(62) 812 245 6452

Info Kegiatan

 
 

Oleh: John Roosa

PERKENALAN saya dengan tulisan-tulisan Siauw Giok Tjhan terjadi pada tahun 2000, ketika saya memperoleh fotokopi yang sudah menguning dari beberapa tulisannya yang belum pernah diterbitkan.

Pada waktu itu, saya sedang duduk di antara rak-rak buku di kamar kerja Oey Hay Djoen, di rumahnya, Jakarta Selatan. Buku-buku tersebut telah diselamatkan dengan penuh keberanian oleh istrinya, ketika ia sendiri meringkuk dalam tahanan sebagai seorang tahanan politik selama 14 tahun.

Sambil duduk di meja, di mana ia bekerja keras untuk menyelesaikan terjemahan tulisan-tulisan Marx dan para Marxis, ia memberikan tulisan-tulisan Siauw tersebut tanpa menyampaikan pendapatnya tentang sosok Bung Siauw maupun tulisan-tulisannya.

Pada waktu itu, saya hanya mengetahui Bung Siauw sebagai Ketua Baperki. Selain itu saya tidak banyak mengenalnya. Saya pun tahu bahwa Oom Oey, demikian saya memanggilnya, cenderung menganjurkan orang Tionghoa Indonesia untuk masuk ke dalam organisasi-organisasi nasional, tidak masuk ke dalam organisasi yang bersandar atas etnisitas seperti Baperki. Akan tetapi saya tahu bahwa Oom Oey sangat menghormati Bung Siauw dan mengerti alasan sejarah pembentukan Baperki. Ia sangat antusias menerbitkan tulisan-tulisan Bung Siauw dan tulisan-tulisan tentangnya.

Beberapa saat kemudian, di rumah saya yang terletak di Jakarta Timur, saya membaca esai-esai Bung Siauw tersebut. Saya kagumi kejelasan penuturannya. Esai-esai tersebut merupakan sebuah teladan karena merefleksikan pemikiran yang analitis, bahkan berani menyentuh topik-topik sensitif, seperti mengapa PKI tidak melakukan perlawanan terhadap serangan dan penghancuran yang dilakukan oleh Angkatan Darat.

Banyak orang tentunya tidak akan mengira bahwa seorang korban kekerasan seperti Bung Siauw, dipenjarakan selama 12 tahun sebagai seorang tahanan politik, telah mengalami kelaparan dan menyaksikan para kawan setahanan meninggal di sekitarnya, masih memiliki kemampuan untuk menulis sebuah analisa mendalam.

Dalam mempersembahkan sebuah argumentasi, ia nyatakan sumber bahan yang ia gunakan dan dengan penuh kerendahan hati ia tandaskan, untuk beberapa butir pandangan, ia memang tidak memiliki informasi yang lengkap. Tidak ada pengakuan yang dibuat-buat, tidak ada penuturan yang tidak berdasar bukti-bukti kuat dan tidak ada upaya menjelek-jelekkan orang lain. Orang yang membaca tulisan-tulisan ini akan memperoleh kesan bahwa Bung Siauw adalah seorang pengamat, bukan seorang korban. Ia tidak pernah menggambarkan penderitaannya sendiri.

Salah satu esai ditulis tentang Gerakan 30 September (G30S). Ia menggambarkannya sebagai: “catatan-catatan berdasarkan ingatan apa yang telah didengar, diperbincangkan di dalam tahanan tanpa ada maksud untuk menyinggung perasaan siapa pun dan diajukan secara tulus dan sejujur-jujurnya.” Dari tulisan ini, saya mengerti mengapa ia sangat dihormati di dalam gerakan progresif dan sangat disegani oleh para tokoh militer kanan.

Ia benar-benar jujur. Ia dengan sangat tulus dan rendah hati mendengarkan apa yang para tapol tuturkan mengenai G30S dan setelah itu dengan kritis mengevaluasi penuturan mereka. Ia pun sangat rajin. Ia kumpulkan begitu banyak informasi yang berbeda tentang berbagai aspek yang berkaitan dengan G30S. Saya belum pernah menemukan mantan tapol lain yang pernah mengeluarkan sebuah analisa tentang kejadian 30 September sedemikian komprehensif, teliti dan lengkap.

