(62) 812 245 6452

Info Kegiatan

 
 

Oleh: Sumaun Utomo

Buku yang bergambar ilustrasi ini bercerita sejak masuknya kolonialis Eropa. Berawal dari zaman perkembangan akumulasi kapital primitif, kapital liberal, kapital monopoli/imperialis, neokapitalisme, neoimperialisme, sampai pada zaman neokolonialisme.

Mulai dari abad XV sampai abad XX. Demikian juga bentuk-bentuk organisasinya, dari VOC sampai N.V., C.V., korporasi kapitalis, dan lain-lain. Juga dibahas cara-cara pengumpulan kapitalnya, mulai dari pembajakan, perompakan kapal dari negeri lain, kerja paksa, kerja upahan sederhana, hingga modern. Di samping itu, tentu saja ada perlawanan. Dalam buku ini juga dibahas bentuk dan cara perlawanan penduduk/rakyat, mulai dari yang perseorangan, kesukuan, organisasi, dan kepartaian modern.

Sejak akhir abad XIX dan awal abad XX, kapitalis liberal di Eropa berkembang menjadi kapital monopoli dan imperialisme. Revolusi di Rusia (1905), walaupun gagal, mengakibatkan terjadilah kegoncangan sistem kapitalis/imperialis di Rusia dan di negara lain, serta bangkitnya Partai Buruh Sosial Demokrat di negeri Eropa, termasuk di Belanda. Di Hindia Belanda sendiri lahirlah organisasi buruh S.S Bond (1905) di buruh kereta api Staatspoor-Surabaya Batavia (waktu itu) dan VSTP di buruh kereta api Surabaya Semarang NIS dan Semarang-Cirebon (SCS) pada 1908. Selain organisasi buruh, juga lahirlah organisasi Boedi Oetomo (1908), Serikat Dagang Islam (1905) yang berubah menjadi Serikat Islam (1912), dan Indische Partij 1912.

Seorang Belanda bernama Henk Sneevliet, anggota Partai Buruh Sosial Demokrat Belanda yang ikut memimpin pemogokan buruh di Belanda dipecat dari pekerjaannya. Pada tahun 1913 ia pergi ke Hindia Belanda dan bekerja pada kantor dagang di Semarang. Pada tahun 1914, Sneevliet bersama beberapa temannya dari mendirikan organisasi Indische Sociaal Democratische Vereeniging atau ISDV (Perhimpunan Sosial Demokrat Hindia), dan menyebarkan Marxisme. Pada tahun 1917 terjadi Revolusi Sosialis di Rusia yang diinisiasi oleh kaum Bolsewik (kelompok terbesar yang revolusioner dari Partai Buruh Sosial Demokrat di Rusia) yang dipimpin Lenin. Revolusi ini menang.

Sneevliet dan ISDV menyambut kemenangan ini dengan menulis Zeegepral, dan menganjurkan agar rakyat Hindia terus berjuang melawan imperialis Belanda di Hindia dan pasti akan menang seperti rakyat di Rusia.

Sneevliet lantas ditangkap dan diadili. Dalam pembelaannya, Sneevliet menggugat imperialis Belanda dengan pandangan Marxisme. Ini berarti gugatan pertama dari seorang Belanda yang dilakukan terhadap sistem neokolonialisme di Indonesia ini.

Pada tanggal 23 Mei 1920, ISDV mengadakan kongres komunis di Semarang dan mengubah nama menjadi Partij Komunisten in Indie atau Perserikatan Komunis di Hindia (PKH), yang kemudian diubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI lahir dari anak zaman yang melahirkan zamannya sendiri. Ia menjadi pelopor, barisan depan yang paling gigih dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, sedangkan yang lain merupakan bagian yang moderat, sebagian lagi reaksioner.

