Oleh: A. Kohar Ibrahim

MUNGKIN terlalu subjektif jika saya kemukakan bahwa satu-satunya penyair beberapa zaman yang sejak semula secara gamblang menyatakan keberpihakan hingga dia berpulang ke alam baka adalah HR. Bandaharo, penyair yang terkenal dengan baris sajaknya tak seorang berniat pulang/ walau mati menanti.

Baris sajak itu kini bisa ditafsirkan sebagai kekonsistenannya sebagai penyair atau penulis engage, penulis yang berpihak. Konkretnya, bagi Bandaharo, sekali berpihak teruslah berpihak. Berpihak pada rakyat, pada lagu perjuangan kehidupan manusia sampai hembusan napas yang terakhir.

Sejak awal Orde Baru berdiri, nama HR. Bandaharo telah masuk daftar hitam yang dibuat oleh penguasa militer. Ia diberangus, dipenjara, dan dibuang ke Pulau Buru. Kemudian, setelah menjadi eks-tapol, ia terus mengalami penindasan hingga ia mati merana di ibukota Jakarta. Karena itu, juga karena upaya penggelapan sekaligus pembodohan sang penguasa zalim itu terhadap masyarakat (termasuk terhadap generasi muda), tentulah tidak banyak lagi rakyat Indonesia yang mengenal seorang penyair bernama HR. Bandaharo.

Nama HR. Bandaharo hilang dari ingatan bangsa Indonesia. Padahal pada masanya, terutama di kalangan Lekra, HR. Bandaharo merupakan salah seorang penyair terkemuka. Ia salah seorang penyair Angkatan Pujangga Baru. Salah satu puisi yang terkenal dan secara jelas menandakan keberpihakan yang lahir dari HR. Bandaharo berjudul "Sarinah dan Aku". Puisi itu diterbitkan tahun 1939 dan dinilai sebagai sebuah puisi yang bersifat patriotik dan bergaya realisma romantika, seperti yang tersurat dalam biodata kumpulan puisinya berjudul Dosa Apa (Yayasan Inkultra, Jakarta, 1981).

Biodata itu memang ringkas saja, tetapi penting disimak. Dari biodata itu diketahui HR. Bandaharo lahir di Medan tahun 1917. Ayahnya bernama HR. Mohammad Said, seorang konsul Muhammadiyah untuk Sumatera Timur pada masa sebelum Perang Dunia II. Bandaharo menempuh pendidikan menengah Belanda (MULO) dan bergiat di bidang sastra sejak umur 16 tahun. Karyanya banyak dimuat di Pedoman Masyarakat yang terbit di Medan. Majalah ini dipimpin HAMKA dan Yunan Nasution. Bandaharo juga ikut ambil bagian dalam Revolusi Agustus '45, kemudian ia menulis di beberapa surat kabar terbitan Medan. Sejumlah kreasinya dapat dijumpai di majalah Zaman Baru, Zenith, Kebudayaan, dan lain-lain.

Tentu saja tidak hanya sebatas itu kiprah HR. Bandaharo. Sebagai pekerja kebudayaan, terutama sebagai jurnalis-penulis-penyair, Banda (sebutan akrabnya) telah berjasa besar dalam upaya mengembangkan kebudayaan bangsa dan rakyat Indonesia. Selama beberapa zaman Banda ikut berperan aktif di bidang ini, dari zaman penjajah Belanda hingga zaman Orde Baru. Dalam "Pembicaraan Sekedar Pengantar" untuk buku Sepuluh Sajak Berkisah (Yayasan SKBI, Amsterdam, 1986), Adam Lipsia telah melengkapi apa dan siapanya HR. Bandaharo. Adam Lipsia memang kenal benar dengan penyair HR. bandaharo karena keduanya sama-sama jurnalis-penulis-penyair, dan sama-sama "orang Medan"!

