi. “Dan sejak dua bulan yang lalu, kami membagi klub menulis menjadi dua. Hari Senin untuk kelas lanjutan, dan Hari Sabtu untuk pemula. Kalau pemula lebih berkonsentrasi pada penulisan populer, artikel, cerpen, atau opini, pokok lebih ringan. Nah, kalau yang hari Senin itu sudah masuk ke proses dan projek penulisan novel, misalnya. Orang-orang yang ikut di situ pun umumnya mereka yang sudah punya intensitas tinggi dalam menulis.”

Format kegiatan sendiri tak ubahnya seperti sebuah ruang belajar bersama.

Saling membahas karya masing-masing. Atau juga dengan cara menyaksikan sebuah film bersama-sama, lalu mendiskusikan satu fokus dalam film tersebut, misalnya pembahasan mengenai karakterisasi penokohanannya. Hal lain yang juga dilakukan oleh Klub Menulis Tobucil adalah dengan cara sharing pengalaman bersama para penulis terkenal dengan mengundang mereka, sebutlah, Seno Gumira Adji Darma, Ayu Utami atau Remy Silado.

“Nanti bulan September kami punya program mengundang Icha Rachmawati, untuk ngomongin proses kreatifnya,”ujar Tarlen, seraya menambahkan bahwa fenomena munculnya novel-novel sejenis Chiklit atau Teenlit telah turut mendorong keberanian para orang untuk tidak malu-malu lagi memperlihatkan karyanya.

“Mereka yang datang bukan sejenis orang yang tadinya berani memperlihatkan karyanya pada orang lain. Mereka malu-malu. Mereka ikut klub menulis juga melatih mereka untuk sharing, minimal dibagi dengan teman-teman yang datang.”

Sama halnya dengan Klub Menulis Tobucil yang tak mengenal sistem keanggotaan, demikian pula dengan Mnemonic. Klub menulis ini berawal pada tahun 2004, dari minat yang sama dalam bidang tulis-menulis, yang beberapa di antaranya kerap dimuat di media massa. “Sebagai orang susah tidur malam, dengan beberapa teman saya sering menghabiskan waktu dengan membaca karya teman-teman dan mengapresiasinya. Kami belajar dari karya mereka. Ketika ceritakan kebiasaan itu, timbul pikiran, mengapa juga kita tidak membahas karya teman-teman yang lain? Ketika itu juga muncul perhatian pada kenyataan bahwa taman-taman kota di bandung kurang dimanfaatkan, lebih banyak sebagai tempat mati begitu saja. Mengapa tidak kita hidupkan dengan diskusi? Akhirnya pada tanggal 23 Mei 2004 itu kami berdiskusi di Taman Balai Kota,” ujar Denai.

Sebagai sebuah klub menulis, Mnemonic, memang cukup unik. Berbeda dengan Klub Menulis Tobucil yang memiliki tempat yang tetap untuk berdiskusi dan bertemu, Mnemonic lebih memilih di ruang publik seperti di taman-taman kota. Menurut Denai, konsepnya berangkat dari keinginan menciptakan kecintaan pada taman kota dengan kebiasaan menulis, dan membagun tradisi berdiskusi mengenai sebuah karya.

“Kami bermacam-macam. Ada yang masih kuliah, dan ada yang tidak. Awalnya kami sering main ke Tobucil. Sering bertemu dan membicarakan tulisan-tulisan. Itu saja awalnya.”

Penamaan Mnemonic sendiri menurutnya adalah bahasa psikologi yang diambil dari karya pertama yang mereka bahas dalam diskusi, karya Wiku yang artinya jejak ingatan. Mereka mengandaikan bahwa setiap kali orang membaca sebuah tulisan, maka orang akan ingat pada mereka. Awalnya klub menulis ini berjumlah hanya enam atau tujuh orang. Namun dalam perkembangannya mereka membuat dua versi, yakni off line, yang ketemu darat diskusi di taman-taman dengan jumlah yang sudah mencapai 25 orang. Sedangkan on line lewat mailling list, yang pada awalnya lebih difungsikan sebagai ruang tukar-menukar informasi di antara mereka, menjadi ruang yang demikian terbuka bagi siapa pun untuk bergabung, termasuk dari Australia, Belanda, dan dari kota-kota lainnya di Indonesia.