Dari kesemuanya ini saya kemudian mengerti kenapa ia dipilih sebagai Ketua Baperki pada tahun 50-an. Ia sangat terbuka dan mampu berdialog secara tenang dan mantap dengan orang-orang yang memiliki orientasi politik yang berbeda dengannya tanpa mengkompromikan pendapat-pendapatnya.

Dalam esai ini, saya akan memusatkan perhatian ke tulisan Bung Siauw pada tahun 1978 tentang G30S, dan tentang tuntutannya yang ditulis pada tahun 1979, membawa Soeharto ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan semua kejahatannya. Keduanya ditulis setelah ia bebas dari tahanan dan ketika ia berobat di Negeri Belanda.

Di dalam esai pertama, Bung Siauw menyatakan bahwa ia ingin menyebarluaskan informasi yang ia peroleh dari tahanan tentang hancurnya PKI. Ia ingin membantu para pelarian politik di Eropa dan para kawan sepengorbanan di Indonesia, untuk mengerti, apa yang menyebabkan Angkatan Darat yang dipimpin oleh Soeharto menjadikan mereka—yang tidak tahu-menahu tentang G30S—kelompok orang yang bersalah.

Di esai kedua, ia menulis sebuah tuntutan disertai informasi dan argumentasi untuk membawa Soeharto ke pengadilan, bilamana situasi politik memungkinkan, baik di pengadilan Indonesia maupun pengadilan internasional.

Yang paling menarik perhatian saya dari tulisan-tulisan ini adalah komitmen Bung Siauw terhadap rule of law. Tulisannya bersandar atas Indonesia sebagai negara hukum. Sekilas, hal ini tidak memerlukan sorotan apa-apa. Penegakan hukum sering dianggap sebagai topik yang membosankan dan kuno, sesuatu yang sebenarnya lebih baik dibahas oleh orang-orang konservatif yang berhubungan dengan kegiatan hukum dan ketertiban.

Akan tetapi dalam konteks Indonesia di mana penegakan hukum merupakan pengecualian, ia adalah sebuah masalah yang penting dan mendesak. Sejak kemerdekaan dan Republik Indonesia diterima sebagai negara merdeka oleh dunia internasional pada tahun 1949, sebagian besar masanya, 1959 hingga 1998, Indonesia berada di bawah kekuasaan berbagai pemerintah yang melanggar prinsip rule of law.

Pada umumnya orang-orang komunis dan anti-komunis tidak terlalu memperhatikan masalah penegakan hukum. Tulisan-tulisan tentang tragedi 1965—1966, contohnya, ditekankan sebagai pertikaian politik, seolah-olah tragedi itu adalah semata-mata akibat pertikaian antara PKI dan Angkatan Darat. Padahal, sementara pengamat menyatakan bahwa yang berlaku pada masa itu adalah hukum rimba.

Kiranya sulit di masa kini untuk menghargai cita-cita para nasionalis sebelum “kemunduran demokrasi konstitusional” (seperti yang dinyatakan oleh Herb Feith) pada akhir tahun 1950-an. Tulisan-tulisan Bung Siauw menyegarkan ingatan kita tentang cita-cita ini. Bung Siauw mengingatkan kita tentang apa yang diperjuangkan oleh para nasionalis yang teguh berprinsip dalam melawan kolonialisme. Para pejuang yang ingin membangun sebuah negara hukum yang berpijak di atas HAM—hak asasi manusia.

Bung Siauw menjadi anggota parlemen selama hampir 20 tahun (sejak KNIP pada tahun 1946 hingga DPR-GR pada tahun 1965) dan anggota Konstituante. Ia sangat mengerti Undang-Undang Indonesia dan menyadari betapa pentingnya Indonesia memiliki kerangka hukum yang tepat.

