Sunyi Senyap di Padepokan Seni
Written by Amaliya   
Tuesday, 10 November 2009 19:23

Gedung kesenian (GK) yang tidak juga mampu melewati masa kritisnya merupakan potret ketidakseriusan pemerintah daerah terhadap seni. Fungsi GK pun seolah tercerabut dari akarnya, tergeser oleh, katakanlah, hotel yang lebih sering dipilih sebagai tempat pementasan seni dan budaya.

Ambillah contoh Gedung Padepokan Seni (Padepokan) yang terletak di Jln. Peta Kota Bandung. Gedung milik Pemerintah Kota Bandung yang disahkan oleh Gubernur Jawa Barat (Jabar) Yogie S.M. itu merupakan salah satu saksi bisu yang secara perlahan terbunuh rohnya karena fisik dan fungsinya yang tak lagi utuh.

Lahir pada September 1987, Padepokan pernah mengelar Festival Film Indonesia. Bangunannya masih kokoh dengan arsitektur khas Sunda, Julang Ngapak. Namun, jika pembaca pernah melihat iklan yang membandingkan dua rumah yang salah satunya dilindungi cat produsen tertentu, Padepokan lebih mirip dengan "yang tak terlindungi".

Gerbang masuk yang di atasnya terdapat plang Padepokan Seni tak lagi berfungsi sehingga hanya menjadi onggokan besi dengan cat hitam hijau pudar. Tempat lampu di latarnya pun telah cokelat kehitaman dimakan karat.

Sementara itu, pintu masuk utama gedung hanya ditahan oleh besi panjang yang terkunci oleh baut. Solihin, salah seorang penjaga Padepokan, memutar baut itu berulang-ulang untuk membukanya. Langit-langit halaman Padepokan pun berbecak cokelat, kenang-kenangan sang hujan.

Memasuki ruang utama pertunjukan (indoor), terlihat tujuh trap lengkungan membentuk tribun penonton berkapasitas 400 orang. Masih bagus. Perlengkapan air conditioning (AC) pun menurut Solihin masih berfungsi normal meski terlihat cukup berdebu. Cahaya pun sesekali mengilat melalui lubang bekas tempat lampu yang tak lagi berfungsi. Tembok-tembok berbecak tetap mengusik mata. Sunyi senyap. Remang.

Beralih ke panggung indoor, Padepokan memiliki fasilitas lampu pentas yang masih utuh. Pengeras suaranya pun ada yang baru, mengganti pengeras suara lama yang mulai usang. Namun, beberapa pengait tirai panggung terlepas terjulai mengganggu pemandangan seperti halnya tirai yang terikat seadanya.

Sedikit bergeser ke kanan panggung, kayu yang menutup lantai semen tampak terurai. Jadi, jika kaki menginjak lantai itu, suara kreek mengiringi langkah sang kaki. Kondisi itu didukung oleh fasilitas washtafel, musala, dan ruang ganti yang juga tak normal.

Namun, cobalah ke luar menuju ruang pertunjukan outdoor yang tepat berada di belakang ruang indoor tadi. Sepoi angin terasa sejuk, datang dari taman yang ada di kanan dan kiri ruang berkapasitas 1.000 orang itu. Sayangnya, bangunan yang dilengkapi dua pendopo di sisi panggungnya itu tetap saja cacat pada beberapa petak keramiknya.

Solihin mengungkapkan, kondisi fisik Padepokan saat ini tak kunjung beranjak dari kondisinya enam tahun lalu. Namun, Solihin mencatat ada perbedaan. Perbedaan itu, katanya, sekarang Padepokan digunakan sebatas sebagai tempat latihan atau geladi resik, bukan lagi sebagai tempat pementasan seperti sedia kala.

Kesenian Sunda, sandiwara, dan pencak silat diingat Solihin sebagai komunitas yang sering menggunakan gedung itu. Dalam satu minggu bisa tiga hingga empat geladi resik dilangsungkan di sana.

Sementara itu, Kepala Pengelola Padepokan Seni, Soni Teguh Prasetya mengatakan, sejak 2005 tidak ada lagi kegiatan rutin yang dilakukan seperti wayang golek dan longser. "Jadi memang lebih digunakan untuk latihan-latihan. Masalahnya, tidak ada lagi kucuran dana. Oleh karena itu, kegiatan dari Disbudpar terhenti," kata dia.

Adapun kegiatan pementasan, menurut Soni, lebih kepada kegiatan komunitas seni, bukan lagi kegiatan yang sengaja dikemas sebagai pertunjukan besar. "Ya kegiatannya dari kita, untuk kita, tapi dibuka juga untuk umum dengan tiket Rp 2.000,00," kata dia.

Pengelola pun mau tak mau bekerja sama dengan lingkung seni sekitar agar Padepokan tetap hidup. "Tahun 2008 baru tercatat empat pertunjukan yang dilangsungkan," kata dia. Terbentur pada kapasitas mereka yang bukanlah seniman, kreativitas Padepokan tidak begitu megah.

Eksistensi Padepokan Seni ke depan menjadi sebuah tanda tanya besar bagi kaum seniman khususnya dan masyarakat Kota Bandung umumnya. Secara fisik tak terurus, publikasi pun tak menjadi fokus yang dipikirkan baik oleh pemkot maupun pengelolanya. Tak ada website yang bisa merujuk pada eksistensi PS di dunia maya.

Jangankan publikasi, sejarah gedung Padepokan pun tak tercatat dengan rapi sebagai dokumentasi internal. Soni pun yang baru menjabat pada Maret 2008 kalang kabut saat harus menjelaskan mengenai jejak rekam PS. "Sejak saya menjadi kepala di sini, tak ada selembar pun data. Saya coba tanyakan kepala yayasan sebelumnya, tapi tidak ada yang tahu," kata dia menjelaskan.

**

Dari sisi manajemen, tampaknya Ultimus yang terletak di Jln. Lengkong Besar 127 Bandung, bisa dijadikan sebagai pembanding. Berangkat sebagai komunitas baca, kelompok ini mendirikan toko buku Ultimus sebagai simbol kebanggaan.

Di sisi lain, komunitas ini memiliki ruang untuk pertunjukan seperti halnya di Padepokan. Pertunjukan musik, teater, puisi, diskusi, hingga peluncuran buku sering dilangsungkan di ruang terbuka berkapasitas 50 orang itu. Namun, keadaan ruang tadi sangat jauh berbeda dengan gedung Padepokan. Gedung Padepokan jauh lebih bagus.

Kendati demikian, Ultimus masih terlihat hidup sebagai tempat pementasan maupun diskusi. Pengelola yang tak lain merupakan komunitas baca tadi, konsisten mempertahankan komitmen atas minat baca yang diusung sebagai komitmen pendirian Ultimus.

Sebulan sekali, kegiatan rutin berupa diskusi buku dilakukan pengelola Ultimus. "Untuk kegiatan formal, dalam sebulan ada dua diskusi yang merupakan inisiatif Ultimus. Kami sengaja mengusung diskusi buku karena berkaitan dengan buku sebagai komoditas utama Ultimus. Kalau kegiatan informalnya setiap Senin, Selasa, dan Kamis," ujar Ketua Pengelola Ultimus Bilven.

Menjadi pengelola yang berangkat dari komunitas menjadi salah satu senjata Ultimus merangkul komunitas lain untuk berkegiatan di sana. Kedekatan antarkomunitas mempermudah publikasi Ultimus. Mengenai jejak rekam Ultimus, oleh pengelola, dicatat di milis dunia maya sehingga dapat diakses publik. (Amaliya) ***