(62) 812 245 6452

Info Kegiatan

 
 

Oleh: Okky Tirto

“PERJUANGAN melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.” Demikian kalimat Milan Kundera yang kerap diberi tempat dalam pertemuan-pertemuan, orasi-orasi, juga pada tulisan-tulisan.

Melalui kalimat tersebut, kita dapat menyimak bahwa pada relasi antara ‘kekuasaan’ dan ‘lupa’ terdapat suatu pola relasi yang ditandai dengan ‘melawan’ sebagai bentuk ‘perjuangan’. Melalui ‘kekuasaan’ dan ‘lupa’ tersirat suatu kelindan kuasa yang menggambarkan bahwa penguasa adalah pihak yang memiliki daya upaya untuk masuk demikian jauh ke dalam ruang-ruang privat individu-individu.

Otoritas yang dimiliki penguasa, dalam konteks ini, mencakup hingga kuasa untuk menentukan hal mana boleh diingat dan hal mana harus dilupakan.

‘Lupa’, dalam konteks ini, bukan merupakan suatu gejala ketidaksengajaan yang boleh jadi kerap dilihat sebagai sesuatu yang lazim sebab merupakan suatu yang natural. Alih-alih merupakan suatu hal yang lumrah dan ‘sudah dari sananya’, ‘lupa’ dalam konteks ini dapat dilihat sebagai resultan kerja kekuasaan selama periode tertentu yang terjadi secara sistematis dan dalam skala masif.

Menarik untuk diamati adalah tentang bagaimana bisa ‘lupa’ menjadi hal berskala masif. Hal tersebut dapat terjadi sebab ‘lupa’ merupakan resultan dari kerja panjang tangan kuasa yang dengan segala kekuasaan dan aparatusnya bekerja sedemikian rupa dengan sistem yang terstruktur untuk mengonstruksi ‘memori komunal’ rakyat sesuai selera pemegang kendali.

Dengan demikian, ‘lupa’ menjadi gejala sosial. Ia menjadi bukan sekadar lupa, melainkan ‘lupa kolektif’. Hal tersebut tidak terjadi begitu saja sebagai suatu proses natural, melainkan keadaan yang diciptakan penguasa beserta aparatusnya dalam rentang waktu tertentu.

Hal tersebut juga terjadi di lini pengetahuan. Produksi pengetahuan, dalam konteks ini, tidak dapat dilihat secara naif sebagai suatu kegiatan menerbitkan buku-buku pelajaran atau proses belajar-mengajar semata.

Produksi pengetahuan dalam kelindan kuasa, adalah produksi ‘kebenaran’. Hal ini menjadi penting bagi penguasa untuk satu tujuan, menjaga kekuasaan dengan ‘mengawal’ nalar kolektif rakyat. Dengan jalan memproduksi pengetahuan sebagai kebenaran berdasar selera penguasa, sejatinya penguasa sedang memproduksi dan mereproduksi legitimasi atas kekuasaannya beserta segala gagasan-gagasan yang ada di dalamnya dan begitu seterusnya sehingga berterima oleh rakyat sebagai sesuatu yang ‘wajar’. Dalam konteks ini, benar dan salah menjadi sangat bergantung pada selera dan kepentingan penguasa, termasuk di dalamnya mengenai sejarah.

Tafsir penguasa atas sejarah adalah satu-satunya yang dianggap benar. Sebagai narasi tunggal yang juga dipaksakan menjadi ‘kebenaran tunggal’, sejarah bukan lagi dilihat sebagai hasil pencatatan kronologis yang ditafsirkan dalam ruang hampa kepentingan. Berkebalikan dengan itu, sejarah dalam konteks kelindan kuasa adalah juga resultan dari politik kurikulum dan politik sensor yang dilakukan penguasa melalui aparatusnya.

Terkait tafsir penguasa atas sejarah 1965 yang memakan banyak korban, selain melalui monumen semisal Lubang Buaya, artefak ingatan atas hal tersebut dapat kita lihat pada naskah atau buku serta kurikulum yang disusun di era orde baru. Penguasa pada saat itu memiliki caranya sendiri untuk menutur juga mencatat interpretasinya atau katakanlah ‘memori’-nya terkait hal tersebut. Narasi yang beredar, baik di lembaga pendidikan maupun di masyarakat, menjadi sangat khas, presisi dengan keinginan penguasa.