Enam tahun kemudian, 1926, PKI memimpin pemberontakan nasional pertama dalam zaman imperialis Belanda di Indonesia. Pemberontakan yang meletus 12 November 1926 di Jawa dan 1 Januari 1927 di Sumatera ini gagal karena masih kurang tepat momennya, yaitu kekuasaan imperialis masih kuat, masih bisa hidup, walaupun sulit dan rakyat belum bulat sekali merebut kekuasaan untuk dirinya. Namun ia memberi pelajaran pada rakyat bila mau merdeka penuh dari penjajahan, tidak bisa lain, kecuali dengan revolusi bersenjata karena kekuasaan imperialis menindas juga dengan kekuatan bersenjata seperti di Rusia pada waktu itu.

Namun demikian belum juga setahun pemberontakan ditindas, pada bulan Juli 1927 lahirlah partai baru, PNI, yang dipimpin Ir Soekarno, seorang nasionalis kiri yang masih muda. PNI juga berjuang demi Indonesia merdeka yang sosialis sebagaimana dalam semboyannya yang terpampang dalam kongres pertama di Bandung pada Juli 1927.

Pemerintah kolonial Belanda takut akan hadirnya PNI karena saat itu menjelang timbulnya krisis ekonomi dunia yang besar pada tahun 1920-1932, yang juga melanda Indonesia. Ir Soekarno ditangkap pada tahun 1930 dan diajukan ke pengadilan. Tidak kalah lantangnya dengan Sneevliet, Soekarno dalam pledoinya yang berjudul Indonesia Klaagt aan –Indonesia Menggugat, juga menggugat kejahatan imperialis Belanda dan menuntut Indonesia merdeka.

Pada tahun 1933, partai fasis Hitler memenangkan pemilihan umum dan didukung kaum kapitalis Jerman. Bahaya fasisme mengancam dunia. Komunis Internasional (Komintern) mengadakan sidang pleno. Sidang kongres Agustus 1935 itu memutuskan bahwa bahaya fasisme mengancam dan memutuskan untuk membentuk front antifasis di dunia. Komintern mengutus Musso, salah seorang tokoh PKI, ke Indonesia pada 1935 untuk membangun PKI kembali dan menggalang politik front antifasis.

Gerindo berdiri 1937 dan menjalankan politik antifasis. PKI bawah tanah dipimpin Djoko Soejono. Setelah Djoko Soejono ditangkap, pimpinannya diganti oleh Pamuji. Setelah Jepang menduduki Indonesia, Pamuji ditangkap dan diganti Widarta untuk memimpin PKI bawah tanah dengan front antifasis.

Pemerintah kolonial Belanda mengambil sikap, lebih baik menyerah pada Jepang daripada bersama dengan rakyat Indonesia melawan Jepang. Borjuasi Jepang setelah menjalankan perang blitzkrieg terpukul mundur oleh Sekutu. Kelak, borjuasi Jepang ini membuat hubungan gelap dengan borjuasi Amerika Serikat untuk lebih baik menyerah pada AS ketimbang menyerah kepada Tentara Merah Uni Soviet yang sudah maju menghancurkan kekuatan Kuantung Army (Pasukan Kuantung) Jepang. AS kemudian menjatuhkan dua kali bom atom di Jepang. Jepang menyerah pada AS pada 15 Agustus 1945.

Kader PKI muda, DN Aidit dan Wikana, ikut ambil bagian aktif mendorong proklamasi kemerdekaan. Sementara pimpinan tua ada yang ragu-ragu, bahkan mengejek sikap maju dari orang-orang muda –antara lain Moh. Hatta– yang menunggu sikap Jepang yang menjanjikan kemerdekaan kelak kemudian hari.

Akhirnya setelah diyakinkan oleh yang muda-muda, sedangkan Sekutu belum juga datang mengambil alih kekuasaan, Soekarno-Hatta mau memproklamasikan kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Namun dua pimpinan negara tersebut mengangkat Sjahrir, elemen yang senang hidup cara Belanda, menjadi perdana menteri, sewaktu rakyat siap melucuti senjata dari tentara Jepang untuk dipakai membela proklamasi kemerdekaan.

