(62) 812 245 6452

Info Kegiatan

 
 

Oleh: Wahyu Arifin

Nama besar Bung Karno sebagai salah satu Proklamator Kemerdekaan dan presiden pertama Republik Indonesia mempunyai daya tarik yang luar biasa tidak hanya di tanah air, tapi juga di kalangan internasional.

Sejarah kehidupannya yang mencerminkan perjuangan rakyat Indonesia menentang kolonialisme dan imperialisme di bawah pimpinannya begitu memukau.

Hampir semua studi yang menyangkut tentang sejarah Indonesia pasti mengaitkannya dengan sosok Soekarno. Tak terkecuali dengan literatur yang berasal dari Soviet ini. Buku yang diterjemahkan dari karya penulis-penulis soviet, Prof.Dr. Kapitsa dan Dr. Maletin ini merupakan salah satu bukti tentang begitu besarnya nama Soekarno di wilayah yang sekarang bernama Rusia.

Jika ditelusuri, karya ini sebenarnya ditulis sejak tiga puluh tahun yang lalu (1980), di mana Indonesia sedang dikuasai oleh rezim orde baru yang melarang apa pun yang berbau orde lama, Soekarno, dan ajaran-ajarannya. Sedangkan di wilayah Soviet sedang berlangsung kejayaan sosialisme di mana Soekarno pernah begitu tinggi menyanjungnya.

Dari situ, dapat ditarik benang merah bagaimana Soviet begitu memperhatikan dan menempatkan Indonesia dan Soekarno dalam posisi yang cukup terhormat, dikarenakan pada saat Soekarno masih memimpin, hubungan kedua negara ini sangatlah strategis dan dekat. Bahkan salah seorang penulis, Kapitsa M.S. pada waktu itu pernah menduduki jabatan tinggi di Departemen Luar Negeri USSR (Union of Soviet Socialist Republics) sebagai salah seorang deputi yang mengurusi masalah-masalah yang terkait dengan Cina dan Asia Tenggara.

Namun dengan dekatnya kepentingan politis saat itu, bukan berarti buku ini meninggalkan jalur ilmiah dalam menganalisa kehidupan politik Bung Karno. Dengan bersandar pada sumber-sumber yang luas di masanya, para penulis mencoba memberikan analisa dan gambaran tentang sosok Bung Karno khususnya dari segi perjuangan politiknya membebaskan rakyatnya dari penindasan imperialisme yang berkepanjangan.

Buku setebal 384 halaman ini dibagi dalam tiga bab, di mana bab pertama menceritakan tentang kehidupan masa mudanya dan sepak terjang Bung Karno dalam memimpin rakyatnya untuk merebut kemerdekaan. Sedangkan dua bab terakhir menelusuri perjuangan Bung Karno dalam melawan ‘pengeroyokan' dirinya oleh lawan-lawan politiknya dan rezim orde baru yang justru dipimpin oleh para anak didiknya.

Indonesia Menggugat

Soekarno dilahirkan di Jawa, Surabaya pada tanggal 6 Juni 1901 dari keluarga pegawai priyayi Jawa. Ayahnya, R. Soekemi Sosrodiharjo seorang guru muslim di sekolah yang berada di Singaraja, Pulau Bali. Sedangkan ibunya, Idayu Nyoman Rai merupakan perempuan Hindu, putri seorang Brahmana yang bertugas disebuah kuil.

Tidak adanya kefanatikan dalam beragama di keluarganya membuat Soekarno lebih banyak dipengaruhi oleh epos-epos rakyat dan pahlawan dari cerita wayang. Epos-epos itulah yang menamkan keyakinan pada Soekarno kecil tentang kebaikan yang pastinya menang melawan kejahatan.

Pada usia remaja, Soekarno dititipkan di rumah Tjokroaminoto, teman ayahnya untuk bersekolah di sekolah Belanda. Di tempat inilah kesadaran berpolitiknya mulai tumbuh. Di mana dalam rumah Tjokro dirinya bertemu dengan calon-calon bapak bangsa seperti Tan Malaka, Agus Salim, Suwardi Suryoningrat, dan calon pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) yakni, Semaun, Musso dan Alimin.