Untuk bisa menghargai nilai tulisan-tulisan Bung Siauw, kita harus membandingkannya dengan tulisan-tulisan beberapa tokoh PKI yang berhasil menyelamatkan dirinya, tidak lama setelah pembantaian massal pada tahun 1965—1966. Tulisan-tulisan ini lebih banyak berbentuk perdebatan abstrak antar kelompok tentang teori Marxisme dan Leninisme yang oleh mereka dijadikan dogma. HAM dan penegakan hukum tidak ditonjolkan sebagai bahan perdebatan. Yang berkiblat ke Soviet Uni menyalahkan pimpinan PKI yang dianggapnya terlalu mengikuti Maoisme; sebaliknya, yang berkiblat ke RRT menyalahkan pimpinan tidak cukup disiplin mengikuti Maoisme. Timbullah perdebatan antara revisionisme modern (remo) dan advonturisme, meminjam istilah-istilah yang dipergunakan untuk mencela satu dengan yang lain pada waktu itu. Mungkin hanya satu hal yang bisa disimpulkan dari tulisan-tulisan para tokoh PKI itu, yaitu terdapat tidak sedikit orang dogmatis di dalam tubuh PKI.

PKI tidak menganggap penegakan hukum sebagai sesuatu yang mahapenting. Memang semua partai komunis yang dibentuk setelah revolusi di Rusia pada tahun 1917 menganggap penegakan hukum sebagai penekanan borjuis, tidak perlu didukung oleh orang-orang revolusioner. Hukum di bawah politik sedangkan politik adalah dasar peperangan. Orang-orang komunis harus menjadi pendekar-pendekar dalam peperangan kelas, mengambil alih kekuasaan negara dan kemudian menciptakan undang-undang baru setelah kekuasaan diraih. Negara Soviet adalah bentuk negara yang diidamkan, di mana partai komunis sepenuhnya berkuasa dan hukum atau undang-undang diciptakan oleh partai komunis. Penegakan hukum di luar partai komunis tidak diizinkan berfungsi.

Beberapa tokoh yang meninggalkan gerakan komunis internasional seperti sejarawan E.P. Thomson, keluar dari Partai Komunis Inggris setelah Soviet menyerang Hongaria pada tahun 1956, menyimpulkan bahwa menganggap hukum sebagai alat penindasan kelas adalah sebuah kesalahan.

Thompson yang tetap menjadi seorang Marxis, mengakhiri bukunya Whigs and Hunters (1975) dengan sebuah bab, 11 halaman, yang ia namakan “The Rule of Law” (Negara Hukum). Kata-kata ternama dari bab itu adalah: “Saya hanya ingin menekankan sebuah hal yang paling penting, yang telah diabaikan oleh para Marxis modern, bahwa ada perbedaan antara kekuasaan sewenang-wenang dan penegakan hukum. Kita harus membongkar penipuan dan ketidak-adilan yang terselubung oleh undang-undang. Penegakan hukum yang membatasi kekuasaan dan melindungi rakyat dari kekuasaan sewenang-wenang, menurut saya, tanpa pengecualian, adalah hal yang baik.”

Thompson melihat bahwa Undang-Undang Inggris merangkul berbagai aspek perjuangan sosial yang berlangsung berabad-abad dan yang mengandung kemenangan rakyat jelata. Pembatasan kekuasaan pemerintah dibutuhkan oleh setiap negara, termasuk negara-negara yang terbentuk sebagai hasil revolusi, walaupun negara itu, seperti yang Lenin definisikan dalam bukunya State and Revolution (1917), merupakan jembatan sementara dalam menuju masyarakat tidak bernegara.

Bung Siauw menyatakan: “pejuang2 kemerdekaan RI, bercita-citakan menegakkan satu negara yang berdasarkan prinsip ‘rule of law’, mencapai satu negara berdasarkan hukum ‘rechtstaat’ (negara hukum) dan bukan menjadi ‘machtstaat’ (negara kekuasaan).”

Saya ingin mengembangkan diskusi ini. Saya yakin bahwa para perumus UUD 45 memiliki komitmen tinggi tentang pembentukan negara hukum, walaupun harus disadari bahwa tidak semuanya seirama tentang apa yang dimaksud dengan negara hukum.

Ada sementara anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) menganggap rechstaat adalah rechstaat yang dilakukan oleh Belanda di zaman kolonial Hindia-Belanda, yaitu sebagai negara yang mengikuti undang-undang tertulis; undang-undang ini tidak perlu memiliki norma demokratik atau mengindahkan HAM.

