(62) 812 245 6452

Info Kegiatan

 
 

Oleh: Tom Iljas

Seperti karya novel May Swan lainnya, The Letter ditulis dalam bahasa Inggris. Di sini saya ingin membedah dan sekaligus memperkenalkan isi karya dan makna yang terungkap dalam novelnya yang kesembilan ini.

Cerita berkisar dari perjalanan emosi Francisca Goh, anak gadis dari keluarga Goh yang kaya raya di Singapura. Pada suatu ketika, secara kebetulan ia dapat tahu bahwa dirinya bukan anak kandung dari orang tuanya. Ia adalah anak pungut. Diuraikan betapa pedih hati anak ketika tiba-tiba berhadapan dengan realitas yang demikian mengejutkan. Francisca tidak dapat menerima kenyataan itu, merasa sangat terpukul jiwanya. Perasaan sedih menyayat bercampur marah dan tidak adil membalut jiwa Francisca yang diembannya bertahun-tahun.

Perasaan percaya diri baru terpulih setelah ia bertemu dengan Walter Sim, chief editor dari  sebuah harian di Singapura. Francisca akhirnya bekerja sebagai jurnalis pada kantor harian Walter, dan selanjutnya mereka mendirikan rumah tangga bersama. Kehidupan suami-istri sangat bahagia. Mereka saling mengisi dalam pekerjaan. Dan hubungan seksual sangat meriah dan berwarna, tidak terikat oleh norma konvensional.

Kerusuhan Mei 1998 menjadi bagian dari jalan cerita novel. Kasus dimulai dengan kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa, kehancuran aset, perkosaan, dan kehilangan jiwa manusia diuraikan dengan meluas. Dibeberkan faktor yang menyebabkan runtuhnya Orde Baru dari segi ekonomi, politik, sosial, dan peran demonstrasi mahasiswa yang terbesar menuntut diadakannya reformasi dalam berbagai bidang.

Francisca berangkat ke Jakarta untuk mengarungi kejadian itu. Selama di Jakarta, ia berkesempatan berkenalan dekat dengan beberapa anak muda aktivis yang notabene adalah ahli hukum dan freelance jurnalis. Maksud kedatangannya adalah mencari informasi di lapangan, namun apa yang ia dapati jauh lebih meluas daripada apa yang dikira sebelumnya. Pengalamannya di Jakarta telah membuka lebar pandangannya terhadap Indonesia. Ia mulai melihat adanya rasa persaudaraan yang sangat ketat di antara generasi muda, dan sense of ownership terhadap negara. Adanya kekuatan laten dengan komitmen tinggi, sewaktu-waktu akan menerobos kungkungan kekuasaan supresif, mengadakan perubahan, reformasi sosial yang dikejar. Dan inilah rupanya yang telah terjadi.

Dari pembicaraan dengan Abraham, satu dari aktivis muda di Jakarta, Francisca dapat mengenal dari jauh mengenai kehidupan masyarakat diaspora Indonesia di Eropa umumnya, dan komunitas eksil Indonesia khususnya. Di situ digambarkan gaya hidup dan perkembangan jiwa mereka yang tetap bercokol pada pola pikiran lebih dari setengah abad yang lalu ketika mereka masih muda belia meninggalkan Indonesia dikirim ke negeri sosialis di Eropa Timur, Uni Soviet, dan RRT. Situasi dunia telah berubah 180 derajat, tapi mereka tetap terpaku pada pikiran lama, dogma usang yang sudah ketinggalan zaman masih digenggam, singkatnya dogma politik Perang Dingin.

Penulis menyayangkan kenapa setelah susah-payah berhasil mendapat suaka dan hidup di negeri Barat yang demokratis, namun tidak menggunakan kesempatan itu untuk masuk dalam arus masyarakat mainstream, bahkan turut mengambil peran dalam pimpinan politik seperti banyak masyarakat imigran lainnya di Eropa. Padahal di antara komunitas eksil Indonesia di Eropa tidak kurang yang berpotensi. Bayangkan alangkah banyak yang dapat dikerjakan untuk Indonesia jika ada di antara mereka yang duduk di lembaga kepemimpinan negara di Eropa di mana mereka bermukim. Tapi nyatanya tidak ada yang menggunakan kesempatan emas ini. Faktor ini dikritik tajam oleh penulis melalui dialog antara Francisca dan Abraham.

Di sini sekali lagi kita menyaksikan kelebihan May Swan dalam menilai situasi. Ia tidak langsung menerima arus pandangan umum yang dogmatis, berani keluar dari kungkungan stereotyping dalam berkarya. 