Setelah menyelesaikan sekolah, Soekarno melanjutkan studinya di Institut Teknik Bandung untuk mengambil gelar insinyur. Di Bandung pulalah Soekarno mengeluarkan tulisannya Nasionalisme, Islamisme, Marxisme yang akhirnya akan menjadi landasan utama kegiatan politiknya. Baginya, ketiga aliran ini jika disatukan akan menjadi ujung tombak untuk melawan kolonial dan imperialisme. Walaupun Soekarno tak akan pernah tahu jika dari salah satu aliran ini akan menjadi titik kelemahan yang menjungkalkannya dari tampuk kekuasaan di kemudian hari.

Puncak dari kegiatan politiknya di Bandung ialah mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang tujuannya mencapai kemerdekaan Indonesia dengan kekuatan dan kemandirian rakyat Indonesia. Baginya, PNI mewakili jiwa perjuangan rakyat kecil yang disebutnya kaum marhaen.

Marhaenisme, sebuah ajaran atau ideologi yang diciptakannya tentang rasa antikolonial dengan mengutamakan persatuan demi terciptanya kemerdekaan dan kemakmuran nasional, merupakan nama yang ditemukannya di Bandung setelah perkenalannya dengan petani di sana.

Perlawanannya yang begitu radikal terhadap kolonialisme Belanda lewat PNI membuat Soekarno dijebloskan ke penjara. Dalam penjara itu, Soekarno membuat pembelaannya yang terkenal yakni Indonesia Menggugat yang kemudian menjadi lembaran cemerlang dalam sejarah politik negeri ini.

Perjuangan Soekarno yang begitu keras pun membuahkan hasil, kemerdekaan Indonesia berhasil diwujudkan walaupun dalam perjalanannya, beberapa literatur sejarah yang mencatat jika kemerdekaan tersebut diberikan oleh Jepang, karena pada masa itu Indonesia telah jatuh di tangan kekuasaan Jepang.

Kesimpulan tentang kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Jepang tak lepas dari kerja sama Soekarno dan Hatta yang mau tak mau harus mendukung Jepang dalam perang Asia Raya melawan Sekutu. Hal ini merupakan taktik dari Soekarno - Hatta yang mencoba mengulur waktu untuk membangun kesiapan rakyatnya dalam merebut kemerdekaan.Dalam konteks ini, penulis begitu memihak Bung Karno yang menegaskan bahwa Pemimpin Besar Revolusi Indonesia ini bukanlah kolaborator.

Meskipun buku ini merupakan biografi politik Soekarno, penulis tak menafikan peran Hatta sebagai sosok pendamping ideal Soekarno yang terus mengkritisi kebijakan yang ditempuh oleh Soekarno. Ini bisa dilihat dari kritik Hatta yang merupakan intelektual lulusan Belanda, di mana di masa menjelang kemerdekaan Hatta mengkritik Soekarno yang begitu menitikberatkan praksis perjuangan yang diambil Soekarno di mana massa menjadi tumpuan Bung Karno.

Bagi Hatta, massa rakyat yang belum tersadarkan bisa menjadi bumerang bagi perjuangan politik kemerdekaan. Hatta lebih menitikberatkan pada pembangunan kesadaran kritis massa rakyat lewat pendidikan sehingga akan lahir Soekarno-Soekarno muda. Tak heran jika ada dualisme PNI, di mana PNI Soekarno berupa partai, dan Pendidikan Nasional Indonesia-nya Hatta.

Soekarno Terjungkal

Setelah Indonesia merdeka, perbedaan pendapat antara Soekarno dengan Hatta semakin menajam. Terlebih saat Soekarno menerapkan politik Demokrasi Terpimpin, yang menjadikan Bung Karno sebagai presiden seumur hidup. Menurut Hatta, keputusan Bung Karno tersebut merupakan pembunuhan terhadap sistem demokrasi Indonesia. Dampak dari itu, Hatta pun mengambil langkah mundur sebagai wakil presiden.