Di lain pihak, ada beberapa perumus UUD 45 menganggap dirinya sebagai insinyur sosial, menciptakan cetak biru dalam pembentukan masyarakat baru. Oleh karena itu, menurut mereka, kekuasaan negara tidak perlu dibatasi. Adanya UUD saja sudah cukup sebagai dasar pembentukan sebuah negara hukum. Mereka tidak mementingkan penegakan hukum. Istilah negara hukum tidak dicantumkan dalam UUD 1945.

Mohammad Hatta lah yang menekankan pentingnya menjunjung tinggi hak perorangan di dalam UUD: “Kita mendirikan negara yang baru. Hendaknya kita memperhatikan syarat-syarat supaya negara yang kita bikin, jangan jadi negara kekuasaan.” Hatta mengusulkan dimasukkannya sebuah pasal: “hak untuk berkumpul dan bersidang atau menyurat dan lain-lain.”

Oleh karena itu ada Pasal 28 dalam UUD 1945: “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.”

Akan tetapi perlu dicatat bahwa para perumus UUD tersebut tidak tegas menyatakan bahwa rakyat memiliki hak untuk melakukan hal-hal tercantum di atas. Istilah “hak” tidak masuk di dalam Pasal 28. Yang dijamin adalah para pembuat undang-undang diberi wewenang untuk mengeluarkan peraturan tambahan mengatur kegiatan-kegiatan yang tercantum.

Memang UUD 1945 tidak memberi banyak hak untuk rakyat. Ada hak untuk bekerja dan memiliki standar hidup yang baik (Pasal 27), hak untuk memilih agama (Pasal 29), dan hak untuk memperoleh pendidikan (Pasal 31). Yang jelas terlewat adalah hak untuk memilih. UUD 1945 juga tidak dengan jelas menjabarkan bagaimana wakil-wakil rakyat di DPR dan MPR dipilih. Kebijakan ini dinyatakan akan ditentukan di lain kesempatan.

Keputusan Presiden Soekarno untuk mengganti UUD Sementara 1950 dengan UUD 1945, sebagai reaksi terhadap kegagalan Konstituante dalam merumuskan UUD baru pada tahun 1959, merupakan sebuah tragedi terbesar dalam sejarah Indonesia.

Berbeda dengan UUD 1945, seperti yang Bung Siauw tandaskan, UUD Sementara 1950 mengikutsertakan banyak hak: “Rakyat Indonesia pernah hidup di bawah UUD Sementara Negara Kesatuan (17 Agustus 1950—5 Juli 1959) yang mengutip seluruh isi ‘Universal Declaration of Human Rights’ yang disahkan PBB dalam sidang umumnya 10 Desember 1948.”

Setelah UUD 1945 dibekukan selama 40 tahun, perubahan positif akhirnya bisa dicapai. Sebelum itu, UUD 1945 diperlakukan sebagai sebuah benda yang dibungkus kain keramat yang tidak boleh disentuh dan hanya diletakkan di museum. Para perumus undang-undang akhirnya sadar bahwa Indonesia harus menghentikan situasi di mana negara tergantung atas kata-kata seorang presiden—yang dalam zaman demokrasi terpimpin dan orde baru—berbentuk hukum. Mereka sadar bahwa negara Indonesia harus bersandar atas rule of law.

Dalam hal penegakan hukum, Indonesia memang sangat terbelakang. Hanya sekali setelah Soeharto jatuh pada tahun 1998, perubahan ini dilakukan. Sebelum itu, Indonesia diajak oleh pemerintah untuk menghindari penegakan hukum. Ini bisa dimengerti, karena banyak perumus UU adalah orang-orang orde baru yang tidak memiliki komitmen tentang penegakan hukum. Akan tetapi akhirnya mereka sadar dan menanggulangi masalah penegakan hukum yang sangat dibutuhkan Indonesia. Perubahan-perubahan yang dicapai bersandar atas pasal-pasal yang ada dalam UUD Sementara 1950.

