(62) 812 245 6452

Info Kegiatan

 
 

SEBUAH naskah tentang Sejarah 45 Tahun PKI pada tanggal 4 Mei 1965 disampaikan kepada yang disebut “kawan-kawan” oleh yang dinamakan Lembaga Sejarah PKI, yang ditandatangani oleh yang namanya Busjarie Latif.

Yang dimaksud dengan “kawan-kawan” itu tentunya anggota Lembaga Sejarah PKI, yang konon berjumlah 35 orang. Busjarie Latif, menurut informasi, adalah seorang dari 35 orang itu, dan tentunya seorang atau salah seorang dari anggota yang diserahi tugas menyusun “konsep penulisan” naskah tersebut. Salah satu kalimat yang ditujukan kepada “kawan-kawan” tersebut berbunyi: “Penentuan diskusi selanjutnya akan kami beritakan lebih lanjut.”

Menurut keterangan Sumaun Utomo (91), satu-satunya anggota Lembaga Sejarah PKI yang sedemikian jauh diketahui masih hidup, diskusi tersebut belum pernah terjadi. Alasan tidak diberikan, tapi dapat diduga karena dibutuhkan waktu banyak untuk persiapan, atau karena kesibukan partai waktu itu, ataupun karena mengumpulkan orang sebanyak itu dengan kegiatan kepartaian masing-masing bukanlah hal yang sederhana.

Sementara itu kita ketahui bahwa hari ulang tahun PKI adalah tanggal 23 Mei, jadi naskah itu dimaksud untuk tanggal tersebut. Kenapa sampai tidak terlaksana untuk menyambut hari ulang tahunnya dan akibatnya kita tidak mengenal naskah tersebut dalam bentuk buku, itulah pertanyaan pokok kita.

Sementara itu sekitar enam bulan kemudian, atau tepatnya pada 1 Oktober 1965, meletus Peristiwa Gerakan 30 September (G30S), disusul dengan peristiwa yang kedahsyatannya belum pernah terjadi di Indonesia maupun di dunia, yaitu pembantaian orang komunis dan kiri lainnya di masa damai. Angka korban yang pernah disebut antara 78.000 dan 3,5 juta orang, termasuklah di antaranya para anggota Lembaga Sejarah PKI, dan yang pasti (menurut yang mengetahui) termasuk Busjarie Latif.

Dan korban waktu itu tidak terbatas pada nyawa manusia, karena manusia (-manusia) yang tega membunuh (dan dengan cara bagaimana pula) manusia lain sebanyak itu, dan di masa damai pula, tentu sanggup pula merusak, merobohkan, membakar, menjarah, membinasakan, dan menghancurkan harta benda. Tidak terhitung banyaknya kerugian materiil dan moril dalam peristiwa vandalisme dan pogrom tersebut. Sampai sekarang tidak diketahui misalnya berapa jumlah rumah dan harta benda yang hancur karenanya. Termasuklah juga buku dan yang namanya naskah. Tidak terkecuali naskah Sejarah 45 Tahun PKI yang belum pernah sempat didiskusikan, bahkan dibicarakan pun tidak.

Tapi seperti kata orang Inggris, “nothing new under the sun”, tidak ada yang baru di bawah matahari ini, begitulah yang terjadi dengan naskah ini. Belum lama ini, masih dalam tahun 2013, Sumaun Utomo menerima naskah ini dan dalam penampilannya yang asli—penampilan tahun 1965 yang kekuningan. Dari Tiongkok! Naskah itu tentunya salah satu dari naskah yang disampaikan kepada “kawan-kawan” itu.

Dengan sendirinya lalu timbul pertanyaan: Perlukah membacanya lagi, membicarakannya lagi, dan selanjutnya menerbitkannya? Sesudah orang-orang PKI dan kiri lainnya dibantai, sesudah PKI dilarang, dan ajaran Marxisme—Leninisme diharamkan di negeri ini? Tentu saja jawabannya adalah: perlu. Kenapa tidak?

