(62) 812 245 6452

Info Kegiatan

 
 

Oleh: Dr. Nani Nurrachman Sutojo

HIDUP pada dasarnya merupakan kontinuitas dari kenyataan-kenyataan yang terus bergerak dalam waktu.

 

Hal ini sebenarnya merujuk kepada aspek kesejarahan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai komunitas, bahkan bangsa sekalipun. Di dalamnya terpendam aspek keragaman situasi dan juga perpaduan sisi kecemerlangan dan kegelapan hidup itu sendiri.

Dalam menjalani hidupnya, manusia tidak selamanya berhasil dan bebas merealisasi kemungkinan-kemungkinan dirinya. Manusia ternyata tidak bebas dari kondisi-kondisi biologis, psikologis, dan sosial politiknya. Kebebasan manusia sebagai makhluk yang terbatas adalah kebebasan di dalam batas-batas, meski kebebasan termasuk kebebasan berkeinginan adalah ciri yang unik dari keberadaan dan pengalaman hidup manusia itu sendiri.

Oleh karenanya, manusia tidak selalu bisa mencapai perkembangan yang diinginkannya. Tetapi manusia bebas mengambil sikap terhadap kondisi-kondisi tersebut. Ia tidak hanya sanggup mengambil sikap terhadap dunia, tetapi juga sanggup dan bebas mengambil sikap terhadap dirinya sendiri, menerima atau menolak dirinya. Manusia adalah sebagaimana ia menjadikan dirinya sendiri. Manusia bertanggung jawab sepenuhnya, ketika dikatakan bahwa manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Bahkan dalam keadaan serba berkekurangan, penuh penderitaan dan kesengsaraan batin, manusia tetap bisa bebas menemukan makna, tepatnya ketika mengalami nasib buruk (meaning in suffering). Penderitaan bisa memiliki peran menjaga manusia dari sikap apatis agar tidak terjerumus ke dalam kematian psikis.

Memang manusia adalah pelaku sejarah dan pengalaman hidupnya. Pengalaman hidup orang banyak dan perubahan sosial politik masyarakat yang terjadi selama 50 tahun lebih sejak terjadinya tragedi kemanusiaan 1965 dalam sejarah bangsa berkelindan satu sama lain. Hal ini dapat dibaca melalui berbagai tulisan yang berasal dari para penyintas dalam buku ini. Bagaimana masa lalu dapat diingat kembali dalam suatu modus baru dengan sudut pandang masa kini. Sebagai narasi personal ia tidaklah bisa lepas dari memori sosial tentang tragedi tersebut.

Berbagai cerita dalam bentuk tuturan dalam buku ini merupakan gambaran pengalaman banyak pribadi yang sebenarnya dan selayaknya, dapat disumbangkan kepada pemahaman sejarah atau masa lalu bangsa kita sendiri yang gelap dan belum tertuntaskan. Bagaimana para penulis sebagai penyintas bertutur menggambarkan cara berada dan menghayati hidupnya dengan menghubungkan masa lalu dengan masa kini dan membukakannya ke masa depan. Di dalam tulisan-tulisan inilah tersirat berbagai macam makna: kesaksian—penyebaran nilai—penerusan realitas.

Berbagai tulisan yang berasal dari berbagai pelosok tanah air dan bersumber pada pengalaman kelam bersama akan membentuk ingatan sosial/kolektif. Terbentuklah ruang-ruang publik yang diisi dengan pertukaran dan membagi bersama ingatan ‘sejarah’ personal berbagai pihak yang terlibat dalam peristiwa tragedi 1965 tersebut. Tuturan-tuturan ini tidak berpretensi sebagai kebenaran yang satu dan baku sebagaimana ditulis oleh ‘pemenang’. Apa yang semula menjadi ruang psikologis yang memiliki nilai terapeutik kemudian bisa berkembang menjadi ruang publik yang bersifat sosial politik. Di sinilah kesadaran tentang kenyataan hidup sebagai satu bangsa yang memiliki masa lalu yang sama diharapkan tercerahkan. Sejarah yang beberapa waktu sempat menjadi bahan celotehan dalam konteks sebutan history dan/atau herstory kini tampil menjadi shared-story. Sejarah dengan demikian dapat ditulis sebagai satu keterpaduan antara ingatan dan suara dari yang mengalaminya.

Beberapa tahun yang silam saya berpikir bahwa kilas balik sejarah bangsa Indonesia telah menghasilkan generasi pasca trauma yang tidak dapat mewujudkan kembali tragedi sebagai aset, karena tragedi disimpan sebagai memoria passionis dalam ingatan kolektif masyarakat: apa yang sebenarnya terjadi dengan diri kita? Akan terbawa ke manakah kita? Pertanyaan-pertanyaan ini memiliki sisi personal dan sosial sekaligus yang menghantui saya beberapa lama. Kini, dengan membaca tuturan para penulis penyintas yang ada dalam buku ini, terjawablah sudah kegalauan batin saya: trauma itu kini telah menjadi aset yang berharga. Berharga bagi kehidupan pribadi pembacanya dan berharga bagi kehidupan bangsa ini.*

Jakarta, akhir Agustus 2016

 

* Dr. Nani Nurrachman lahir di Yogyakarta tahun 1950. Dosen senior di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta. Di luar kegiatan akademik, ia aktif sebagai narasumber dalam berbagai seminar dan lokakarya tentang trauma sosial, pendidikan HAM, dan upaya rekonsiliasi tragedi 1965.