Bung Siauw bertanya, mengapa Indonesia gagal menjadi negara hukum yang diidamkan oleh para pendirinya? Jawaban atas pertanyaan ini adalah satu kata: tentara. Konflik di dalam tubuh Angkatan Darat telah mencegah dikuasainya negara oleh kekuatan sipil dan gagalnya negara bersandar atas rule of law. Tentara-tentara Indonesia kerap bertempur menghantam satu sama lain: Peristiwa Madiun pada tahun 1948; pemberontakan PRRI-Permesta pada tahun 1957—1960; G30S pada tahun 1965. Perwira-perwira Angkatan Darat juga kerap menentang upaya Presiden dan parlemen untuk mempengaruhi Angkatan Darat: Kejadian 1952; Kejadian Bambang Utoyo 1955, dan pembangkangan terselubung Angkatan Darat di masa Konfrontasi (1963—1966).

Walaupun saya menganggap Soekarno dan demokrasi terpimpinnya bertanggung jawab atas pelanggaran prinsip negara hukum, saya bisa mengerti mengapa Bung Siauw tidak menyalahkan Soekarno. Banyak politikus progresif seperti Bung Siauw mengenalnya secara pribadi dan menganggapnya sebagai seorang pemimpin yang jujur, memiliki maksud baik dan terhormat. Mereka juga melihat bahwa Soekarno, dalam merumuskan berbagai kebijakan mengikuti prinsip-prinsip HAM, walaupun ia tidak merealisasi kebijakan-kebijakan ini dengan prosedur-prosedur hukum yang kuat dan berpengaruh.

Contohnya, Siauw menyatakan bahwa Soekarno tidak melakukan penangkapan dan pembunuhan massal ketika menindas pemberontakan PRRI-Permesta dan tidak menganggap orang-orang yang pernah memberontak terhadap pemerintah sebagai pengkhianat bangsa. Soekarno tidak menahan semua anggota Masyumi dan PSI walaupun pimpinan partai-partai tersebut terlibat dalam PRRI-Permesta. Dan mereka yang ditahan kemudian diampuni dan dibebaskan. Soekarno tidak memerintahkan eksekusi terhadap mereka yang memberontak: “Dan ingat, Presiden Soekarno tidak pernah mencabut atau membatalkan secara sepihak pensiun yang mereka berhak menerimanya sebagai bekas menteri, sebagai anggota DPR!”

Ini tentunya bertolak belakang dengan tindakan Soeharto dalam membasmi G30S. Sebenarnya G30S bukan sebuah gerakan. Ia tidak berbentuk gerakan pemberontakan sekaliber PRRI-Permesta. Akan tetapi Soeharto menggunakan dalih pemberontakan G30S sebagai alasan untuk melakukan penangkapan dan pembantaian dalam skala yang sangat besar. Mengingat kelaliman Soeharto, mudah dimengerti mengapa para korbannya tidak bisa menyalahkan Soekarno.

Walaupun Dekrit 1959 bisa dikatakan sebagai upaya darurat untuk menanggulangi sebuah krisis, kiranya sulit memaafkan Soekarno yang gagal menghentikan sistem yang bersandar atas kekuasaan mutlak seseorang. Soekarno tidak memiliki komitmen untuk memulihkan penegakan hukum dan demokrasi. Dan tidak adanya harapan bahwa karakter demokrasi terpimpin yang berkepanjangan ini akan berakhir dan telah mendorong PKI dan Angkatan Darat untuk mencari jalan keluarnya masing-masing.

Pimpinan Angkatan Darat dan PKI sejak awal tahun 1965 saling ragu apakah mengambil langkah mendahului penyerangan terhadap satu sama lain. Dokumen-dokumen rahasia pemerintah Amerika Serikat jelas menunjukkan bahwa para jenderal Angkatan Darat terus-menerus berhubungan dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat dan memutuskan untuk menunggu PKI mengambil langkah terlebih dahulu. Para jenderal tersebut tidak ingin melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno, karena ia sangat populer. Mereka berpendirian sebaiknya menunggu adanya alasan untuk menghantam PKI dan secara berangsur menyingkirkan Presiden Soekarno. Dan dalam waktu bersamaan, tetap menunjukkan kesetiaan terhadap Soekarno. Gerakan 30 September adalah alasan yang mereka nantikan. Bung Siauw menyatakan: “Yang jelas sekarang ini, G30S ternyata dijadikan alasan oleh Angkatan Darat untuk menghancurkan PKI.”