Format diskusi pun demikian longgar. Karya penulis yang akan didiskusikan diperbanyak dan dibagikan. Lalu siapa pun boleh berkomentar. Semua saling belajar. Selanjutnya terserah si penulis, termasuk apakah ia akan merevisi atau tidak.

Komentar dan pendapat juga masuk ke berbagai pemikiran tentang media-massa mana yang kira-kira sesuai dengan tulisan tersebut. Hal ini juga sama dilakukan oleh Klub Menulis Tobucil, yang langsung sampai ke pemikiran untuk menghubungkan sebuah karya novel yang mereka anggap layak dengan pihak penerbit.

Sementara berbeda dengan Tobucil yang menjadikan klub menulis sebagai salah satu lininya, Ultimus sebagai komunitas lebih berangkat dengan keinginan membangun ruang atau iklim itu sendiri ketimbang berkonsentrasi membentuk sebuah klub menulis dengan kegiatan diskusi. Dari yang mulai diskusi rutin hingga insedental seperti diskusi buku yang karena seringnya malah menjadi rutin juga, meski memang tidak terjadwal.

“Kami berdiri tahun 2004. Tentang klub menulis kami memang sengaja tidak memformalkannya menjadi sebuah klub. Jadi bebas saja. Misalnya, kalau ada penulis datang dan yang lain nimbrung, ya, insidental saja, akhirnya jadi manjang. Seringnya kayak gitu,” ujar Bilpen.

Bilpen mengatakan hal itu dilakukan karena adanya kekhawatiran munculnya semacam kesan adanya identifikasi kelompok. Ia pun melihat bahwa untuk menghidupkan sebuah komunitas soalnya adalah bagaimana mengerjakan lahan atau habitatnya sehingga subur. Sebuah habitat yang sehat akan menumbuhkan sebuah komunitas dengan sendirinya. Karena itulah Ultimus mengambil semacam strategi dengan memfasilitasi sebuah kelompok untuk membuat acara rutin, yang akhirnya kelak itulah yang akan menjadi bagian dari Ultimus, sehingga akan terbangun sebuah ruang yang benar-benar kondusif.

“Dan komunitas-komunitas itu sudah muncul tanpa sengaja dibikin, misalnya, teman-teman pers mahasiswa. Target kami paling tidak ada 7 komunitas yang bikin diskusi seminggu sekali dengan berbeda-beda ragamnya. Sekarang baru 3 komunitas, pers mahasiswa, komunitas yang ada di ultimus, dan terakhir dari teman-teman subkultur musik punk dan underground. Kami memang membaca gejala yang terjadi. Apa yang dilakukan teman-teman di Malka atau di Ultimus itu bagus. Tapi supaya kesannya tidak saling bersaing, kami ingin membuat konsep yang lain. Kami juga mensupport kawan-kawan, bahkan suatu saat bisa bikin program bareng,” papar Bilpen.

Tanpa juga melupakan komunitas-komunitas sastra kampus yang masih terasa denyut sampai hari ini, atau juga komunitas lainnya seperti Jendela Seni yang dulu amat militan menerbitkan newsletter, Malka, juga Institut Nalar Jatinangor, atau komunitas, klub atau gank-gank menulis lainnya yang tumbuh di Bandung akhir-akhir ini; Ultimus, Mnemonic dan Tobucil bisa disebut sebagai gambaran dari sebuah fenomena yang menarik dalam konteks anak-anak muda terhadap dunia menulis. Menulis tiba-tiba menjadi ruang bagi kebersamaan, untuk saling sama-sama belajar, dan untuk saling memasuki teks sebagai sebuah tradisi menerima dan menghadirkan perbedaan. (Ahda Imran)***

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, 6 Agustus 2005