(62) 812 245 6452

0 item(s) - Rp 0
  • Jalan Sutera Abad 21

Demi koeksistensi damai, kerja sama dan kemakmuran bersama

 

Penyunting: Bilven
Desain sampul: Ryan R. Sutiah

 

DARI pertengahan abad 20 sampai dasawarsa kedua abad 21, dunia berkecamuk dilanda pertarungan dua kubu: kapitalisme lawan sosialisme. Hasilnya adalah dunia sudah berganti rupa, sudah berubah wajah. Kejayaan kapitalisme yang dimanifestasikan dengan luasnya daerah Inggris Raya dengan jajahannya di semua benua, di Asia, Afrika, Australia, Oseania, Amerika Latin, yang meliputi permukaan bumi dengan matahari yang tak pernah tenggelam, kini telah lenyap. Inggris Raya itu jadi tinggal sekelumit pulau, yang tak lebih luas dari Pulau Papua. Tiongkok yang dihuni seperlima penduduk dunia, yang miskin dan terbelakang di pertengahan abad ke‐20, telah melejit jadi negara terbesar kedua di dunia di bidang ekonomi, mengungguli Jepang, mengejar Amerika.

 

Pertarungan sosialisme lawan kapitalisme, hakikatnya adalah usaha burjuasi membasmi komunisme. Kegagalan usaha burjuasi membasmi komunisme di Asia Timur dan Asia Tenggara dengan tiga tahun Perang Korea dan tiga belas tahun Perang Vietnam dilanjutkan dengan realisasi Perang Dingin, yaitu the Policy of Containment untuk membasmi komunisme sejagat. Kejayaan Perang Dingin dimanifestasikan dengan robohnya Tembok Berlin pada tahun 1990, disusul oleh berantakan serta lenyapnya Uni Sovyet, Uni Republik‐Republik Sovyet Sosialis (URSS), diikuti kehancuran semua negara sosialis Eropa Tengah dan Timur, yaitu gulung‐tikarnya Republik Rakyat Albania, Republik Demokrasi Jerman, Republik Sosialis Rumania, Republik Sosialis Cekoslowakia, Republik Rakyat Hongaria, Republik Rakyat Bulgaria, Republik Rakyat Polandia.

 

Di pertengahan abad ke‐20, gerakan komunis internasional tersentak dengan Kongres XX Partai Komunis Uni Sovyet (PKUS). Kaum sosial demokrat dan Trotskis bergendang paha, menyambut kutukan Nikita Syergeyewitch Khrusycyov atas kultus individu Stalin dalam Kongres ini. Selanjutnya, kaum Trotskis dan sosial demokrat yang bergandengan tangan dalam mendukung Perang Dingin, berpesta pora menyambut berantakannya URSS, menyusul robohnya Tembok Berlin. Presiden AS George W. Bush dengan bangga menyatakan dalam pidato kenegaraannya awal tahun 1992: “Perang Dingin sudah usai, komunisme sudah mampus, dan kita menang!” Para pembela tangguh kapitalisme, Francis Fukuyama dan Samuel P. Huntington tampil dengan karya‐karyanya: The End of History and the Last Man dan The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, dua‐duanya menyenandungkan kejayaan kapitalisme dan menyimpulkan bahwa telah nyata keunggulan liberalisme atas Marxisme.

 

Tiga tahun Perang Korea tahun 1950–1953 yang mengorbankan ribuan prajurit AS, tiga belas tahun Perang Vietnam 1961–1975 yang mengerahkan seperempat juta pasukan AS, mendemonstrasikan kegagalan Amerika Serikat membasmi komunisme di Asia Timur dan Asia Tenggara. Tetapi dengan memanipulasi Peristiwa G30S, lewat memanfaatkan Angkatan Darat Indonesia dengan pentolannya Soeharto, membantai ratusan ribu anggota dan kader pimpinan PKI, para pendukung rezim orba Soeharto menepuk dada merasa berjasa berhasil melumpuhkan gerakan komunis Indonesia serta menggulingkan Bung Karno. Teror orba bersimaharajalela. Indonesia jadi neraka dunia. Sepertiga abad Indonesia dikuasai rezim fasis anti‐komunis, orde baru Soeharto yang mengekor Amerika Serikat.

