|
Seni dan Kehidupan Sosial |
|
Written by Administrator
|
|
Tuesday, 10 November 2009 17:46 |
|
Georgii Valentinovich Plekhanov adalah Bapak Marxisme Rusia sekaligus sarjana ilmu sosial terkemuka di masanya. Buku ini merupakan salah satu buku pegangan bagi para pegiat seni penganut kepercayaan “seni untuk masyarakat” yang berseberangan dengan penganut “seni untuk seni”. Dalam buku yang berupa kumpulan beberapa esai dan surat-surat panjang ini, kita bisa merasakan kuatnya gagasan materialisme historis yang merupakan teori terpenting ilmu-ilmu sosial Marxis.
Dalam buku ini Plekanov menggunakannya untuk menganalisis seni dan praktek berkesenian masyarakat.Menurut Plekhanov, seni adalah gejala sosial. Dalam kerangka materialisme historis, artinya bahwa seni bukan semata hasil kegiatan pikiran dan olah rasa dari individu seniman, tetapi merupakan pantulan dari realitas sosial yang di situ si seniman hidup dan menjadi bagian dari lapisan sosialnya. Di satu sisi, Plekhanov mengkritik gagasan bahwa seni tiada lain hanya pantulan dari perasaan individual seniman, di sisi lain dia juga keberatan dengan gagasan materialisme vulgar dari Darwinis yang menarik seni ke akar biologis. Baginya banyak bukti yang menunjukkan bahwa selera keindahan, wujud seni, dan ‘kepercayaan’ akan keindahan tertentu sangat tidak berkaitan dengan biologi. Pengertian akan keindahan sangat beragam pada berbagai bangsa dalam ras yang sama sehingga dapat dikatakan bahwa sumber keragaman itu tidak mungkin dicari dalam biologi. Selera keindahan berkaitan dengan gagasan-gagasan kompleks dan serangkaian pemikiran suatu masyarakat yang terakumulasi melewati rentang sejarah. Tapi, dari mana gagasan kompleks ini muncul?
Gagasan ini muncul sebagai pantulan dari kondisi-kondisi material kehidupan masyarakat. Kondisi material utama adalah ragam produksi dan reproduksi masyarakat serta perubahan-perubahannya.Meski bukan seorang antropolog, Plekhanov banyak sekali merujuk etnografi-etnografi dari berbagai masyarakat di penjuru bumi untuk mendukung argumennya. |
|
|
Written by Galih
|
|
Tuesday, 10 November 2009 17:46 |
|
Buku yang memuat 82 sajak Samsir Mohamad ini merupakan suara yang menyuarakan keluhan, kekecewaan, kecaman terhadap institusi bernama pemerintah. Yang harus diperhatikan dan lebih dicermati dalam kesederhaan bahasa dalam sajak-sajaknya adalah bahwa dia merupakan saksi hidup sejarah Indonesia—seseorang yang dekat dengan lingkup kekuasaan yang melihat betapa bobroknya intitusi-institusi tersebut. Ada kejujuran di dalamnya, sesuatu yang menjadi penting dalam sebuah karya sastra. Kejujuran untuk menyuarakan kebenaran. Konsistensi tema-tema dalam puisinya sejak masa revolusi fisik dengan belanda sampai era reformasi sekarang menunjukkan betapa kepedulianya terhadap moralitas para punggawa-punggawa institusi tersebut, dimana nasib rakyat bergantung pada mereka.
|
|
|
|
|
|