Akan halnya Adam Lipsia, saya cukup pula mengenal Banda sekalipun saya bukan "orang Medan". Pengenalan saya terhadap Banda menjadi lebih baik sejak Banda dari Medan pindah ke Jakarta, terutama sejak beberapa tahun saya turut serta mengelola ruang kebudayaan HR Minggu. Di Jakarta, Banda memimpin ruang kebudayaan ini bersama Zubir A.A., Amarzan Ismail Hamid, Sutikno W.S., dan Bambang Sukowati Dewantara. Minimal seminggu sekali saya berjumpa dengan Banda. Sebab, jika tidak jumpa di kantor Lekra di Jalan Cidurian, Cikini Raya, tiap Jumat pasti ketemu di ruang redaksi.

Selaku pemimpin redaksi kebudayaan, Banda sangat memperhatikan mutu tiap sajian, dari variasinya hingga soal salah tik. Karena, katanya, "Hal itu bisa mengurangi perhatian bahkan membikin pembaca muak." Dalam hal ini, Banda memperhatikan benar dari kata pertama judul artikel dan nama penulis karena dia sendiri tidak senang kalau terjadi salah tulis terhadap namanya, sekalipun kesalahan itu cuma satu huruf. Misalnya, yang semestinya huruf besar ditulis dengan huruf kecil. Nama Banda sendiri jika ditulis "Hr Bandaharo", itu keliru. Yang benar adalah "HR Bandaharo". Dalam hal penulisan nama, saya ingat, kami pernah digerutui Pram karena kerap kami menuliskan namanya dengan menggunakan huruf /u/, padahal yang semestinya menggunakan /oe/. Jadi, jangan menulis "Pramudya Ananta Tur", tetapi tulislah "Pramoedya Ananta Toer". Demikian halnya nama "Joebaar Ajoeb". Harus dihindari kesalahan penulisannya, misalnya, menjadi "Jubar Ajub".

Alhasil, sekalipun bukan yang tergolong orang perfeksionis, Banda memiliki perhatian yang besar dalam memberikan isi dan sajian kepada pembaca. Bahkan tidak hanya itu, sebagai pekerja budaya sekaligus nyamuk pers senior, dia pun sangat memperhatikan kawan-kawan sekerja, termasuk yang muda-muda seperti saya dan Amarzan. Dan dia sangat bijak dalam memberikan penilaian yang layak kepada anggota redaksi yang menunaikan tugas dengan baik dan penuh semangat. Kami menyadari, dan Banda pun paham sekali, akan tugas dan tanggung jawab untuk turut serta memajukan kebudayaan nasional yang kerakyatan. Sekalipun upah yang kami terima tidak seberapa, pas-pasan saja, kami selalu memiliki semangat yang tinggi, apalagi kalau mendengar ujar-ulang Banda yang berkaitan dengan perkembangan zaman.

"Kondisi dan sarana yang kita punya sekarang ini sudah jauh lebih baik dari yang sebelumnya." Itu dikatakan Banda suatu kali di kantor (yang baru) sekaligus percetakan PT Rakyat di Jalan Pintu Air Dua. Banda mengatakan itu sambil melirik cerpenis Zubir A.A. yang tinggi langsing dan berkumis seperti Maxim Gorki. Sekalipun Zubir A.A. lebih muda dibandingkan dengan Banda, ia tertua di antara kami yang muda-muda. Zubir A.A. bukan semata-mata tukang cerpen. Ia juga seorang tukang kerja. Banda kenal sekali dengan Bang Zubir karena memang Bang Zubir salah seorang "anak didik" Banda ketika bekerja di salah satu koran di Medan. Kena lirik Banda, Bang Zubir hanya ketawa kecil, memamerkan dua biji giginya yang ompong. Rupanya, Banda hanya ingin mengingatkan sang cerpenis yang "bahkan sejak di Medan" sudah dikenal sebagai "tukang kerja yang tahan lapar."

