(62) 812 245 6452

Info Kegiatan

 
 

PRIBUMINEWS – Puisi menjadi bagian dari metamorfosa, “alat” perubahan ke arah yang lebih baik bagi perilaku dan hati. “Puisi mampu mengubah saya secara khusus, menjadi semacam agama.

Sebaiknya, memang, puisi menjadi ‘agama’, Jika  tidak, akan lahir penyair cabul, penyair proposal, dan penyair anjing,” kata penyair asal Bandung, Matdon, dalam orasinya di acara Pesta Puisi Tiga Kota (PPTK), yang diselenggarakan  di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Jawa Barat, Ahad lalu (1/2). Selain di Bandung, PPTK akan digelar di Yogyakarta, dan Denpasar.

Pada kesempatan tersebut, Matdon membacakan puisi karya sendiri, antara lain yang berjudul “Ustadz Televisi”, yang menyindir eksistensi para ustaz di televisi dengan segala macam atribut selebritasnya.

Matdon mengungkapkan, bagi diirnya, puisi selalu membawa kebahagian, meski tak menjamin seseorang masuk surga. “Itu tak penting. Karena, yang penting adalah bagaimana  puisi menjadi muara kesadaran transendental manusia, kesadaran yang  utuh,” katanya.

Selain  Matdon, penyair dari Bandung dan sekitarnya yang ikut membacakan karyanga antara lain Ratna Ayu Budhiarti, Ratna M Rachiman, Semi Ikra Anggara, Deddy Koral, dan Faisal Syahreza. Lalu ada penyair dari Yogyakarta Saut Situmorang.  Acara ini juga menampilkan perunjukan musik dari Adew Habtsa, Mukti-Mukti, dan Sisca Guzheng Harp.

“Kenapa puisi ditulis? Banyak jawabannya. Tapi, bagi saya, untuk menemukan potongan-potongan tubuh, hati, dan keimanan saya. Itulah sebabnya kemudian saya dan kawan kawan mendirikan komunitas sastra Majelis Sastra Bandung. Tak lain sebagai upaya pengekalan ingatan saya terhadap kesadaran itu,” kata Matdon lagi.

Rencananya, kota kedua yang akan menggelar perhelatan ini adalah Yogyakarta  pada 4 Februari 2015 dan kemudian Denpasar pada 7 Februari 2015. (Tatang/Pur)

Sumber: pribuminews.com