Hal tersebut dapat terjadi sebab penguasa tidak hanya memproduksi narasi ‘kebenaran’, melainkan juga mereproduksi narasi tersebut dan pada saat yang sama memastikan bahwa ‘nalar kolektif’ masih berada pada ‘orientasi yang benar’.

Reformasi menjadi fase baru yang juga ditandai dengan kemunculan berbagai interpretasi sejarah 1965 sebagai narasi alternatif. Sebagaimana yang dilakukan sejumlah nama, demikian pula yang dilakukan Putu Oka, baik melalui karya-karyanya maupun dengan jalan menggagas agar orang-orang yang mengalami peristiwa atau terdampak olehnya sudi untuk berbagi cerita, baik lewat film dokumenter maupun kumpulan  cerita. 

Karya  yang sampai di hadapan pembaca saat ini, adalah satu dari sekian narasi alternatif yang pada mulanya bersemayam di kepala-kepala, bertebaran di dalam senyap. Sampai pada akhirnya datang gagasan dari Putu Oka agar memori-memori tersebut dituturkan, dicatat, dan pada akhirnya dihimpun sebagai sebuah buku. Melalui lebih dari sekodi kisah yang ditutur dengan apik, generasi hari ini setidaknya akan memperoleh gambaran tentang suatu zaman di mana bangsa Indonesia pernah bertarung melawan kelam.

Keran demokrasi telah dibuka, tapi masih ada yang ragu-ragu untuk berbagi cerita. Namun, beberapa nama mengumpulkan keberanian untuk menutur ingatan yang dialami untuk kemudian dirajut menjadi catatan. Sekumpulan narasi alternatif yang berbasis pada kelisanan. Kekurangan tentu ada, mengingat basis ingatan yang dituturkan memiliki keterbatasan perihal ingatan yang berbeda pada orang per orang.

Juga demikian halnya dengan self-censorship dari pemilik kenangan. Namun demikian, setidaknya melalui kisah yang dituturkan juga dirajut sebagai sebuah kesaksian, generasi hari ini dan mendatang dapat memetik pelajaran melalui kisah yang kerap kali sangat personal. Kisah yang tak pernah mendapat ruang pada buku-buku sejarah arus utama.

Les peuples sans histoire, orang biasa tak punya sejarah, katanya. Melalui sekumpulan kesaksian yang menjadi cahaya mata sejumlah nama, setidaknya kita bisa merasakan bahwa ‘orang biasa’ juga punya sejarah. Jauh lebih penting, sejarah ‘orang biasa’ tersebut adalah sejarah alternatif beroposisi pada sejarah versi penguasa yang kini masih lagi bercokol di sebagian besar alam pikiran manusia Indonesia.

Maka dari itu, ingatan yang ada harus dirumahkan dalam catatan sejarah alternatif, sebab jika tidak, ia akan menghilang bersama pemiliknya. Verba volant scripta manent, demikian pesan pepatah latin yang berarti segala yang terucap menguap dan yang tercatat abadi.

Kegiatan mengingat, dalam konteks ini menjadi demikian ideologis, sebab bagi generasi hari ini dan mendatang, mengabadikan ingatan bukan hanya untuk melawan lupa, tapi juga melawan ketidaktahuan.

Keberanian untuk menyuarakan ingatan adalah keberanian untuk mengukir sejarah demi terangnya masa depan. Sebab tanpa ingatan, masyarakat tak punya sejarah “les peuples sans mémoire, les peuples sans histoire”. Adapun masyarakat tanpa sejarah adalah masyarakat tanpa masa depan “les peuples sans histoire sont des peuples sans avenir”.

Salam.

 

*Okky Tirto, lahir di Jakarta 12 Januari 1986. Penikmat kopi, sastra, dan seni rupa. Tertarik pada sejumlah isu terkait filsafat, sejarah, politik, dan kebudayaan. Belajar tentang dunia penulisan dan fotografi. Pernah berkuliah di Ilmu Politik FISIP UIN Ciputat dan Cultural Studies FIB Universitas Indonesia.