Bung Siauw menyadari bahwa Aidit dan beberapa pimpinan top PKI terlibat dalam G30S. Akan tetapi, ia tidak habis pikir bagaimana mereka ini terlibat dan mengapa mereka terlibat. Selama ia di penjara, ia berkesempatan berbicara dengan beberapa pimpinan dan anggota PKI yang terlibat, seperti Kusno, asisten pribadi Aidit, Mohamad Munir, anggota Politbiro PKI. Walaupun mereka tidak memiliki informasi yang lengkap, tetapi dari pembicaraan ini Bung Siauw bisa menyimpulkan bahwa yang paling berperan dalam pengaturan G30S adalah seorang yang bernama Sjam: “Dan dari kenyataan-kenyataan yang terjadi sekitar G30S, kita bisa melihat bahwa yang memainkan peranan menentukan dan sebagai ‘memimpin’ G30S adalah Sjam, dan jelas Sjam tidaklah identik dengan pimpinan PKI, karena Sjam bukanlah orang yang bisa bertindak mewakili PKI berdasarkan Anggaran Dasar PKI.” Sjam memainkan peranan sebagai Ketua Biro Khusus yang “merupakan alat dari Ketua CC PKI D.N. Aidit.”

Dari Kusno, Bung Siauw mengetahui bahwa Aidit berada di Halim pada hari pelaksanaan G30S dan terbang ke Jawa Tengah pada malam harinya dengan pesawat Angkatan Udara. Dalam buku saya Dalih Pembunuhan Massal, saya mencoba untuk meneruskan analisa Bung Siauw tentang peran yang dimainkan oleh Sjam dan Biro Khusus dalam G30S dan kaitannya dengan hubungan antara Aidit dengan para perwira yang oleh PKI dinyatakan sebagai “perwira yang progresif dan revolusioner”.

Bung Siauw tidak bisa mengerti dan menerima bagaimana orang yang tidak banyak diketahui ini bisa secara tiba-tiba muncul berperan sebagai seorang “kingmaker”. Sjam, yang pernah bersama Bung Siauw berada di penjara di Jakarta pada tahun 60-an, dianggapnya sebagai seorang misterius.

Informasi yang ia peroleh tentang diri Sjam selama di tahanan menunjukkan bahwa ia tidak memiliki kesetiaan terhadap partai, bahkan sering mengkhianati para anggota partai: “Benar-benar satu mentalitet yang merusak nama baik komunis. Bagaimana bisa terjadi seorang tokoh PKI seperti Sjam itu yang memegang peranan begitu pentingnya! Martabat yang sedikit pun tidak ada bau komunisnya.”

Bung Siauw tidak tahu apakah Aidit dikelabui Sjam untuk terlibat dalam G30S atau apakah Aidit bekerja sama dengan Sjam dalam mengkoordinasikan G30S. Bung Siauw curiga bahwa Sjam adalah agen anti-komunis yang menyelundup ke dalam PKI untuk menghancurkannya. Akan tetapi ia heran, kalau benar begitu, mengapa Sjam bisa dipercaya penuh oleh Aidit untuk memimpin sebuah lembaga—Biro Khusus—yang demikian pentingnya, sehingga Aidit bersedia diperintah oleh Sjam di hari aksi tersebut. Situasi ini menurutnya aneh.

Walaupun peran apa yang Aidit mainkan dalam G30S tetap tidak jelas, tetapi ia bukan seorang yang begitu bodoh untuk bisa dikelabui oleh Sjam berada di Halim sehingga PKI bisa disalahkan dalam melakukan aksi yang direncanakan untuk gagal. Beberapa minggu sebelum G30S, Aidit telah bekerja sama dengan Sjam untuk mengatur serangan mendadak terhadap jenderal-jenderal kanan yang anti-komunis. Transkripsi pembicaraan Aidit dengan Mao di Beijing pada tanggal 5 Agustus 1965 membuktikan bahwa Aidit tahu persis rencana untuk G30S. Aidit menjelaskan ke Mao bahwa personil tentara yang pro-PKI akan melakukan aksi untuk menyingkirkan perwira kanan dan mendirikan dewan yang kelihatannya netral. Dua bulan sebelum G30S Aidit bisa menggambarkan secara detail apa yang akan dilakukan dan kenapa.

