(62) 812 245 6452

Info Kegiatan

 
 

Oleh: Tom Iljas

Dalam persidangan-persidangan pengadilan Ahok yang sudah berlangsung 18 minggu itu banyak disebut-sebut Bangka-Belitung. Ahok sering menjemput referensi dari pengalaman-pengalaman di kampung halamannya Belitung.

Walau tak ada hubungan langsung namun ini menimbulkan keinginan saya untuk membaca kembali tulisan May Swan berjudul Sons and Daughters of Bangka, sebuah novel berlatar-belakang sejarah dan situasi politik di Bangka awal tahun 1960 sampai akhir tahun 90-an.

Cerita yang dikisahkan dalam novel ini ialah jalan hidup seorang gadis Nooly yang dilahirkan dalam keluarga yang tidak harmonis. Perkawinan orang tua Nooly berakhir dengan perceraian, dan ibunya meninggalkan kampung halaman Sungailiat menuju Singapura untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Karena situasi yang tidak memungkinkan, ibunya terpaksa meninggalkan Nooly pada ayahnya dan nenek dari pihak ibunya, Apho Nyook, yang memperlakukan Nooly dengan kejam. 

Sejak semula Apho Nyook mengharapkan cucu keduanya ini seorang laki-laki untuk meneruskan garis keturunan keluarga sesuai tradisi kebudayaan Tionghoa. Ibu Nooly yang secara emosionil ditolak oleh sang mertua dan tertuduh sebagai penyebab ketegangan antara suami dan ibu mertua, mengambil keputusan untuk minggat ke Singapura. Ayah Nooly yang tak kuasa menghadapi itu semua terjerumus menjadi seorang alkoholis dan penjudi.

Sepuluh tahun kemudian, setelah ayahnya meninggal, ibunya datang kembali ke Sungailiat menjemput Nooly, membawanya ke Singapura hidup bersamanya dan suaminya yang baru. Nooly memulai kehidupan baru. Ia tumbuh menjadi seorang gadis jelita yang banyak pengagum, salah satunya ialah William Khoo yang sangat serius kepadanya. Tetapi perasaan penyesalan terhadap ibunya yang menterlantarkannya di Sungailiat, rasa sakit dan terhina sebagai ”anak yang tidak diingini” selalu melekat pada jiwanya. Ia merasa kekosongan yang senantiasa membutuhkan seseorang untuk melengkapi hidupnya.

Kemudian cerita beralih ke pemuda Tonny Foo, anak orang kaya pengawas tambang timah di Sungailiat. Pada pertengahan tahun 60-an, ketika di Indonesia berkecamuk politik rasialis anti-Tionghoa, Tonny ikut besama ribuan pemuda-pemudi Tionghoa menyelamatkan diri ke Tiongkok. Ia meneruskan pendidikannya pada Universitas Fudan di Shanghai. Namun kemudian ia menjadi korban Revolusi Kebudayaan yang berkecamuk. Ia dikhianati oleh seorang teman sekampungnya sendiri yang juga ikut menyelamatkan diri ke Tiongkok. Dibocorkan latarbelakang keluarganya yang adalah keluarga kaya di Sungailiat. Dengan demikian ia digolongkan sebagai musuh kelas. Ia dicaci maki di muka umum, diserang dengan pentungan besi oleh sekumpulan anak muda yang baru belasan tahun hingga menderita luka luka parah. Semua ini terjadi hanya karena ayahnya yang hidup jauh ribuan kilometer di Pulau Bangka dikategorikan sebagai  kaum burjuis, kaum yang diterjemahkan sebagai kaum sangat berbahaya bagi Revolusi. Maka Tonny sebagai keluarga dari kaum burjuis harus dihukum, diganjang, bahkan nyaris dibunuh, berdasarkan hukum rimba pada masa itu.

Pada akhir Revolusi Kebudayaan, Tonny berhasil keluar dari Tiongkok masuk ke Singapura dan bekerja sebagai manajer Perhimpunan Hakka Singapura. Tapi kini ia bukan lagi seorang pemuda bersemangat yang meninggalkan Bangka banyak tahun yang lalu sebagai student yang ingin memberikan kontribusi kepada pembangunan Tiongkok Baru. Perlakuan keji yang dideritanya membuat ia sangat kecewa dengan Tiongkok. Pengalaman buruk itu bukan saja telah merusak pandangannya terhadap dunia yang tadinya ia idam-idamkan, tapi juga membuat dirinya kehilangan arah hidup, kehilangan rasa percaya diri. Luka di badan dapat disembuhkan, tapi luka di hati membuat orang sukar menjalinkan hubungan intimate dengan siapa pun.

Seperti telah ditakdirkan, Nooly jatuh cinta setengah mati pada Tonny. Ia mengagungkan Tonny, memandangnya sebagai pemuda yang akan menyempurnakan hidupnya. Tetapi sebaliknya, meskipun sangat tertarik pada Nooly, Tonny belum bersedia berkomitmen, belum bersedia menempuh hidup tenang berkeluarga. Ia masih berkutat untuk menemukan dirinya sendiri.

Nooly yang membutuhkan kepastian yang tak kunjung didapatkan apakah Tonny benar-benar mencintainya akhirnya menyampaikan keputusan kepada pujaannya itu bahwa ia akan melangsungkan perkawinannya dengan William Khoo. Tonny dihadapkan pada persimpangan jalan, harus mengambil keputusan, akan menghadapi tantangan atau lari dari situasi ini.

