(62) 812 245 6452

0 item(s) - Rp 0
  • Mengorek Abu Sejarah Hitam Indonesia

Pengantar: Jakob Sumardjo  
Editor: Bilven  
Desain sampul: Prima R. Bardin

PERTANYAAN yang abadi: apakah kebenaran itu? Dan ada-ketidakadaan jawaban yang abadi pula. Pertanyaan manusia sepanjang abad itu tidak mungkin ada jawabannya yang diiyakan seluruh umat manusia. Terlalu banyak kebenaran-kebenaran, dan masih akan bertambah lagi kebenaran-kebenaran baru.

 

Kebenaran itu bukan masalah kata-kata. Kebenaran adalah kenyataan di hadapan manusia. Kebenaran itu realitas. Kebenaran adalah masalah nilai, dan nilai merupakan kualitas, sifat-sifat. Apakah “panjang” itu? Apakah “merah” itu? Apakah “suci” itu? Dapatkah Anda mengatakan “merah” itu apa? Karena suatu kualitas, maka nilai “merah” itu senantiasa mengikuti benda-benda. Anda baru mengenal apa itu “merah” pada bunga, langit senja, pipi gadis remaja, pada darah. Begitu pula “kebenaran” hanya hadir pada perbuatan. Dan itulah masalahnya yang terbesar.

 

Dalam kearifan lokal masyarakat Sunda dikenal ungkapan Tekad Ucap Lampah atau Kehendak Pikiran Perbuatan. Ungkapan itu tidak bermakna kalau tidak disadari bahwa ketiga-tiganya adalah satu adanya. Memang tiga hal, tetapi sesungguhnya satu hal saja. Memang satu hal, tetapi sesungguhnya ada tiga.

 

Kearifan semacam itu sudah dikenal sejak zaman Upanishad di India, melalui ucapan orang bijak Yajnakalpa yang kira-kira bunyinya: “Manusia memutuskan sesuatu berdasarkan keinginannya. Dan melakukan sesuatu berdasarkan keputusannya. Dengan perbuatannya itulah manusia berubah.” Ada tiga kesatuan, yakni keinginan, pemikiran, dan perbuatan. Dan perbuatanlah yang mengubah manusia.

 

Peristiwa G30S tahun 1965 penuh dengan aksi banyak pihak. Perbenturan aksi-aksi ini tentu didasari oleh keinginan pelaku-pelakunya yang juga saling bertentangan. Namun, dalam buku Yoseph Tugio Taher ini, semua peristiwa penuh konflik itu hanya bersumber pada satu keinginan tunggal, yakni Jenderal Soeharto. Keinginan Soeharto hanya satu, yakni merebut kekuasaan dari Presiden Soekarno. Keinginan tunggal itu diwujudkan melalui pemikiran yang brilian sehingga maksudnya yang jahat disulap menjadi perbuatan mulia.

 

Dengan amat rinci, Taher memaparkan peristiwa yang penuh perbuatan itu, yang mengarah hanya pada satu keinginan dan satu pemikiran Jenderal Soeharto saja. Soeharto adalah dalang peristiwa yang mengubah Indonesia itu. Tidak ada dua keinginan atau banyak keinginan karena semua digerakkan oleh Soeharto.

 

Selama lebih dari 30 tahun, Soeharto disanjung sebagai penyelamat bangsa dan negara dari sebuah kudeta. Dialah tokoh baik, pahlawan bangsa, karena telah melakukan perbuatan yang dasarnya keinginan baik. Tokoh jahatnya adalah PKI karena partai ini punya keinginan jahat, yaitu kudeta. Ibarat cerita wayang kulit, PKI adalah pihak kiri dan Soeharto adalah pihak kanan. Kiri itu “jahat” dan kanan “baik”.

 

Tetapi, wayang kulit itu harus dilihat dari dua sisi, yakni sisi penonton di belakang dalang dan sisi penonton di belakang layar wayang (kelir). Peristiwa G30S selama ini dilihat dari belakang dalang, yakni pihak yang baik ada di kanan. Sedang buku ini justru melihat peristiwa itu dari balik kelir, yang hanya menonton bayang-bayang dan melihat dengan jelas bahwa pihak kiri adalah kebenaran dan kebaikan dan pihak kanan justru yang jahat.

