(62) 812 245 6452

Info Kegiatan

 
 

Oleh: Bonnie Setiawan

Wangi, apa kamu ingin seperti bapakmu, ingin dipenjara. Bapakmu itu PKI makanya dipenjara. Kamu anaknya PKI, apa kamu ingin dipenjara juga seperti bapakmu, masih kecil sudah suka berantem. – Wangi Indria

Adikku yang nomor empat, waktu itu kelas 3 SD di Taman Siswa. Suatu ketika dia disuruh ke depan kelas oleh gurunya. Diumumkan sebagai anaknya orang PKI. "Kita tidak boleh berteman dengan dia," gurunya yang bilang begitu. – Tuti Martoyo


CUPLIKAN kalimat-kalimat di atas, adalah gambaran nasib anak-anak tapol 65 di sekolah, sebagaimana penuturan-penuturan yang ada dalam buku ini. Pernyataan guru-guru tersebut mencerminkan bagaimana hebatnya rezim orde baru (orba) mendiskreditkan dan melakukan persekusi terhadap PKI dan keturunannya, bahkan mengenakan ancaman pemenjaraan kepada anak-anaknya karena urusan yang tidak ada hubungannya dengan masalah politik. Ini adalah kenyataan dari bagaimana rezim fasis orba telah memenjarakan tidak saja orang-orang yang dianggap PKI, melainkan juga keluarganya dalam sebuah penjara besar Indonesia. Tampaknya perlakuan dan ancaman sedemikian “gila”nya ini masih terasa hingga kini di zaman reformasi.

Membaca kisah-kisah anak tapol adalah membaca suka-duka kehidupan mereka karena badai politik 65. Terutama duka yang dialami mereka selama masa kanak-kanak hingga beranjak dewasa sampai kembali bertemu orang tuanya, ayah atau ibunya yang dibebaskan, bila mereka masih hidup. Dalam kasus di mana mereka masih sangat kecil atau belum lahir ketika tahun 65 tersebut, maka perasaan mereka selalu bertanya-tanya tentang siapa orang tuanya, mengapa mereka bernasib malang seperti ini, apa itu PKI, dan lain-lain pertanyaan yang menggantung di kepala mereka. Apalagi bila sikap masyarakat kepadanya seringkali negatif. Juga kekhawatiran dalam menjalin hubungan asmara karena nantinya akan mengarah pada pertanyaan keturunan siapa ataupun kehidupannya akan dipersulit oleh yang berwenang. Semua ini adalah duka yang menyatu dalam kehidupan anak-anak tapol 65.

Kebanyakan realita yang dialami anak-anak tapol 65 adalah keadaan keluarga yang tercerai-berai, hanya hidup dengan ibunya saja atau kakek-neneknya atau saudara-saudara orang tuanya, dipisahkan dari kakak dan adik kandungnya, serta berbagai kondisi pahit lainnya. Akibatnya anak-anak ini mempunyai derita psikologis yang bermacam-macam, serta harus menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi serta orang-orang yang berbeda-beda. Mereka lalu menjadi pendiam, introvert, rasa rendah diri, dan sebagainya.

Menariknya, kebanyakan dari anak-anak tapol 65 dalam kisah-kisah ini selalu mempunyai ayah dan ibu yang merupakan teladan di masyarakatnya atau mempunyai orang tua dengan sifat sosial yang tinggi atau dari keluarga yang dihormati atau mempunyai kedudukan penting di masyarakat. Karenanya, di mata anak-anak, orangtua mereka bukanlah sebagaimana gambaran pemerintah orba tentang orang tapol 65 yang jahat dan kejam. Pun anak-anak yang mengenal teman-teman ayah atau ibunya yang tapol melihat sendiri bahwa mereka adalah sekumpulan orang-orang yang baik hati dan idealis, yang selalu memikirkan kemaslahatan masyarakat lebih dulu ketimbang dirinya. Karena itu propaganda orba yang menjelek-jelekkan ayah atau ibunya tidak akan mempan pada dirinya, karena yang mereka lihat adalah berkebalikan dengan propaganda-propaganda palsu tersebut. Bahkan lalu timbul rasa bangga mereka pada kebersihan dan kejujuran orang tua mereka.

Membaca duka anak-anak tapol selalu membuat mataku berkaca-kaca, dadaku sesak serta hidungku meleleh mengiringi tangis terpendam. Karena duka mereka semua adalah sama dengan dukaku juga. Duka yang menemani hidup sejak kecil hingga dewasa, bahkan hingga kini. Karena tidak adanya penyelesaian terhadap masalah 65, maka hingga kini anak-anak eks-Tapol 65 juga terus-terusan mengalami rasa terteror setiap kali ada riuh-rendah di masyarakat mengenai PKI dan komunisme.