Saya yang sudah lama berdiam di Eropa dapat menyaksikan masyarakat Eropa sudah tertata, sistem demokrasi berjalan selayaknya, umumnya adalah welfare state dan kekayaan sudah tercapai. Setiap kampanye pemilu, perdebatan para partai pokoknya hanya berkisar pada pembagian hasil revenue demi kepentingan negara secara adil menurut pandangan masing-masing. Banyak peran eksekutif baik di pusat maupun di daerah ditangani oleh orang-orang imigran yang berasal dari dunia ketiga. Nah, kalau mereka bisa, kenapa orang kita tidak bisa?

Pertanyaan ini telah dijawab oleh May Swan dengan tajam namun tepat: “Karena mereka tidak bersedia melangkah keluar dari suasana eksil, suasana yang mengemban perasaan frustasi karena pernah diperlakukan tidak adil.” Dalam kata lain, perasaan takut kehilangan identitas, kehilangan basis.

Dalam konteks ini, sejak reformasi bergulir, sudah tidak terhitung banyaknya pakar ilmu sosial politik, sejarawan, professor dari perguruan tinggi baik nasional maupun internasional, para mahasiswa pascasarjana, dan wartawan dari berbagai media melakukan riset mengenai komunitas eksil pasca 65 di Eropa. Sudah cukup banyak buku dan artikel dimuat di media sebagai hasil penelitian dan interview untuk dikumpul sebagai oral history. Tak kurang pula film dokumenter telah dibuat mengenai kehidupan mereka.

Sebut saja beberapa tokoh misalnya David T. Hill, Emeritus Professor of Southeast Asian Studies and Fellow, Asia Research Centre for Social, Political and Economic Change Murdoch University, Perth, Australia sekurangnya sudah tiga kali berkeliling Eropa, bahkan sampai ke Russia dan RRT, melakukan riset, menerbit buku dan mengeluarkan tulisan akademis tentang kehidupan pengalaman para eksil pasca 65. Disertasi Ari Jinaedi mengambil tema kasus para eksil setelah berkunjung dan menginap di rumah saya selama lebih dari seminggu di Swedia. Sampai sekarang pun masih banyak PhD students kita di Uttretch, Negeri Belanda mengambil kisah para eksil pasca 65 sebagai oral history dalam satu bagian bab disertasinya.

Walau berbeda dalam tingkat kedalamannya, namun terdapat kesamaan dalam mengangkat masalah, yakni selalu hanya dari segi penderitaan mereka terbuang dari tanah air, tentang pengalaman dan perjalanan eksil intelektual keluar dari RRT atau dari Eropa Timur ke Eropa Barat, tentang rasa cinta pada tanah air, anak bangsa menuai badai, tentang tersia-sianya potensi mereka, tentang bagaimana para eksil tetap terkoneksi dengan tanah tumpah darahnya baik dalam kehidupan sehari hari maupun dalam ikatan batin. Pangkal tulisan hanya sampai di situ. Baru kali ini ada yang menyorot dari segi yang berlainan, yang disampaikan dalam bentuk tajam oleh May Swan melalui bukunya The Letter.

Sejujurnya, kalau ditilik dari peluang mencapai self fulfilment di Eropa seperti Swedia cukup besar. Masalahnya tidak serumit masalah yang ditempuh di Indonesia. Sungguh sayang bahwa peluang ini tidak pernah digunakan.

The Letter juga membuka secara mendalam lembaran sejarah terbentuknya Federasi Malaya yang kemudian menjadi Federasi Malaysia. Perkembangan sejarah Malaya pasca Perang Dunia II diuraikan dengan sangat mendetail dan dramatis melalui pembicaraan dengan Leng Chai, seorang survivor dari keluarga korban Batang Kali massacre yang sangat kejam. Kasus pembunuhan massal tersebut terjadi pada periode the Malayan Emergency, yaitu perang antara tentara Inggris yang digabung dengan tentara Australia melawan Anti-British Liberation Army di bawah pimpinan Partai Komunis Malaya, Chin Peng. The Malayan Emergency berlangsung dari tahun 1948 hingga 1960.  

The Letter adalah sebuah novel yang berlatar sejarah dan current affairs di Singapura, Malaysia, dan Indonesia, diungkap melalui jalur literatur. Jalan cerita cukup menarik, hidup dan mudah diikuti, namun penuh dengan pendapat dan pandangan yang thought provoking. Mengajak pembaca keluar dari conventional thinking yang menghimpit jalan pikiran, dan memperkenalkan adanya horizon yang luas  terbentang di depan mata.

Swedia, Desember 2016