Zubir mengakui kebenaran konstatasi Banda itu. Kondisi dan sarana di Pintu Air Dua itu beda sekali dengan kantor dan percetakan yang di Pintu Besar Utara, Jakarta Kota. Yang ini, selain mesin cetaknya sudah tua, pembuatan judul masih banyak menggunakan sistem handset, sementara yang di Pintu Air Dua menggunakan mesin baru dengan kecepatan yang, saat itu, sudah luar biasa: mencetak koran dengan oplah seratus ribu eksemplar lebih selesai hanya dalam waktu beberapa jam dan keluar sudah rapi dalam lipatan ?tinggal mengepaknya saja. Tambahan pula, selain ruang-ruang kantor redaksi yang pantas dan luas, ada juga kantin tersendiri, yang tidak lagi bau timah ketika menyantap masakan di sana.

"Ah, tak usahlah membandingkannya dengan suasana ketika di Medan!" ujar Banda, masih melirik si tukang kerja tahan lapar. Tapi, perkataan itu terasa ditujukan kepada kami semua. "Betul, 'kan, Zubir? Ingat Kau?"

Zubir A.A. hanya manggut-manggut dan mesam-mesem. Dia paham sekali, Banda memang tak cuma mengarang-ngarang. Apa yang diutarakan benar adanya. Dan Zubir, juga anak-anak Medan lainnya, membenarkan fakta-fakta yang diungkapkan Banda. Maka, ketika Adam Lispia alias Agam Wispi memberikan data-data jejak langkah HR. Bandaharo, saya bisa meng-iya-kan lantaran cocok dengan apa yang diketahui oleh anak-anak Medan lainnya seperti Zubir A.A., Amarzan, dan Iskandar.

Agam Wispi dalam pengantar untuk Sepuluh Sanjak Berkisah mengutarakan beberapa hal menarik. Ia mempunyai kesan bahwa buku sajak Sarinah dan Aku yang diterbitkan 1939 itu napas puisinya masih dapat dirasakan puluhan tahun kemudian seperti yang ada dalam sajak yang ditulis di Pulau Buru (1975) Aku Hadir di Hari Ini, tegasnya napas "Pujangga Baru". Hal serupa juga terasa pada sajaknya yang lain, "Mirakel Tahun 2000". Terlalu panjang untuk disitir di sini, tapi bisa dicoba dengan menyimak beberapa baitnya sebagai berikut.

Ayahku seumur hidupnya seorang penjuang.

Ia mati dalam keadaan papa
tak meninggalkan apa-apa
kecuali suatu cita-cita
tentang kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan
kehidupan makmur dan keadilan
dan jaminan atas hak asasi manusia.

Hanya itu warisannya
disampaikan dengan dengus napas terakhir
dan lega ia meninggalkan dunia fana ini.
Anak-anaknya akan meneruskan perjuangannya
sampai ke ujung hayat.
Lalu menyampaikan pula pada turunan mereka
cita-cita yang sama, juang yang sama.

Kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan
kemakmuran dan keadilan
dan jaminan hak azasi manusia.

Itulah mimpi indah yang menyihir
memberi hidup dan melangsungkan hidup
menyalakan juang dari abad ke abad.
Warisan turun-temurun
bagi si papa dan si miskin
di dunia, di semua negeri.

Begitulah rupanya, Banda seorang penyair engage sekaligus pemimpi indah yang turun-temurun. Bahkan, hingga ia meninggalkan dunia fana ini tanggal 1 April 1993 di ibukota Republik Indonesia, Jakarta. Jakarta begitu gegap gempita dengan hutan rimba gedung pencakar langit yang megah-megah. Namun, di sana pula salah seorang penyairnya yang besar, HR. Bandaharo, menghembuskan napas terakhirnya dalam keadaan menderita dan sengsara.***

18/01/2004

---------------------
* A. Kohar Ibrahim adalah pemerhati sosio-budaya, penulis, pelukis tamatan Akademi Seni Rupa Kerajaan Belgia. Pernah menjadi anggota dewan redaksi majalah kebudayaan Zaman Baru bersama Rivai Apin dan S. Ananataguna pada masa rezim Orde Lama; editor majalah Kreasi dan Arena (1989-1999). Belakangan menyiarkan berkas tulisannya, antara lain, di Swara, Sijori Pos, Batam Pos, dan Cybersastra.net. Biodatanya antara lain dapat disimak dalam Who's Who in International Art, International Biographical Art Dictionnary edisi Loussane, Swiss 1988.