 

Itulah rumitnya menentukan kebenaran. Jadi, apa kebenaran itu? Benar dan tidak benar itu berupa perbuatan, berupa peristiwa yang semua manusia bisa melihatnya sebagai kenyataan. Kalau semua kejadian itu bisa dikumpulkan data-datanya secara komplit dan sempurna, maka dapat dibaca jalan pikiran pembuat peristiwa itu dan dapat dibaca apa yang diinginkannya. Apakah perbuatan-perbuatan itu benar atau tidak benar, baik atau tidak baik, tergantung pada keinginan pelakunya.

 

Tetapi, keinginan dan pemikiran itu ada di dalam diri pelaku. Keinginan dan pikiran itu tidak bisa dilihat, yang bisa dilihat itu hanya perbuatannya. Dengan demikian, apakah Peristiwa G30S benar atau tidak benar, tergantung dari penafsiran belaka. Dan semua penafsiran terhadap kenyataan, hasil perbuatan, tergantung dari keinginan, maksud, dan penafsirannya pula. Penafsiran tergantung di mana Anda menonton peristiwa itu, dari belakang dalang, yang berarti Anda melihat seperti diinginkan dalang, atau dari seberang dalang di balik kelir, yang berarti bertentangan dengan dalang.

 

Ada sudut lain untuk menilai kebenaran, yakni ketidaksadaran pelakunya. Apa pun keinginan si pelaku, baik atau jahat, yang berhasil disembunyikan dari perbuatannya, orang masih dapat melihat otentitas diri pelaku dari sisi yang si pelaku tidak menyadarinya. Metode yang dipakai adalah pembandingan semua perbuatan yang pernah dilakukan di luar perbuatannya yang sedang kita nilai. Itulah pengulangan pola-pola.

 

Buku Taher ini bekerja secara itu pula. Ia mencoba menunjukkan pola keputusan dan tindakan yang pernah dilakukan Soeharto sebelum G30S. Misalnya Peristiwa 3 Juli 1946. Di situ diperlihatkan pola perbuatan Soeharto sebagai dalang peristiwa. Dua pihak yang saling bermusuhan, di mana Soeharto terjepit di dalamnya dalam sebuah dilema, penyelamatan dirinya dilakukan dengan meniupkan kabar dusta yang dilihat dari subjek kepentingan mereka yang saling bertentangan. Soeharto selamat dengan mengorbankan orang yang mempercayai ucapannya.

 

Pola berpikir yang dapat dikenali kembali dari pola perbuatan akan menunjukkan segi kepribadian yang tidak disadari oleh pelaku. Ya, Soeharto memang senantiasa berpikir begitu dalam melakukan sesuatu. Pola perbuatan dan pola berpikirnya selalu berulang. Taher menunjukkan bahwa pola G30S pernah dilakukan Soeharto pada Peristiwa 3 Juli 1946. Untuk membuktikan bahwa itulah pola perbuatan Soeharto, perlu dikumpulkan lebih banyak lagi bukti-bukti. Orang tidak bisa menipu dirinya dan menipu orang lain karena semua perbuatannya berdasarkan suatu pola tetap yang ia sendiri tidak menyadarinya. Orang lain yang akan menunjukkan padanya bahwa ia senantiasa berbuat dalam sebuah pola yang sama.

 

Apakah kebenaran itu? Kebenaran hadir dalam perbuatan. Tanpa perbuatan, tanpa peristiwa, tanpa kelakuan, tidak ada yang disebut benar atau tidak benar. Dan G30S adalah peristiwa, perbuatan yang melibatkan begitu banyak pihak dan banyak orang. Apa yang sebenarnya terjadi, dapat diketahui kalau orang mampu mengumpulkan semua tingkah laku yang dapat dibaca dari fakta dan data. Tetapi, menilai apakah peristiwa itu sebagai tingkah laku yang benar atau salah tetap sebuah misteri karena setiap perbuatan menyembunyikan keinginan-keinginan baik atau jahat, dengan pemikiran benar atau tidak benar dalam mewujudkan keinginannya itu. Yang bisa kita lakukan hanya menafsirkan keinginan jahat atau baiknya melalui pola-pola perbuatan dari pihak-pihak yang terlibat.

 

Akhirnya, ini masalah apa yang dinamakan “sejarah”. Apakah sejarah itu? Sejarah hanyalah kata-kata, pikiran juga. Sejarah bukan peristiwa itu sendiri. Sejarah itu sebuah opini atau penafsiran atas tanda-tanda peristiwa. Setiap orang dapat menafsirkan peristiwa dari sudut pandangnya masing-masing, yakni dari keinginan dan cara mewujudkan keinginannya terhadap tanda peristiwa yang dihadapinya. Sejarah pada dasarnya mitos manusia modern. Dan sebagai mitos, tinggal Anda mempercayai atau tidak mempercayai.