 

Di kala burjuasi internasional berusaha keras membasmi komunisme sejagat, dalam gerakan komunisme internasional bergelora perjuangan melawan revisionisme modern. Sampai‐sampai Tiongkok selama satu dasawarsa, di bawah pimpinan Mao Zedong melancarkan Revolusi Besar Kebudayaan Proletar untuk membasmi revisionisme. Tahun 1981, CC PKT menilai bahwa RBKP adalah salah, tidak sesuai dengan Marxisme–Leninisme untuk melawan revisionisme, hingga semboyan RBKP “perjuangan klas sebagai poros” diganti dengan tugas utama untuk membangun ekonomi, dan Tiongkok mulai melancarkan usaha membangun tahap pertama sosialisme berciri Tiongkok.

 

Dalam situasi dunia penuh gejolak bentrokan‐bentrokan itu, Presiden Tiongkok Xi Jinping mencetuskan gagasan membangun “satu jalur dan satu jalan”, “jalan sutera abad ke‐21”. “Jalan sutera” yang pernah berjaya dalam sejarah Tiongkok di zaman Dinasti Han, dihidupkan kembali. Jalan sutera tak hanya merajut jaringan lalu lintas perdagangan, tapi juga rute perdagangan internasional serta hubungan budaya yang meliputi kebudayaan Tiongkok, India, Persia, Arab, Yunani, dan Roma. Berlangsung dalam Dinasti Han sampai runtuhnya Dinasti Yuan, pada masa 1600 tahun yang lalu. Jalan kuno ini bermula dari Chang An (sekarang Xi An), kemudian melewati jalur Hexi, mencapai Dunhuang, kemudian terurai menjadi tiga arah: rute selatan, rute pusat, dan rute utara. Ketiga arah jalan ini terpencar melewati Daerah Otonomi Uighur Xin Jiang, dan berlanjut sampai ke Pakistan dan India bahkan Roma. Di samping itu, dalam kenyataannya terdapat di Tiongkok barat laut yang memberi sumbangan bagi kemajuan dunia, yaitu jalan sutera selatan, jalan sutera laut.

 

Gagasan jalan sutera abad 21 adalah manifestasi dari keyakinan akan benarnya hidup berdampingan secara damai, mengatasi dan melawan bentrokan‐bentrokan peradaban. Sudah semenjak kemenangan Revolusi Oktober 1917, Lenin menampilkan gagasan ini dengan keyakinan bahwa sosialisme akan dapat mengungguli kapitalisme lewat hidup dan persaingan damai.

 

Karya Jalan Sutera Abad 21 memaparkan pemahaman akan kebenaran gagasan ini, memperkenalkan akar dan kenyataan sejarah yang menunjukkan Marxisme tidaklah punah, tapi berkembang maju sesuai dengan hukum perkembangan sejarah, yaitu didemonstrasikan oleh tampilnya Teori Deng Xiaoping dan direalisasinya cita‐cita membangun sosialisme berciri Tiongkok, tahap permulaan sosialisme.

 

 

Daftar Isi

Pengantar – Suar Suroso –– vii
Kata Sambutan – Chalik Hamid –– xviii

1 Sosialisme Lawan Kapitalisme –– 1
2 Lahirnya Materialisme Historis –– 7
3 Dari Melawan Anarkisme sampai Melawan Revisionisme dalam Gerakan Komunis Internasional –– 21
4 Revolusi Besar Kebudayaan Proletar (RBKP) di Tiongkok untuk Melawan Revisionisme –– 40
5 Perang Dingin, the Policy of Containment Membasmi Komunisme Sejagat –– 84
6 Perang Dingin Melanda Indonesia Membasmi PKI dan Gulingkan Bung Karno –– 95
7 Kapitalisme Negara di Bawah Diktatur Proletariat –– 124
8 Sosialisme atau Imperialisme? –– 130
9 Teori Deng Xiaoping Pengembangan Marxisme –– 140
10 Jalan Sutera Abad 21 Demi Koeksistensi Damai, Menjalin Jaringan Kerja Sama untuk Makmur Bersama –– 179

Daftar Pustaka –– 185
Biodata –– 191 

 

SUAR SUROSO lahir di Padang, Sumatra Barat, 16 Mei 1930. Menyelesaikan SMP dan SMA di Padang dan Bukittinggi. Tahun 1950 kuliah di ITB Bandung jurusan elektroteknik. Semasa Revolusi Bersenjata 1945–1949 menjadi anggota batalyon Teras Lasykar Rakyat Padang Luar Kota dan mendapat tanda penghargaan dari Gubernur Militer, Mr. Mohamad Nasroen.

 

Tahun 1949 Wakil Ketua IPPI Padang; 1951 anggota Consentrasi Mahasiswa Bandung (CMB); 1954 Sekretaris DPD Pemuda Rakyat Jawa Barat, Sekretaris Kongres Rakyat Jawa Barat; 1956 sekretaris DPP Pemuda Rakyat.

