(62) 812 245 6452

Info Kegiatan

 
 

Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI adalah hasil riset Lembaga Sejarah PKI yang disusun menjelang ulang tahun ke-45 PKI, dan belum sempat dipublikasi.

Mengumumkan isi manuskrip ini berarti memaparkan kenyataan sejarah, yang di bawah kekuasaan orba telah dijungkirbalikkan, yaitu PKI telah diharamkan, dihitamkan, dihilangkan dari sejarah Indonesia. Manuskrip ini secara terperinci memuat data-data sejarah PKI selama 45 tahun.

Demikian besarnya peranan dan pengaruh PKI dalam perjuangan merebut dan membela kemerdekaan nasional Indonesia, hingga tidak sedikit pakar sejarah, luar dan dalam negeri, menulis buku tentang sejarah PKI. Antara lain terdapat: Justus M. Van der Kroef, University of British Columbia, Canada, 1965, berjudul The Communist Party of Indonesia: Its History, Program and Tactics; Antonie C.A. Dake, berjudul In The Spirit of the Red Banteng: Indonesian Communists between Moscow and Peking, 1959—1965, Mouton & Co, 1973; Donald Hindley, berjudul The Communist Party of Indonesia: 1951—1963, University of California Press, Berkeley and Los Angeles, 1964; Ruth T. McVey, berjudul The Rise of Indonesian Communism, Cornell University Press, Ithaca, New York, 1965; Rex Mortimer, berjudul Indonesian Communism Under Sukarno: Ideology and Politics, 1959—1965, Cornell University Press, Ithaca and London, 1974; Arnold C. Brackman, berjudul Indonesian Communism: A History, Praeger, 1963, dan The Communist Collapse in Indonesia, Asia Pacific Press (Pte) Ltd. Singapore, 1969; Olle Törnquist, berjudul Penghancuran PKI, Komunitas Bambu, Jakarta, 2011.

Terlepas dari sikap para penulis yang aneka ragam, mulai dari yang anti-komunis, sampai pada yang bersikap tak menentang juga tak mendukung, bahkan yang simpati pada perjuangan adil PKI, semuanya ini menunjukkan pengakuan akan eksistensi satu Partai Komunis besar yang ikut berjasa dalam perjuangan pembebasan nasional, anti-kolonialisme, anti-feodalisme, dan anti-fasisme, bercita-citakan mem-bangun sosialisme di Indonesia. Kenyataan ini juga menunjukkan keterbelakangan pikiran rezim orba Soeharto yang semena-mena mengharamkan PKI, melarang PKI dengan tuduhan fitnah menjadi dalang Peristiwa Gerakan Tiga Puluh September 1965.

Melebihi dari isi semua karya tulis tersebut di atas, Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI adalah penulisan hasil riset Lembaga Sejarah PKI, yang memaparkan secara terperinci tindak-tanduk PKI semenjak lahirnya sampai berumur 45 tahun. Manuskrip memaparkan bahwa “dia adalah anak zaman yang akan melahirkan zaman”. Tapi borjuasi internasional yang dikepalai Amerika Serikat tidak rela lahirnya zaman baru, zaman tanpa penghisapan manusia oleh manusia, karena berarti borjuasi masuk liang kuburnya maka jelas-jemelas hal yang demikian tidak berkenan di hati borjuasi. Maka tak ayal lagi dengan sekuat tenaga mengobarkan Perang Dingin, merealisasi the policy of containment—politik pembendungan dan pembasmian komunisme sejagat yang diprakarsai Presiden Truman seusai Perang Dunia kedua dan dilanjutkan oleh para penerusnya.

Bergendang paha menyambut robohnya Tembok Berlin yang disusul oleh kehancuran Uni Republik-Republik Sovyet Sosialis dan negara-negara sosialis Eropa Timur dan Tengah, Presiden George Bush dalam pidato kenegaraannya awal 1992 memproklamirkan “Perang Dingin sudah usai, komunisme sudah mampus, dan kita menang!” Dan pakar teori pembela tangguh kapitalisme, Francis Fukuyama, memproklamirkan “Dunia sudah sampai pada akhir sejarah ... liberalisme sudah mengungguli Marxisme!” Samuel P. Huntington dalam karyanya The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, memaparkan keyakinannya bahwa dengan rontoknya Uni Sovyet, maka telah usailah Perang Dingin dan telah bangkrut komunisme. Di Indonesia telah terjadi pembantaian manusia tak berdosa demi membasmi kekuatan komunis dan pendukung Bung Karno. Memang berhasil menggulingkan Bung Karno dan mendirikan kediktatoran fasis orba Soeharto. Peristiwa ini jelas ikut mengamini pandangan Bush, Fukuyama, dan Huntington.

Tapi betapapun juga, PKI tak bisa dihapus dari sejarah. Kaum komunis dan gerakan komunis tidaklah punah. Marxisme yang menjadi dasar teori dari gerakan komunisme tidaklah daluwarsa. Di belahan timur bumi raya, Tiongkok yang dihuni seperlima penduduk dunia, sedang bangkit mengagumkan dunia, dari negeri miskin dan terbelakang di pertengahan abad XX, kini menjadi negeri kedua terbesar di bidang ekonomi. Ini jelas adalah berkat pimpinan Partai Komunis Tiongkok dengan ideologi pembimbing Marxisme—Leninisme. Kejayaan Tiongkok membangun sosialisme berciri Tiongkok, adalah realisasi reform dan politik terbuka yang diprakarsai Deng Xiaoping semenjak tahun 1978. Kini Teori Deng Xiaoping menjadi ideologi pembimbing PKT, di samping Marxisme—Leninisme, Pikiran Mao Zedong, Pikiran Penting “Tiga Mewakili”, dan Pandangan Ilmiah Tentang Perkembangan. Demikianlah hasil pengembangan Marxisme, hasil usaha PKT yang dengan tangguh men-Tiongkok-kan Marxisme, menerapkan Marxisme sesuai dengan kondisi konkret Tiongkok. Kemenangan Marxisme di Tiongkok memberi harapan bagi kebangkitan kembali gerakan berdasarkan Marxisme di Indonesia.

Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI disusun pada saat jaya-jayanya PKI mendukung politik Presiden Soekarno mendambakan pembangunan sosialisme di Indonesia, dengan politik persatuan nasional berporos nasakom. Oleh karena itu, di dalamnya terdapat rumusan-rumusan semua politik dan gagasan yang dijunjung PKI saat itu. Tak ayal lagi, setelah terjadinya pukulan teror berdarah yang membinasakan nyaris semua pimpinan PKI, memorak-porandakan seluruh organisasi PKI, maka Otokritik Politbiro CC PKI September 1966 telah mengoreksi serentetan kesalahan yang terdapat di bidang ideologi, politik, dan organisasi.

Walaupun dalam Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI terdapat rumusan-rumusan salah secara teori, terutama yang menyangkut bagian Tipikal Revolusi Indonesia, ia tetap punya nilai historis, sebagai bahan pelajaran sejarah. Dengan mengambil yang positif dan membuang yang negatif, maka kita bisa belajar, mengobati penyakit, menyembuhkan si sakit. Rakyat Indonesia dengan bersenjatakan Marxisme, teori perjuangan yang ilmiah, yang dipadukan dengan situasi konkret Indonesia, akan bangun kembali, membangkit batang terendam, membangun Indonesia baru.

Suar Suroso
5 Agustus 2013
 


Artikel & Tinjauan Buku