Namun, jika dilihat dari langkah Bung Karno mengambil langkah Demokrasi Terpimpin ialah untuk menyelamatkan Indonesia dari pengaruh demokrasi liberal parlementarian yang tak sesuai dengan karakter Indonesia. Pasalnya, bagi Bung Karno sistem parlementarian merupakan sistem barat liberal yang mengutamakan kepentingan golongan untuk mengejar kepentingan kelompok lewat kekuasaan. Baginya itu tidak sesuai dengan jalannya revolusi menuju Sosialisme Indonesia.

Memang, saat kita melihat konsepsi Bung Karno yang menggunakan persatuan kelas atau aliran politik dalam Nasakom (nasionalis, agama, dan komunis) demi merebut kemerdekaan telah tercapai. Namun, saat kemerdekaan telah dicapai dan revolusi Indonesia tengah berjalan, Bung Karno tak lagi memikirkan kelas politik mana yang harus digandeng dan mana yang harus ditinggalkan.

Sosialisme Indonesia yang dicita-citakan oleh Bung Karno merupakan hasil kompromi dari tiga aliran kelas politik yang sebenarnya bagaikan air dan minyak, saat tujuan kemerdekaan telah tercapai pastinya akan ada pertentangan kelas. Hal ini merupakan konsekuensi logis jika menggunakan teori Marxis yang menggunakan jalan pertentangan kelas.

Sosialisme Indonesia sendiri bagi penulis bukanlah sosialisme ilmiah yang berdasarkan Marxisme-Leninisme, karena bagi penulis komunis hanya ada satu sosialisme, yakni Marxisme-Leninisme. Sedangkan Sosialisme Indonesia ciptaan Bung Karno merupakan paksaan dari persatuan kelas yang mengingkari sosialisme itu sendiri.

Terpelesetnya Bung Karno yang terlalu memaksakan persatuan kelasnya menjadi senjata yang dimainkan oleh militer dalam menjungkalkan Bung Karno dari kursi kepresidenannya. Bagaimana tidak, saat Bung Karno mendengungkan persatuan kelas atau aliran demi revolusi Indonesia, banyak pihak melihat Bung Karno terlalu merapat pada PKI yang mewakili kelas komunis.

Digambarkan pula dalam buku ini selain untuk memutuskan politik liberal, Demokrasi Terpimpin dijadikan alat untuk membungkan kaum kanan (Masyumi, PSI, dan militer kanan) yang menjadi oponen Soekarno. Namun, Bung Karno pun salah dalam prediksinya di mana justru kaum kanan lebih cepat mengakumulasi kekuatannya di mana kekuatan finansial dikuasai oleh militer lewat nasionalisasi perusahaan asing yang berada di bawah kontrol militer.

Selain faktor penguasaan ekonomi oleh dinasti ekonomi milter yang menghasilkan komprador dan kapitalis birokrat (kabir), runtuhnya rezim orde lama juga didorong oleh sikap politik luar negeri Bung Karno yang kelewat radikal, di mana konfrontasi kepada Malaysia terus digalakkan.

Sikap politik luar negeri radikal ini menyalahi politik bebas aktif yang pernah dilancarkan oleh Bung Karno sendiri lewat Gerakan Non Blok. Kedekatan Bung Karno dengan RRT (Republik Rakyat Tiongkok) yang difasilitasi oleh Aidit selaku Ketua CC PKI membuat poros Peking-Jakarta terlihat mendominasi keputusan luar negeri Bung Karno.

Ini juga berkaitan dengan mengendurnya kedekatan Indonesia dengan Soviet, akibat terlalu Peking sentris. Dalam Gerakan Komunis Internasional (GKI) terdapat pertentangan antara PKUS (Partai Komunis Uni Soviet) dengan PKT (Partai Komunis Tiongkok) di mana Indonesia terseret dalam pusaran politiknya.