 

Sebagai aktivis organisasi pemuda, dipercaya untuk mewakili Indonesia dalam berbagai pertemuan pemuda internasional, antara lain di Beijing, Wina, Kairo, Santiago‐Chile, dan mewakili Pemuda Rakyat dalam Gabungan Pemuda Demokratik Sedunia (GPDS) dalam kapasitas sebagai wakil presiden yang berkantor pusat di Budapest. Dalam kapasitas itu ia menghadiri berbagai kegiatan pemuda di Korea, India, Nepal, Sri Langka, Mesir, Maroko, Guinea, Mali, Senegal, Ghana, Jerman, Rumania, Denmark, Finlandia, Polandia, Albania, dan lain‐lain. Mulai Septembar 1961 melanjutkan studi di Fakultas Fisika Universitas Lomonosov, Moskow.

 

Setelah Peristiwa 30 September 1965, pada bulan Agustus 1966 paspornya dicabut oleh KBRI Moskow; 1967 dinyatakan persona non‐grata oleh Pemerintah Sovyet karena memprotes kerja sama antar pemerintah Uni Sovyet dan pemerintah Indonesia di bawah rezim Soeharto. Sejak Februari 1967 meninggalkan Uni Sovyet dan bersama istri dan dua anaknya bermukim di Tiongkok. Sejumlah sajaknya dimuat dalam Di Negeri Orang, kumpulan sajak para penyair eksil di Eropa Barat.

 

Karya‐karya yang sudah dibukukan: Asal‐Usul Teori Sosialisme, Marxisme sampai Komune Paris; Bung Karno, Marxisme dan Pancasila; ‘Peristiwa Madiun’ PKI Korban Perdana Perang Dingin (Pustaka Pena); PKI Korban Perang Dingin (Era Publisher); Bung Karno Korban Perang Dingin (Hasta Mitra); Kumpulan Puisi Jilid I, Jelita Senandung Hidup (Ultimus, 2008), dan Jilid II, Pelita Keajaiban Dunia (Ultimus, 2010); Marxisme Sebuah Kajian, Dinyatakan Punah Ternyata Kiprah (Hasta Mitra, 2009); Peristiwa Madiun, Realisasi Doktrin Truman di Asia (Hasta Mitra); Akar dan Dalang: Pembantaian Manusia Tak Berdosa dan Penggulingan Bung Karno (Ultimus, 2013); Pikir Itu Pelita Hati – Ilmu Berpikir Mengubah Dunia: dari
Marxisme sampai Teori Deng Xiaoping (Ultimus, 2015). Yang diterjemahkan dan terbit dalam bahasa Tionghoa, Marxisme Sebuah Kajian, Dinyatakan Punah Ternyata Kiprah dengan judul Makesi Zhuyi De Shijian Yu Fazhan oleh Penerbit Contemporary World Publisher, Beijing.

 

Kualitas Buku
Sampul buku Softcover, Doft
Bahan kertas HVS 70gr

Write a review

Please login or register to review

Jalan Sutera Abad 21

  • Brand: Ultimus
  • Product Code: ULT085
  • Availability: 9
  • Rp 65,000


Related Products

Akar dan Dalang

Akar dan Dalang

Pembantaian Manusia Tak Berdosa dan Penggulingan B..

Rp 65,000

Pelita Keajaiban Dunia

Pelita Keajaiban Dunia

Kumpulan Puisi Nurdiana Jilid 2.   Editor: R. Mi..

Rp 30,000

Jelita Senandung Hidup

Jelita Senandung Hidup

Kumpulan Puisi Nurdiana Jilid 1.   Pengantar: As..

Rp 30,000

Pikir Itu Pelita Hati

Pikir Itu Pelita Hati

Ilmu Berpikir Mengubah Dunia: dari Marxisme sampai..

Rp 110,000

G30S dan Kejahatan Negara

G30S dan Kejahatan Negara

Penyunting: Siauw Tiong Djin     Desain sampul: He..

Rp 65,000

Tiongkok yang Kukenal

Tiongkok yang Kukenal

Kronik sekitar usaha mengenal dan memahami Tiongko..

Rp 65,000

Zhou Enlai

Zhou Enlai

Zhou Enlai, potret seorang intelektual revolusione..

Rp 204,000

Tags: sosialisme, Marxisme, Tiongkok, Deng Xiaoping, Xi Jinping, Mao Zedong, Suar Suroso