Sebagaimana dikatakan oleh IGP Wira, “saya berpendapat bahwa keluarga tapol seperti orang tuanya, istrinya/suaminya, dan anak-anak jauh lebih menderita dari tapol itu sendiri, karena mereka yang tak bersalah itu harus menanggung tekanan dan deraan lebih luas. Penjara mereka adalah penjara sosial, pengadilan masyarakat sering kali jauh lebih kejam.” Demikianlah, pernyataan ini mewakili nasib dan penderitaan sebagian besar anak-anak tapol. Mereka hidup dalam teror sosial dan politik.

Teror sejak kecil telah dirasakan terutama ketika mereka harus menghadapi cercaan sebagai anak orang komunis atau anaknya PKI. Karena PKI dan komunis selalu digambarkan sebagai kejam, jahat, setan, dan segala hal yang jelek lainnya, maka anak-anak tersebut menjadi sangat tersiksa batinnya. Serangan sosial dilakukan oleh lingkungan tempat mereka tinggal yang membuat penderitaan batin semakin kuat. Ini adalah dasar dari trauma yang lalu banyak menghinggapi mereka.

Teror juga ditemui karena adanya politik bersih lingkungan, yaitu bersih dari hubungan darah atau kerabat dengan orang-orang PKI. Ini membuat lingkungan baru mereka juga ketakutan, sehingga harus mengganti identitas, nama, dan menyembunyikan segala yang terkait dengan hubungan darah tersebut. Politik orba juga menjalankan diskriminasi atas anak-anak tapol. Ketika mereka akan bekerja, maka harus memberikan “surat bebas G30S” yang menjelaskan tidak adanya kaitan dirinya dengan para tapol 65.

Sementara itu Kartu Keluarga dari keluarga Tapol diberi tanda ET (Eks-Tapol), yang menyulitkan mereka untuk mengurus surat-surat. Bahkan pemerintah orba juga menjalankan operasi screening terhadap para pegawai pemerintah. Bila ditemukan fakta adanya keterkaitan mereka dengan para tapol dalam artian hubungan darah, maka mereka akan segera dikeluarkan atau diberhentikan.

Masalah lain adalah setelah orang tua bebas. Di mana para orang tua anak-anak ini (para eks-tapol) menghadapi masalah penyesuaian diri setelah keluar dari penjara. Mereka bukan saja harus menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitar, tetapi juga dengan keluarganya sendiri, istri atau suaminya sendiri, dan juga anak-anak mereka sendiri. Apalagi bila anak-anaknya tidak memahami apa yang terjadi pada kejadian 1965 tersebut. Anak-anak karena ketidakmengertiannya kadangkala menyalahkan orang tuanya, karena akibat ulah orang tuanya, maka mereka menjadi menderita.

Ketika bebas pun, para eks-tapol segera menghadapi masalah ekonomi, yaitu tiadanya pekerjaan dan tidak punya apa-apa. Perjuangan hidup untuk menghidupi keluarganya adalah soal yang harus segera ditanggulangi para eks-tapol. Karena itu kemiskinan dan keluar dari kemiskinan adalah cerita-cerita di masa-masa awal mereka bebas. Apalagi bila mereka tidak mempunyai keahlian atau keterampilan tertentu, maka mereka harus bekerja apa saja untuk bisa hidup, harus bisa melakukan apa saja untuk bisa survive.

Akan tetapi, apa pun derita-derita yang dialami anak-anak ini beserta derita ayah dan ibunya, justru membuat mereka menjadi orang-orang petarung hidup yang sejati. Hidup yang keras, penuh derita dan air mata justru membentuk mereka menjadi orang-orang yang pantang menyerah dan terus meraih cita. Dan kisah-kisah mereka pada akhirnya membuahkan banyak kesuksesan dan kebahagiaan, karena lepas dari derita dan kemiskinan, dan muncul sebagai pemenang kehidupan.

Kiranya penting mencatat apa yang disampaikan Dhian, generasi ketiga keluarga 65, yaitu cucu tapol 65, sebagai berikut:

“Karena itu, sekarang adalah waktunya bagi generasi eks-tapol ataupun penerus dari anggota kelompok lain yang menjadi korban pelanggaran kemanusiaan oleh pemerintah orde baru seperti Gerwani, BTI, dan lain-lain, untuk mencari tahu apa yang telah terjadi pada orang tua, kakek, nenek, paman, bibi, ataupun orang terdekat lain yang sempat merasakan menjadi pelaku dan saksi sejarah pada masa itu.

Usaha pencarian tahu itu adalah semata untuk mendukung upaya pencarian kebenaran, membagikan kisah tersebut, dan memberikan pemahaman bagi diri sendiri dan lingkungan masyarakat bahwa ajaran yang selama ini dikoar-koarkan melalui berbagai media selama tiga puluh dua tahun oleh pemerintah orde baru berhasil membutakan kemanusiaan, menyebarkan kebencian terhadap sesama dan menyebabkan perang saudara.”

Pengungkapan kebenaran adalah tuntutan utama anak-anak korban, keluarga korban 65. Mengingat duka dan deritanya kehidupan yang telah mereka lalui. Mereka menjadi terhukum tanpa paham apa kesalahannya, mereka menjadi terhukum tanpa melalui pengadilan, dan mereka menjadi terhukum dalam jangka waktu lama dan dengan perlakuan yang tidak manusiawi. Pertanyaan dasar para korban 65, “apa salah kami?”