Komando G30S dan Dewan Revolusi yang dipimpin oleh Untung ternyata adalah sebuah jembatan untuk melakukan perombakan susunan negara yang radikal. G30S adalah sebuah gerakan yang akan mengenyahkan jenderal-jenderal Angkatan Darat kanan dan mempertahankan kedudukan Presiden Soekarno. Rencananya adalah menghindari pertentangan dengan kekuatan-kekuatan yang terhimpun dalam Front Nasional.

Akan tetapi rencana ini sebenarnya mengundang kegagalan. G30S tidak bisa menyatakan menyelamatkan Presiden Soekarno dan pada waktu bersamaan mengganti kabinet yang sah dengan Dewan Revolusi, apalagi kalau Soekarno tidak berperan dalam pemilihan kabinet dan tidak lagi berfungsi sebagai Presiden de facto. Bung Siauw dengan panjang lebar menggambarkan bagaimana pengumuman tentang Dewan Revolusi dan komposisinya telah mendorong kekuatan netral untuk turut menyerang PKI.

Tentunya sulit untuk membantah argumentasi Bung Siauw bahwa kekuatan anti-komunis internasional turut memasang jebakan untuk PKI pada tahun 1965 dan bahwa: “PKI kurang kewaspadaan sehingga masuk dalam jebakan ini.” Menurut analisis di buku Dalih Pembunuhan Massal, Sjam tidak bekerja untuk organisasi di luar PKI, apakah itu CIA atau KGB atau Angkatan Darat yang menginginkan kehancuran PKI. Kesalahan utama Sjam adalah kecerobohan dan ketidakmampuannya dalam merencanakan dan memimpin gerakan, bukan karena ia adalah seorang agen berganda dan pengkhianat.

Dari bahan-bahan Amerika Serikat yang sudah dideklasifikasi kita tahu bahwa Amerika Serikat bersama para jenderal Angkatan Darat giat memprovokasi PKI untuk mengambil langkah mendahului; mereka menantikan adanya kejadian yang bisa dijadikan alasan untuk menyalahkan PKI. Aidit ternyata merasa ada dasar untuk mengambil tindakan mendahului dan yakin bahwa akan mencapai kemenangan, sehingga ia masuk ke dalam perangkap.

Dalam mempertimbangkan keganasan serangan terhadap para anggota PKI setelah G30S, Bung Siauw tidak segan mengkritik pimpinan PKI. Ia mempertanyakan apa yang menjadi pertanyaan banyak orang. Mengapa PKI tidak berbuat apa-apa untuk melawan serangan ganas ini? Jawaban Bung Siauw adalah, PKI telah menjadi sebuah partai yang hanya menerima perintah dari atas. Setelah 1 Oktober 1965, Aidit bersembunyi di Jawa Tengah dan Politbiro tercerai-berai. Instruksi Aidit adalah menunggu Presiden Soekarno untuk mendapatkan jalan keluar. Sebuah instruksi untuk tidak melawan demi kedamaian.

Dalam menghadapi penghancuran yang tidak dapat dicegah oleh Soekarno, pimpinan PKI ternyata tidak mampu mengubah strategi dan mengorganisasi perlawanan: “Apa yang dilakukan selanjutnya oleh Aidit di Jawa Tengah, tidak ada kejelasan … dalam kehidupan dikejar-kejar, Aidit ternyata tidak dapat melaksanakan pimpinan sebagaimana yang diharapkan sebagai Ketua PKI.”

Bung Siauw menyadari pada tahun 1970-an bahwa dalam menghadapi kediktatoran Soeharto, Indonesia harus kembali ke dasar-dasar negara hukum dan hak rakyat: “Merasakan perlunya ditegakkan kembali prinsip ‘rule of law’, ditegakkannya prinsip ‘presumption of innocence’ (hak untuk diperlakukan sebagai manusia ‘tidak berdosa’ sebelum dibuktikan oleh pengadilan yang tidak memihak), ditegakkannya prinsip ‘fair trial’ (pemeriksaan perkara secara adil oleh pengadilan yang tidak memihak), dan diindahkannya Pernyataan Sedunia tentang Hak-Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights).”