Kepandaian May Swan dalam bertutur, caranya menjahit cerita, mengintegrasikan tokoh-tokoh dengan latar belakang sejarah, situasi politik dan tradisi kebudayaan Tionghoa yang ketat ketika itu membuat jalan ceritanya terkesan hidup.

Kegamangan identitas

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkembangan jiwa Tonny, salah satu tokoh inti dalam novel ini, diceritakan penulis dengan mendalam. Terpaksa melarikan diri dari Indonesia yang telah menjadikannya sebagai tanah airnya sendiri sebagai akibat politik rasialis anti-Tionghoa yang berlangsung pada tahun 60-an, pengalaman yang pahit ditolak di ”negeri leluhur”, akhirnya menyelamatkan diri ke Singapura, semuanya sangat mempengaruhi perkembangan jiwanya yang mengakibatkan ia gamang, gagal dalam mengenal dirinya sendiri. 

Dengan menggambarkan ini dalam bentuk literatur, sebenarnya penulis tengah mengungkapkan kegamangan atau kegalauan identitas yang bisa timbul pada seseorang atau sekelompok orang yang menghadapi rintangan-rintangan besar dalam proses pembangunan sebuah bangsa.

Identitas dan keinginan untuk diterima di sebuah lingkungan adalah suatu kebutuhan hidup setiap orang, terutama bagi kaum yang telah terpelajar. Seorang Jawa atau seorang Madura kurang mempunyai persoalan ini. Walaupun ia seorang pengkhianat namun tetap saja merasa dirinya atau dipandang masyarakat sekitar sebagai orang Indonesia. Tidak demikian halnya dengan keturunan Tionghoa. Bagi mereka, identitas dan keinginan untuk diterima lingkungan merupakan suatu perjuangan.

Kegamangan identitas juga bisa tercermin dari perilaku yang tak perlu. Umpamanya acara pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh perkumpulan Tionghoa Indonesia sering dimulai dan ditutup dengan hadirin diminta berdiri, mengumandangkan lagu Indonesia Raya, walaupun acara tersebut adalah pertemuan biasa yang tidak memerlukan pembukaan yang khidmat. Perilaku over kompensasi seperti ini tidaklah perlu. Persamaan hak dan kewajiban semua warga negara dijamin oleh undang-undang.  Pemerintah berkewajiban memastikan segala sesuatu berjalan sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Tionghoa Indonesia adalah salah satu suku bangsa Indonesia yang asal mulanya ”tidak mempunyai wilayah tertentu”. Mereka tersebar di seluruh Nusantara jauh sebelum negara Indonesia berdiri. Kenyataan sejarah ini ditambah terputusnya proses Nation and Character Building setelah pemerintahan Bung Karno dikudeta oleh militer di bawah pimpinan Jenderal Suharto, yang mengganti Nation and Character Building dengan politik diskriminasi tak kepalang tanggung terhadap etnis Tionghoa, menyebabkan masih tersisanya sekat-sekat etnis yang sangat merugikan kehidupan  harmonis berbangsa dan bernegara, merugikan keutuhan dan pembangunan bangsa Indonesia.

Kembali pada Ahok pada pembukaan tulisan ini, pada diri Ahok kita menemukan figur dari etnis Tionghoa Indonesia yang sepenuhnya terbebas dari kegamangan apa pun. Ia sangat mantap berdiri di atas bumi Indonesia, sebagai orang Indonesia dari suku Tionghoa yang sangat percaya diri. Ia juga tidak termasuk kategori mereka yang “tidak mempunyai wilayah tertentu”. Ahok secara emosionil sangat terikat dengan kampung halamannya di Belitung. Ia mudik pada hari-hari besar seperti pada Chinese New Year. Ia sering menjemput referensi dari pengalaman-pengalaman dari kampung halamannya. Ia telah membuktikan pengabdiannya yang luar biasa untuk memerangi budaya korupsi, memberikan contoh dalam mengimplementasikan Pancasila dan konstitusi negara dalam membimbing setiap kebijakan, telah membawa perbaikan nyata pada ibukota Jakarta.

Meskipun demikian, ia tetap saja dikeroyok oleh sebagian warga yang belum sepenuhnya memahami makna Bangsa Indonesia yang pluralis, yang serba multi. Semua jejak pendapat menunjukkan kepuasan warga Jakarta atas kinerja Ahok-Jarot yang selalu di atas 70% tetapi tingkat ektabilitasnya tidak berbanding lurus, hanya sekitar 40%. Suatu anomali yang membuktikan Nation and Character Building bangsa kita masih jauh dari selesai. Kalau seorang Anies Baswedan saja, seorang yang semula (ketika menjadi juru kampanye pasangan Jokowi-JK dalam Pilpres yang lalu) diasumsikan sebagai seorang intelek yang reformis, pada kampanye pemilihan gubernur DKI terjerumus ke dalam lumpur yang tidak terhormat, merapat dan mencari pendukung pada massa intoleran, bagaimana dengan massa luas yang belum sempurna dalam pemahaman bangsa Indonesia yang pluralis dan serba multi? Sungguh bangsa kita menghadapi suatu pekerjaan yang berat dan panjang.

Stockholm,

April 2017