 

Peristiwa G30S selama 30 tahun lebih telah berhasil diwujudkan dalam sebuah mitos yang mendudukkan Soeharto sebagai seorang “hero”. Mitos ini punya alasannya sendiri pula mengapa dapat dapat diterima sebagai kebenaran oleh seluruh rakyat Indonesia begitu lama. Kita semua telah mempercayai itulah kejadian yang sebenarnya. Bahwa PKI dalang dari peristiwa itu dan Soeharto adalah penyelamat negara dan bangsa. Tidak cukup hanya menyusun sejarah atau mitos tentang kebenaran itu, tetapi juga mewujudkannya dalam ritual-ritual, film, museum, buku-buku. Rakyat Indonesia bertubi-tubi ditanamkan tentang kebenaran pihak kanan ini.

 

Setelah Soeharto terguling dari jabatan pemimpin bangsa begitu lama, setara dengan jabatan Sultan Agung dari Mataram yang juga 33 tahun memerintah, maka mulailah muncul tulisan-tulisan anti-mitos Soeharto ini. Sebenarnya anti-mitos ini sudah muncul juga ketika Soeharto masih jaya-jayanya berkuasa, yakni lewat penerbitan kaum eksil di Belanda. Namun, anti-mitos semacam itu semakin deras setelah Soeharto jatuh. Selama Soeharto masih hidup pun anti-mitos ini terus ditulis, dan setelah meninggalnya pun tetap ditulis. Dan mitos Soeharto ini masih dilakukan untuk menggulingkannya.

 

Mitos Soeharto ini oleh Taher dinamai “sejarah hitam”, dan ada pula yang menamainya “sejarah gelap”. Mitos G30S yang selama ini beredar tentu saja “sejarah terang dan sejarah kebenaran”. Gerakan anti-mitos yang sekarang gencar diungkapkan justru menamakan ‘sejarah terang” itu sebagai “sejarah gelap”.

 

Tidak mudah untuk meruntuhkan sebuah mitos bangsa. Mitos itu bukan soal benar atau tidak benar, ilmiah atau tidak ilmiah, tetapi soal kepercayaan bersama. Meskipun tidak ilmiah, kalau mitos itu diakui dan dipercayai, seutuhnya adalah kebenaran. Dan bagaimana Anda akan meruntuhkan sebuah kepercayaan bersama yang selama lebih dari 30 tahun ini bertubi-tubi ditanamkan dalam pikiran dan kesadaran bangsa Indonesia? Tidak mudah. Anda sedang melawan peristiwa itu sendiri, sejarah sesungguhnya yang penuh misterium itu.

 

Apakah kebenaran itu? Akhirnya, kebenaran soal mitos. Soal cerita, soal kata-kata, soal sejarah. Bagi yang mempercayai mitos tersebut, semuanya menjadi kebenaran. Dan yang tidak mempercayainya, meskipun ilmiah dan rasional, tetap bukan kebenaran. Buku Taher ini sebuah anti-mitos orde baru yang berusaha “meluruskan” kebenaran. Dan ia tidak sendirian. Banyak sarjana luar Indonesia yang juga getol meruntuhkan mitos yang sudah ada. Semua itu tinggal menunggu waktu, apakah mitos-mitos baru ini akan berhasil meruntuhkan mitos lama “ciptaan” Soeharto.

 

Ternyata Soeharto belum terguling.

Kualitas Buku
Sampul buku Softcover, Doft
Bahan kertas HVS 70gr

Write a review

Please login or register to review

Mengorek Abu Sejarah Hitam Indonesia

  • Brand: Ultimus
  • Product Code: ULT028
  • Availability: Pre-Order
  • Rp 70,000


Related Products

Gelas-Gelas Retak

Gelas-Gelas Retak

Trilogi Catatan Harian Aktivis PNI & Tragedi 1..

Rp 65,000

Akar dan Dalang

Akar dan Dalang

Pembantaian Manusia Tak Berdosa dan Penggulingan B..

Rp 65,000

Mengenang Gubuk Reyot

Mengenang Gubuk Reyot

dan cerita-cerita lainnya.   Editor: Bilven. Des..

Rp 35,000

Banten Seabad Setelah Multatuli

Banten Seabad Setelah Multatuli

Catatan Seorang Tapol 12 Tahun dalam Tahanan, Kerj..