Mungkin saja Bung Karno terlupa oleh peran besar Uni Soviet dan negara sosialis lain yang pada awal kemerdekaan RI, menjadi pembela pertama dalam bidang diplomatik di sidang PBB mengenai Agresi Militer Belanda yang didukung oleh Sekutu (Inggris dan AS).

Klimaks dari perlawanan kaum kanan terhadap kekuasaan Bung Karno ialah munculnya peristiwa Gerakan 30 September (G30S), yang mana para perwira militer dan sekutunya mempergunakan cara-cara intimidasi dan tekanan secara psikologis kepada Bung Karno. Salah satunya menggunakan demonstrasi melalui mahasiswa (KAMI) dan pemuda (KAPPI) yang merongrong kekuasaan Bung Karno dengan mengangkat isu antikomunis. Isu antikomunis merupakan wacana yang digunakan kaum kanan untuk menghantam kekuasaan Bung Karno dan PKI.

Dengan mengunakan UU Keadaan Bahaya, Surat Perintah Sebelas Maret dan kekuatan mahasiswa yang diboncengi militer kanan yang dikomandoi Jenderal Soeharto dan Jenderal Nasution, satu per satu perisai-perisai yang melindungi Bung Karno dipereteli.

Orang-orang yang loyal terhadap Bung Karno seperti Soebandrio dan Panglima Angkatan Udara, Omar Dani diciduk dengan tuduhan ikut terlibat G30S. PKI pun didaulat menjadi partai terlarang yang mendalangi gerakan makar tersebut.

Ujung dari coup de etat yang dimotori oleh militer kanan tersebut adalah lengsernya Bung Karno dari tahta kepresidenannya. Tak hanya itu, pasca lengser dari kursi presiden hak-hak politik Bung Karno dicabut. Bung Karno, sosok yang haus akan gemuruh dukungan massa rakyat melalui orasi-orasinya pun dijauhkan dari rakyatnya.

Memisahkan Bung Karno dari massa rakyat bagaikan mencabut nyawa dari raganya. Sebagai seorang orator ulung, ia mempunyai kebutuhan hakiki untuk berorasi di hadapan massa, sedangkan aktivitasnya itu sudah tak diizinkan lagi oleh penguasa orde baru. Itulah siksaan yang paling berat baginya.

Sebagai seorang bapak bangsa yang mengabdikan hidupnya untuk kemerdekaan dan kemakmuran bangsanya, pengucilan dirinya dari dunia luar oleh penguasa orde baru merupakan kepedihan yang tak terkira bagi Soekarno. Dirinya pun tak habis pikir mengapa penguasa baru bisa begitu kejam padanya setelah dirinya hanya menjadi warga negara biasa. Bahkan bisa dibilang warga kelas dua.

Inilah kemelut sejarah yang menelan kehidupan presiden pertama bangsa ini. Namun, seperti yang sudah ditulis dalam buku ini, tak ada yang bisa menghapus jasa besarnya dalam mengantarkan bangsa ini menjalani perjuangan suci melawan kolonialisme dan imperialisme.

Dan sejarah pun mencatat, hanya bangsa yang besar yang mampu melahirkan putra terbaik seperti Bung Karno yang menduduki tempat terhormat dalam sejarah nasional dan dunia. Soekarno menjadi milik negerinya, baik tempo doeloe, sekarang, dan sampai kapan pun.

Karya penulis Soviet ini merupakan biografi Bung Karno terbitan negeri sosialis yang pertama kali muncul di Indonesia dalam terjemahan bahasa Indonesia. Minimnya penguasaan bahasa dan situasi politis merupakan kendala utama yang melatarbelakangi kurangnya pustaka tentang sejarah Indonesia yang berasal dari negeri tirai besi tersebut. Pastinya buku ini bisa menjadi bahan perbandingan dengan karya-karya sejenis yang berasal dari dunia barat.

*Pustakawan di Komunitas Baca Pustaka Transformasi, Universitas Negeri Jakarta

Sumber: Kompasiana - 23 April 2010