Sjahrir merupakan perdana menteri yang lebih siap berunding dan kompromi dengan Sekutu yang mengangkut serdadu Belanda yang hendak mengembalikan kekuasaan kolonial di Indonesia, daripada mengorganisasi dan memimpin rakyat yang sudah bangkit dengan senjata membela kemerdekaan. Sementara, Amir Sjarifuddin, salah satu kader PKI yang dibebaskan oleh pemuda dari penjara, mendukung Sjahrir yang bersikap kompromis. Hasil Perundingan Linggarjati ditolak rakyat, termasuk oleh pemimpin PKI, Widarta, yang memimpin antifasis Jepang. Bahkan Amir sebagai menteri pertahanan menangkap dan menghukum mati Widarta karena sikapnya anti pada Perundingan Linggarjati. Ini sikap politik awal yang blunder, apalagi justru Widartalah sebagai seorang unsur pimpinan PKI mengambil sumpah Amir sebagai kader PKI pada tahun 1939.

Amir Sjarifuddin naik sebagai perdana menteri menggantikan Sutan Sjahrir. Dalam perundingan dengan Belanda di Kapal Renville yang didukung Amerika Serikat, jauh lebih rendah daripada hasil Linggarjati. Menteri-menteri dari Masjumi dan PNI mengundurkan diri. Ada demonstrasi yang menuntut Amir Sjarifuddin mundur.

Amir mundur dari perdana menteri tanpa berunding dengan partainya. Ia digantikan oleh Hatta. Perdana Menteri Hatta yang memang sudah terkenal sejak tahun 1929 berpikiran moderat. Ia percaya bahwa Indonesia merdeka bisa diperoleh melalui kerja sama dengan Belanda serta percaya akan diberikan Jepang, mengadakan perundingan dengan wakil Amerika Serikat. Ia menerima usulan penghancuran kaum merah (Red Drive Proposal) dengan biaya 56 juta dolar AS. Dengan menggunakan pasukan Siliwangi yang hijrah ke Solo dan Madiun, serta kekuatan Masjumi dan Tan Malaka untuk melakukan berbagai provokasi mengancurkan kekuasan TNI Brigade 29 yang berpihak ke PKI.

Dengan alasan bahwa “entah benar entah tidak” PKI melakukan kup di Madiun. Demikian juga Presiden Soekarno yang percaya bisikan Hatta, “pilih Musso-Amir di Madiun atau Soekarno-Hatta”. Musso meninggal karena baku tembak dengan pasukan pemerintah di Ponorogo. Amir Sjarifuddin dengan rombongannya ditangkap di Kelambu, Demak. Setelah sempat ditawan di Jogja, kemudian ditembak mati di Dusun Ngaliyan, Desa Lalung, Kabupaten Karanganyar, eks Karisidenan Solo, bersama 10 pimpinan & kader PKI, atas perintah Hatta. Ini adalah pengkhianatan Hatta atas usulan Red Drive Proposal Amerika Serikat, tunduk untuk melumpuhkan kekuatan RI dalam menghadapi Agresi Belanda II, yang sudah direncanakan Belanda jauh hari sebelumnya.

Tentara Belanda sudah pasti tidak akan terlalu lama menduduki Indonesia karena akan menghadapi perlawanan gerilya dan rakyat. Perlawanan itu akan menghabiskan biaya dan tenaga yang besar, yang tidak mungkin disangga ekonomi Belanda yang rusak akibat Perang Dunia II. Negeri Belanda bukan negeri besar. Belanda tak mungkin mampu memikul biaya mengatasi perlawan itu sendiri, tanpa disangga utang dari Amerika Serikat. Atas inisiatif AS diselenggarakan Konferensi Meja Bundar (Round Table Conference) di Den Haag – Holland, tahun 1949.

Konferensi ini adalah bentuk kapitulasi Indonesia yang wakilnya terdiri dari Wakil Presiden/Perdana Menteri Moh Hatta pada pemerintah Belanda. Sebagai pihak yang kalah perang, Indonesia harus membayar biaya Perang Dunia II dan Agresi Belanda ke Indonesia, mengembalikan semua perusahaan Belanda, dan menerima tatanan kenegaraan dari negeri yang menang perang. Kemerdekaan Indonesia harus diakui sebagai penyerahan kedaulatan Kerajaan Belanda dalam bentuk negara federal dan menjadi anggota Unie Verband Indonesia-Belanda yang diketuai Ratu Belanda.