Rp 50,000

Keluarga Abangan

Keluarga Abangan

(memoar).   Pengantar: Stanley Adi Prasetyo. Edi..

Rp 40,000

Wounded Longing

Wounded Longing

short story collection.   Translator:Dr. Keith ..

Rp 25,000

Aku Hadir di Hari Ini

Aku Hadir di Hari Ini

Kumpulan Puisi Hr. Bandaharo.   Editor: Putu Oka..

Rp 35,000

Pelita Keajaiban Dunia

Pelita Keajaiban Dunia

Kumpulan Puisi Nurdiana Jilid 2.   Editor: R. Mi..

Rp 30,000

Gelora Api 26

Gelora Api 26

kumpulan cerpen dan puisi.   Editor: Chalik Hami..

Rp 25,000

Nyanyian dalam Kelam

Nyanyian dalam Kelam

Kumpulan Puisi.   Editor: Putu Oka Sukanta, Bilv..

Rp 20,000

Puisi-Puisi dari Penjara

Puisi-Puisi dari Penjara

Editor: Putu Oka Sukanta, Bilven. Pengantar: Asep ..

Rp 30,000

Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan

Editor: Bilven. Desain sampul: Ucok (TYP:O Graphic..

Rp 50,000

Di Pengasingan

Di Pengasingan

sebuah kumpulan cerita pendek.   Pengantar: M.A...

Rp 35,000

Cerita untuk Nancy

Cerita untuk Nancy

sepilihan puisi.   Editor: Heri Latief, Bilven. ..

Rp 33,000

Jelita Senandung Hidup

Jelita Senandung Hidup

Kumpulan Puisi Nurdiana Jilid 1.   Pengantar: As..

Rp 30,000

Mawar Merah

Mawar Merah

kumpulan puisi.   Pengantar: Asahan Aidit, M.A.,..

Rp 28,000

Tanah Merah yang Merah

Tanah Merah yang Merah

sebuah catatan sejarah.    Pengantar: Takashi Sh..

Rp 45,000

Riau Berdarah

Riau Berdarah

(Kisah Perjalanan Hidupku).   Editor: Soemargo ..

Rp 45,000

Hidup Bagaikan Mengalirnya Sungai

Hidup Bagaikan Mengalirnya Sungai

Wanita dalam perjuangan anti-kolonial Malaya.    ..

Rp 50,000

Bulembangbu

Bulembangbu

Kisah Pahit Seorang Tahanan G.30.S    [kondisi:..

Rp 45,000

Aku dalam Pusaran Sejarah Negeriku

Aku dalam Pusaran Sejarah Negeriku

Proklamasi Kemerdekaan sampai G30S 1965  Editor: S..

Rp 65,000

Potret Diri dan Keluarga

Potret Diri dan Keluarga

Penyunting: Harsutejo. Bank naskah: Nurul Utami. D..

Rp 45,000

Angin Burangrang

Angin Burangrang

sajak-sajak petani tua   Editor: Bilven.  Gambar..

Rp 22,000

Perjalanan Jauh

Perjalanan Jauh

Kisah Kehidupan Sepasang Pejuang Redaksi: Kadri Ch..

Rp 110,000

Siswoyo dalam Pusaran Arus Sejarah Kiri

Siswoyo dalam Pusaran Arus Sejarah Kiri

Memoar Anggota Sekretariat CC PKI    Editor: Bilve..

Rp 65,000

G30S dan Kejahatan Negara

G30S dan Kejahatan Negara

Penyunting: Siauw Tiong Djin     Desain sampul: He..

Rp 65,000

Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula

Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula

Diterbitkan secara kolektif oleh Ultimus, Komunita..

Rp 200,000

Kidung untuk Korban

Kidung untuk Korban

Kidung untuk Korban | Dari Tutur Sepuluh Narasumbe..

Rp 50,000

Kisah-Kisah dari Tanah Merah

Kisah-Kisah dari Tanah Merah

Kisah-Kisah dari Tanah Merah | cerita digul cerita..

Rp 60,000

Derita Sepahit Empedu

Derita Sepahit Empedu

Kehidupan Eks-Tapol 65 di Alam Minangkabau   Pen..

Rp 55,000

Tags: sejarah, kiri, komunis, PKI, Tragedi 1965, pembantaian massal, kejahatan kemanusiaan, Bung Karno, Yoseph Tugio Taher