Bukankah prasasti yang sedemikian jauh merupakan prasasti tertua di Indonesia, yaitu prasasti Kutai dari abad ke-4 yang membicarakan Maharaja Kudungga yang berputra Sang Aswawarman, dan Sang Aswawarman berputra Sang Mulawarman, pun kita baca? Dalam bahasa Sanskerta dan dengan aksara Pallawa pula. Bukan hanya itu. Sekiranya di kemudian hari ditemukan prasasti yang lebih muda atau lebih tua dari itu, itu pun akan kita baca, dalam bahasa apa pun dan dengan aksara apa pun.

Bukankah prasasti Mesir Kuno, yang masih berbentuk aksara gambar atau hieroglyph dan sudah berumur sekitar 4 ribu tahun, pun kita usahakan baca? Apa sebab? Sebab kemampuan baca-tulis itu berarti manusia memasuki zaman sejarah, sedangkan sebelum itu manusia masih hidup di zaman prasejarah. Kalau Mesir Purba itu kita anggap sebagai awal penemuan aksara, maka dapat kita pastikan bahwa baru 4 ribu tahun manusia memasuki zaman sejarah, zaman ilmu dan teknologi, zaman filsafat, dan secara umum zaman pencerahan. Padahal zaman prasejarah itu berkali-kali lebih panjang. Sebagai contoh, Homo Mojokertensis yang pun bukan merupakan jenis manusia tertua di dunia ini umurnya sudah sekitar 600.000 tahun.

Mengenal aksara itu sama dengan menemukan sesuatu yang sangat berharga, dan itu tidak akan dilepaskan lagi oleh umat manusia, sebaliknya terus dikembangkan sampai pada tingkatnya sekarang. Dan menemukan naskah lama itu sama saja dengan menemukan bangunan candi yang mewakili zaman tertentu di masa lalu. Dan menemukan naskah lama buatan orang Indonesia berarti menemukan kebudayaan salah satu cikal bakal orang Indonesia. Menjadi kewajiban bagi orang Indonesia sekarang untuk membacanya. Apalagi ini naskah suatu lembaga besar dengan anggota berjumlah besar yang dibentuk oleh partai besar dan masuk dalam empat besar, yang resminya beranggota 3,5 juta orang, dan secara tak resmi beranggota 4,2 juta orang.

Setiap tulisan orang Indonesia (karena kita orang Indonesia) pantas dan patut kita baca, karena itu harus kita anggap sebagai prestasi orang Indonesia, apa pun dan bagaimanapun bentuknya. Kalau pada suatu kali ada buku atau naskah yang karena kondisi tertentu belum atau tak sempat dibaca oleh orang Indonesia, kita sebagai orang Indonesia harus mulai membacanya.

Khusus mengenai naskah Sejarah 45 Tahun PKI, banyak di dalamnya masalah yang pada zamannya diteorikan dalam rangka membuktikan kebenaran teori itu dengan teori Marxisme—Leninisme yang dialektis dan historis. Sebagai contoh, soal “Partai Komunis yang Marxis dan Leninis”, soal “pergeseran ke kiri”, soal “revolusi dari atas dan dari bawah”, soal “kerja sama dengan Bung Karno”, soal “dwitunggal Soekarno—Hatta”, soal “Metode Kombinasi Tiga Bentuk Perjuangan (MKTBP)”, soal “ABRI”, soal “Revolusi Sosialis”, dan sebagainya. Itu semua soal yang sudah masuk dalam sejarah dan menjadi soal sejarah yang patut diuji kebenaran dan kelancungannya.

Singkat kata, naskah ini perlu dibaca, dibicarakan, dan akhirnya diterbitkan karena alasan prinsip, maupun karena adanya soal-soal yang akan tetap menjadi persoalan orang Indonesia.

Koesalah Soebagyo Toer


Artikel & Tinjauan Buku