(62) 812 245 6452

Info Kegiatan

 
 

Galamedia - Sabtu, 5 Juni 2010

TIDAK banyak penerbit besar berani mencetak buku-buku dari penulis pemula. Padahal karya-karya mereka bisa jadi lebih banyak menyimpan makna atau sejarah yang layak dibaca.

Namun demikian, bagi sebagian toko buku yang masih mengedepankan sisi idealis terhadap kualitas buku, karya tersebut bisa menjadi mahacipta yang indah. Ultimus misalnya. Toko buku yang sudah berdiri sejak tahun 2004 ini menjadi penerbit yang sukses mencetak beberapa judul buku yang setengahnya ditulis oleh penulis pemula. "Dalam menebitkan buku, kita cenderung memilih tema yang menyinggung nilai-nilai filsafat, sejarah, memoar, atau juga sastra. Dan kami tidak melihat siapa yang menulis, tapi apa yang dia tulis," papar Bilven, salah seorang owner Ultimus.

Dikatakan, buku yang diterbitkan adalah yang secara posisi bisa menguatkan brand Ultimus itu sendiri, yaitu buku-buku yang mencerdaskan dan kemungkinan tidak banyak orang bisa menerbitkan.

Diakui Bilven, naskah-naskah yang akan diterbitkan Ultimus selalu melewati proses seleksi dan tidak sembarangan. Ultimus akan tetap menerbitkan buku yang dari segi penulisan dan bentuk dianggap tidak layak namun naskahnya memiliki arti penting. "Kami memiliki tim sekitar enam orang yang siap menjadikan karya tidak layak baca menjadi sebaliknya tanpa mengubah isi," ungkapnya.

Dijatakan, Ultimus mulai serius menjadi penerbit pada tahun 2006, dimulai dengan mencetak satu buku per dua bulan. "Karena kebutuhan dana perawatan serta alokasi kegiatan komunitas baca maka kami memutar otak agar bisa menerbitkan buku dan menggulirkan aliran dananya," jelasnya.

Soal keuntungan, Bilven mengatakan, hingga kini pihaknya belum meraup keuntungan yang cukup besar dan masih gali lubang tutup lubang. "Di sini kita tidak berusaha mengejar keuntungan untuk kepentingan pribadi, tapi lebih pada kepentingan bersama. Yang terpenting, bagaimana toko buku kami tetap berjalan dengan gaung komunitas yang semakin bertambah. Sayang kalau akhirnya kami harus hilang dari peredaran," paparnya.

Sistem penerbitan
Ada dua cara dalam sistem penerbitan yang diterapkan Ultimus. Pertama penerbitkan buku pesanan dengan modal ditanggung penulis atau sponsor untuk keuntungan dibagi dua. Kedua, menerbitkan buku dengan modal sendiri dan untuk royalti, yaitu bagi hasil lewat jumlah buku yang dicetak sebesar 10% untuk penulis dan juga keuntungan dari jumlah buku yang terjual. Untuk distribusi, Ultimus sudah bekerja sama dengan hampir semua toko buku besar dan kecil di Pulau Jawa dan beberapa bagian wilayah Indonesia lainnya. Biasanya untuk di toko buku besar, Ultimus hanya menyimpan buku-bukunya enam bulan sampai satu tahun, kemudian ditarik kembali dari peredaran.

Di samping menyimpan buku di toko besar, Ultimus juga melakukan penjualan sendiri dengan menggelar pameran di sejumlah even dan lewat online. "Kita harus berupaya lebih produktif dalam memasarkan buku-buku yang kami terbitkan karena tidak bisa mengandalkan penjualan di toko buku saja," ujar Bilven.

Ia juga menuturkan buku yang diterbitkannya per judul bisa dicetak dalam jumlah 1.000 eksemplar dan paling banyak 3.000 eksemplar. Lebih banyak judul yang diterbitkan maka perputaran uang yang diterima akan lebih cepat dan akan lebih mudah untuk mencetak kembali judul-judul buku baru. "Omzet per bulannya memang tidak selalu stabil, karena semakin banyak menerbitkan buku maka akan semakin banyak judul baru yang diterbitkan. Kalau diambil rata-rata, perbulannya kita bisa mengantongi Rp20 juta. Sementara biaya penerbitan buku per judulnya dengan jumlah 1.000 eksemplar bisa Rp 8 juta. Sehingga dalam sebulan kita bisa mencetak tiga judul buku," urainya.

Pada dasarnya, diungkapkan Bilven, Toko Buku Ultimus bukanlah untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Tapi lebih pada bagaimana bisa menerbitkan judul sebanyak-banyaknya.

Tri Widiyantie