Dengan cerdas dan tepat Bung Siauw berargumentasi bahwa salah satu sila Pancasila, sila perikemanusiaan, harus diinterpretasikan sesuai dengan Pernyataan PBB tentang HAM 1948 Universal Declaration of Human Rights (UDHR): “Jadi, sila perikemanusiaan yang adil dan beradab tidak bisa lain adalah hak asasi manusia seperti yang diakui umat manusia sedunia dan harus dilaksanakan secara konsekuen tanpa kecuali.”

Setelah hampir setiap negara telah mengakui UDHR, tidak ada dokumen lain yang lebih baik dalam memformulasikan cita-cita umum untuk seluruh penduduk dunia. Indonesia tentunya tidak bisa menjunjung tinggi Pancasila selama ia melanggar HAM. Selama Soeharto berkuasa, rakyat Indonesia dipaksa untuk menerima Pancasila tanpa menyadari adanya UDHR dan adanya rentetan perjanjian tentang HAM yang telah disetujui setelah tahun 1948. Rezim Soeharto tidak bersedia menandatangani banyak Perjanjian HAM, seperti International Convenant on Civil and Political Rights of 1966. Ia menjalankan berbagai kampanye bersama Singapura dan Malaysia yang didesain untuk melanggar HAM dengan dalih martabat Asia. Baru setelah Soeharto jatuh, Indonesia mulai mengikuti konsensus internasional (bukan hanya “Barat") tentang HAM.

Saya kira Bung Siauw akan menghargai kegiatan HAM yang dilakukan oleh Ahmed Seif el-Islam (1951-2014) di Mesir. Ia adalah seorang aktivis yang dipenjarakan dan disiksa oleh diktator militer pada tahun 1980-an. Ketika di penjara, ia memutuskan untuk menjadi sarjana hukum dan teguh mendukung HAM. Ia yakin bahwa penyiksaan adalah kejahatan dan harus ditentang, siapa pun yang melakukannya: “Saya berkeyakinan bahwa tidak ada artinya melakukan kegiatan politik tanpa HAM. Orang-orang komunis secara rahasia menyatakan bahwa menyiksa orang-orang Islam tidak salah. Sedangkan orang Islam menyatakan: Apa salahnya menyiksa orang-orang komunis.” Masalah yang diangkat oleh Seif adalah hal yang Bung Siauw tandaskan pula, yaitu bagaimana memadukan perjuangan politik dalam mencapai kekuasaan negara dengan komitmen menjunjung tinggi HAM?

Sangat disayangkan Bung Siauw wafat di usia yang relatif muda pada tahun 1981. Sebuah kematian yang harus dikaitkan dengan rezim Soeharto di mana kondisi penjaranya yang buruk telah merusak kesehatan Bung Siauw.

Pembunuhan dan penangkapan massal yang dilakukan Soeharto selama bertahun-tahun telah menghancurkan kehidupan banyak orang Indonesia yang terbaik dan terpandai. Banyak penulis yang terbaik, pelukis yang terbaik, intelek yang terbaik, dan organisatoris terbaik dibunuh, menjadi cacat seumur hidup, dibungkam, diteror, dan dipaksa untuk hidup sebagai eksil. Lalu muncullah sekelompok preman, perwira militer yang cupat, koruptor dan oportunis yang tidak memiliki talenta menggantikan mereka yang dipersekusi ini.

Dengan wafatnya Bung Siauw, Indonesia telah kehilangan salah satu suara yang membela HAM. Ia adalah seorang yang patut diingat sebagai salah satu pembangun bangsa dan negara karena turut dalam perumusan kedua UUD pertama dan seorang tua bijaksana yang di puncak kediktatoran Soeharto mengingatkan rakyat Indonesia bahwa mereka adalah rakyat yang memiliki berbagai hak.

 

* Associate Profesor Sejarah di Universitas British Columbia di Vancouver, Kanada. Penulis buku Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto.