(62) 812 245 6452

Info Kegiatan

 
 

Oleh: Festival Indonesia Menggugat #3

Pekan Literasi Kebangsaan (PLK) adalah inisiasi sederhana dari pemuda-pemudi yang percaya bahwa demokrasi bukan sekedar urusan elektoral semata. Demokrasi perlu disemai dengan gagasan yang utuh dan kualitatif, karena itu gerakan literasi penjadi POKOK untuk dimajukan.

Puluhan jejaring komunitas yang berwatak demokratik mengambil peran aktif dalam Pekan Literasi Kebangsaan (PLK) ini. Mulai dari komunitas buku, teater, penggiat film, jurnalis, buruh, tani, mahasiswa, hingga kaum miskin kota dan tak lupa juga kawan-kawan disabilitas di kota Bandung.

Ada 20 penerbit & toko buku alternatif yang menggelar lapak selama 7 hari, mulai dari tanggal 1 hingga 7 Desember 2016.

Yang sudah tercatat di antaranya (mungkin saja bertambah) : Ultimus, Resist Book, Banana Publisher, Marjin Kiri, Komunitas Bambu, Indie Book Corner, OAK, Circa, Metabangsa, EA Books, Svatantra, Katarsis Book, Jaringan Buku Alternatif, Kebul Buku, Lawangbuku, Harsh Distribution, Teras Buku, Lumbung Buku, Kentjapress Ciamis dan Langgam Pustaka Tasik.

Beberapa di antaranya mengadakan diskusi dan peluncuran buku. Termasuk buku perjuangan buruh yang ditulis oleh kawan-kawan buruh sendiri.

Juga ada Pameran 14 Komunitas Literasi. Ada Majelis Sastra Bandung, KabarKampus.com, Perpustakaan Apresiasi, Walhi Jabar, Buruan.co, Komunitas Aleut, Asian African Reading Club, Layar Kita, Perpustakaan Jalanan Bandung, Kamisan Bandung, Perpustakaan Zine Bandung, Jakatarub, Rumah Cemara, Sorge, dan lain-lain.

Ada mahasiswa-mahasiswa penggiat teater dari berbagai kampus se-Bandung bersama kawan-kawan Pers Mahasiswa Se-Bandung menggelar pertujukan “Pasar seni Masalah”. Mereka percaya seni bukan sekedar etalase tapi sarana menggelar masalah-masalah kehidupan, tentunya untuk dicari solusi dan langkah nyata penyelesaiannya. Mereka di antaranya Stuba Unisba, Sadaya Unikom, Topeng Marnat (Maranatha), Collective ISBI, Suara Mahasiswa Unisba, Daundjati ISBI, Birama Unikom, Sadaya Unikom, dll.

Ada pemutaran lebih dari 30 film dokumenter yang digarap oleh sineas-sineas muda berbakat lagi kritis dengan beragam tema, mulai dari persoalan pembangunan di kota hingga kehidupan warga disabilitas di suatu desa. Ada yang memenangkan festival internasional dan ada juga yang sudah menjadi referensi di berbagai kajian akademis dalam dan luar negeri, selain tentunya menjadi sarana belajar bagi rakyat mengkuliti situasi ketertindasan yang ada. Di antaranya telah membuat gemetar kaum kapitalis dan penguasa.

Pada Pekan Literasi Kebangsaan (PLK) ini juga ada Bincang-Bincang Komunitas yang akan melibatkan lebih dari 50 komunitas di Bandung.

Di antaranya, RBS Standup Garut, Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia, LBH Bandung, i-Tshirt, AJI Bandung, Watchdoc, GORI Bandung, IM Books, Boredoom, Komunitas Taman Kota, Omuniuum, SoraSoca, Rannisakursik, Pembebasan, Meta Ruang, Noura Book, GIM (Gedung Indonesia Menggugat), Komunitas WOKE, Padi Kapas, KOPI (Komunitas Perfilman Intertekstual), Sedekah Buku Indonesia, Media Mahasiswa Indonesia, MEDLIT, Birama Unikom, Sadaya Unikom, Standup Comedy Unikom, Omunium, K Lite, Idea dan lain-lain. Juga tak ketinggalan komunitas dokter, pejuang HAM dan diskriminasi, pejuang lingkungan, peneliti, komunitas sastra dan lain-lain.

Ada 8 komunitas/kedai kopi yang secara bergiliran setiap hari menyediakan kopi gratis untuk pengunjung. KaKa Cafe, Garasi Merdesa (Walhi), Kedai Preanger, Kedai Kopi Congress KapeRI (Congress Coffee), Daily Routine, The Social Club Coffee (LBH Bandung), Das Kopital dan Communal Coffee.

Tak ada sponsor, tak ada penyandang dana. Kegiatan yang dipersiapkan dengan swadaya dan gotong royong selama 2-3 minggu ini, telah menumbuhkan keyakinan sepenuhnya bahwa partisipasi komunal mampu mengatasi persoalan dan keterbatasan apa pun sekaligus menjadi jalan terbaik membangun budaya bangsa.

Dari Gedung Indonesia Menggugat, bersama-sama kita belajar menyusun tesis perubahan ke arah yang lebih baik.

Selamat merayakan literasi..

Bandung, 1 Desember 2016