|
Dari Diskusi Lekra dan Politik Sastra di Bandung |
|
Written by Asep Sambodja
|
|
Saturday, 19 June 2010 12:27 |
|
Dalam diskusi “Lekra dan Politik Sastra” di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Sabtu, 20 Maret 2010, Jakob Sumardjo mengatakan, “berbeda dengan tahun 1950-1960-an, ketika Lekra selalu dikaitkan dengan partai politik, Lekra yang sekarang adalah Neo Lekra.” Hal itu dikatakan Jakob Sumardjo menanggapi pernyataan penyair Lekra Sutikno W.S. yang hadir dalam diskusi tersebut. Pujangga Boemipoetra Saut Situmorang yang juga menjadi pembicara menambahkan, “Sudah waktunya membentuk Lekra Baru, karena sudah terlalu lama Lekra ditenggelamkan.” Dalam diskusi yang dipadati seniman-seniman muda Bandung itu, Sutikno W.S. mengatakan perlunya sastrawan menghasilkan karya yang tinggi mutu ideologinya dan tinggi mutu artistiknya. “Yang dimaksud tinggi mutu ideologi adalah bagaimana sastra kita bersikap memuliakan kehidupan, menghormati kemanusiaan, mensyukuri kehidupan. Kuncinya: memuliakan kemanusiaan,” kata Sutikno.
|
|
|
Dari Diskusi Buku Dua Penyair Lekra di FIBUI Depok |
|
Written by Asep Sambodja
|
|
Saturday, 19 June 2010 12:21 |
|
Buku Puisi-puisi dari Penjara karya S. Anantaguna dan Nyanyian dalam Kelam karya Sutikno W.S. merupakan wakil dari sastra Indonesia yang hilang. Demikian pendapat Hilmar Farid dalam Diskusi Buku Dua Penyair Lekra yang diselenggarakan oleh Departemen Susastra FIB UI bekerja sama dengan IKSI FIBUI dan Penerbit Ultimus Bandung di Auditorium Gd. IV FIBUI pada Kamis, 25 Februari 2010. Lebih lanjut Hilmar Farid mengatakan, minimal dari dua buku puisi ini bisa dijadikan skripsi oleh mahasiswa. “Kalau bisa menjadi tesis akan lebih baik,” katanya. Sebab, “kehadiran sastra Lekra sekarang ini menjadi keping-keping sastra Indonesia yang hilang.”
|
|
TB Ultimus Terus Dijadikan Rumah Kaca |
|
Written by Administrator
|
|
Friday, 05 June 2009 07:00 |
|
Jakarta, RMonline. Tak putus-putus, kecurigaan polisi terhadap aktivitas Toko Buku Ultimus dan Rumah Kiri di jalan Rangkas Bitung nomor 2, Bandung terus berlangsung hingga kini.
Menurut Sadikin, salah seorang aktivis Ultimus, sejak kegiatan mereka diaktifkan kembali setahun belakangan ini, tak bosan-bosan polisi mendatangi toko buku yang. Bahkan, tak sekadar membeli buku, polisi juga kerap bertanya mengenai kegiatan diskusi rutin “June Rally” yang digelar di tempat itu.
|
|
Diskusi Marxis Dibubarkan Massa, Panitia, Pembicara, dan Penonton Ditangkap Polisi |
|
Written by Ahmad Fikri
|
|
Friday, 15 December 2006 07:00 |
|
TEMPO Interaktif, Bandung:Diskusi Marxis yang diselenggarakan oleh rumah buku Ultimus, Jalan Lengkong 127, Bandung dibubarkan paksa oleh ormas yang menamakan diri Persatuan Masyarakat Anti Komunis (Permak). "Padahal tidak ada tendensi apapun untuk menyebarkan paham komunisme," kata Bilven, pemilik Ultimus yang kini menyembunyikan diri pada Tempo.
|
|
|
|
|
|