Karena itu pemerintah Indonesia tidak bisa lari dari kewajiban untuk menjelaskan sebenar-benarnya mengenai masalah 1965, di mana jutaan orang telah menjadi korban pembantaian ataupun pemenjaraan di luar rasa peri-kemanusiaan, dan setelahnya mengalami diskriminasi sosial dan politik secara terang-terangan. Seperti kata Ieda Fitriani, “negara masih punya hutang untuk memberikan kebenaran tentang kelam ’65.”

***

MEMBACA kisah-kisah anak-anak tapol memberikan rasa sedih luar biasa, tetapi juga rasa penguatan sesudahnya. Bahwa badai kehidupan di tahun 1965 telah membawanya dalam situasi dan kondisi yang tak terperikan, masa untuk bertahan dan lepas dari segala kesulitan hidup, serta terus melangkah dalam beban-beban psikologis yang pahit, hingga harus menyesuaikan diri dengan orang tuanya yang baru bebas, dan menata kembali segala suasana batin dan psikologis yang rumit, untuk terus bertahan dalam teror hidup orba dan sesudahnya, hingga sekarang menanti tak kunjung padam akan penyelesaian masalah 1965 dari negara.

Menata diri dan membangun kesejatian diri untuk tetap kuat dalam melampaui dan menjalani kehidupan, itulah tema kehidupan anak-anak eks-tapol 65. Kisah-kisah ini merupakan dokumentasi terbaik dalam mengenal manusia dan masyarakatnya di tengah-tengah pergolakan dan badai politik, yang tak kunjung selesai hingga kini. Kami, anak-anak tapol 65, mengharapkan pemerintah segera menyelesaikan secara tuntas masalah 65 ini, agar tidak lagi membebani kehidupan anak-cucu dan generasi mendatang. Bukan saja beban yang dirasakan oleh anak-anak tapol 65, tapi juga beban yang dirasakan oleh seluruh masyarakat karena terus-menerus terombang-ambing dalam riuh-rendah-gaduh tak berkesudahan mengenai tragedi 65 yang telah memakan korban jutaan manusia.

Peradaban dibangun oleh kebersatuan dan kebersamaan masyarakat dalam menata negerinya agar menjadi masyarakat yang cerdas-sehat-berkeadilan dan demokratis. Peradaban tidak bisa dibangun dalam pengkotak-kotakan dan dipeliharanya kebencian tak masuk akal terhadap kelompok lain, apalagi dibumbui oleh kebencian-kebencian yang tak bernalar, kebencian yang dibangun oleh motif-motif politik yang dangkal demi kekuasaan sesaat. Indonesia akan terus mengalami ketidaksehatan jiwa dan ketidakwarasan nalar bila terus-menerus memelihara masalah 65, menjadikan bangsa ini bangsa degil dan picik serta jauh dari rasa kebangsaan dan kemanusiaan.

Masalah 65 terutama sekali adalah masalah kemanusiaan. Mengembalikan rasa kemanusiaan pada setiap orang, sehingga orang dapat kembali welas-asih, saling mengasihi dan menyayangi, menjauhkan dari segala tebar kebencian dan prasangka, serta hidup dalam hormat-menghormati satu sama lain, meski berbeda pandangan dan ideologi. Inilah tugas membangun peradaban. Dalam keadaan Indonesia sekarang, tugas ini semakin sulit, karena dasar-dasarnya dan fondasinya tidak ada, sengaja dipisahkan dari awal untuk tidak saling menyatu. Inilah masalah 65, menjadi sandungan dan hambatan dalam hidup kebangsaan kita.

Saatnya pemerintah menyadari pentingnya penuntasan masalah 65 dengan segera memberikan pemulihan hak-hak dasar mereka, tapol dan keluarganya, untuk kembali menjadi manusia dan warga negara yang bebas merdeka; bebas dari rasa takut dan kecemasan; bebas dari tuduhan dan fitnah komunis serta PKI; dan mendapatkan kembali semua hak-hak keperdataan yang sebelumnya telah dirampas dan belum dikembalikan hingga sekarang dalam banyak hal. Hanya bangsa besar yang mampu melakukannya. Ketika itu bisa dilakukan, maka barulah bangsa ini bisa menjadi bangsa yang maju yang beradab.

Jakarta, September 2016

 

* Penulis adalah anak korban 65 juga. Lahir tahun 1961 dari orang tua yang dipenjara sejak 1965 hingga 1978/1979. Beruntung dapat lulus S1 dari FISIP-UI tahun 1988 dan bekerja sepanjang hidupnya di Organisasi Non-Pemerintah (Ornop). Kini menjadi Koordinator di FORUM 65, sebuah wadah nasional untuk komunikasi dan koordinasi dari berbagai organisasi korban/penyintas 65.