Rakyat Indonesia menolak hasil KMB, dengan semboyan: Tolak KMB. Langkah awal, pada pertengahan tahun 1950 penduduk kota Surabaya mengadakan rapat raksasa di Stadion Tambaksari, Surabaya, yang dihadiri sekitar 500ribu orang. Rapat itu menyuarakan kemauan untuk membubarkan Negara Jawa Timur buatan Van der Plaas, orang Belanda bekas Gubernur Jawa Timur, dan menyerbu rumah wali negara Jawa Timur di Jalan Simpang, Surabaya. Aksi tersebut diorganisasi sekelompok pemuda, antara lain Suryono Hamsah, Saleh Mahfut, Ayik (Camat Tanjung Perak), dan beberapa orang lagi perempuan (lupa namanya, bekas pejuang 45). Mereka dipimpin Sumaun, bekas kapten TNI dan ketua organisasi bekas pejuang bersenjata. Sumaun didampingi Komandan Komando Militer Kota Surabaya, Mayor TNI Djarot Subiantoro. Kecuali itu, ada panitia lain yang dipimpin oleh Mr. Isqaq. Sedangkan dari TNI yang dipimpin Letkol Inu Kertopati, tetapi tidak aktif dan diabaikan oleh kaum pemuda.

Pembubaran negara federasi ini kemudian berlanjut di wilayah lain. Kelompok pemuda di Medan esok harinya membubarkan Negara Sumatera Utara. Begitu juga dengan kaum pemuda di Jawa Barat yang membubarkan Negara Pasundan.

Sejak tahun 1950, PKI juga sudah menyuarakan menolak hasil KMB. Pada peringatan 17 Agustus 1950, Soekarno dalam pidatonya menyatakan membubarkan negara RIS dan diganti NKRI, serta UUD RIS diganti UUD Sementara NKRI. Dengan demikian ikatan Unie Verband tiada lagi.

Pada tahun berikutnya, semua kegiatan PKI dengan reaksinya sudah terkover baik dalam buku ini. Dalam Pemilihan Umum pertama tahun 1955 yang masih dipayungi UUD Sementara RI berjalan baik, terutama setelah masalah Peristiwa Madiun dengan tangan Hatta berlumuran darah. Hatta mengajukan persoalan ini ke pengadilan Jakarta Pusat. Aidit membuat pembelaan yang gamblang, masyarakat dan rakyat menjadi lebih jelas persoalannya. Sedangkan Hattta sendiri tidak mau/bisa diajukan sebagai saksi utama dalam sidang pengadilan.

Dalam Pemilihan Umum tahun 1955, PKI mendapat nomor urut 4. Sedangkan dalam pemilihan untuk daerah (1957), bila semua perolehan suara disatukan, PKI mendapat nomor 1, atau setidaknya nomor 2. Apalagi PRRI/Permesta yang didukung AS dan CIA dapat dihancurkan TNI dipimpin Kol A. Yani dan dengan dukungan rakyat. Bila diadakan pemilu lagi, bukan sesuatu yang mustahil kemungkinan besar PKI dapat nomor 1 atau 2. Inilah yang ditakuti komplotan orang kanan reaksioner dengan bosnya AS dan lainnya. Inilah sebabnya AS dengan CIA, RAND Corporation, dan agen-agennya yang lain, sejak tahun 1960 aktif mendidik perwira AD dan sarjana-sarjana yang isi pendidikannya tentang bagaimana menumbangkan Presiden Soekarno yang antikolonial dan antiimperialis, terutama AS.

Amerika mendapat sahabat pendukung dari TNI, yaitu Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto untuk melaksanakan rencananya membunuh A Yani, menghancurkan PKI, dan mengkup Presiden Soekarno. Oleh karena itu, buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia ini menjelaskan dengan lengkap peranan dan sikap politik PKI dalam perjuangannya patut dibaca dan didiskusikan, agar jelas, siapa yang menjadi dalang Peristiwa 1965. Penanggung jawab dan pelakunya dapat diketahui secara tepat oleh orang-orang muda sekarang, untuk bekal yang benar dalam membuka jalan hidupnya sendiri.