|
Written by tri widiyantie
|
|
Saturday, 19 June 2010 11:37 |
|
TIDAK banyak penerbit besar berani mencetak buku-buku dari penulis pemula. Padahal karya-karya mereka bisa jadi lebih banyak menyimpan makna atau sejarah yang layak dibaca. Namun demikian, bagi sebagian toko buku yang masih mengedepankan sisi idealis terhadap kualitas buku, karya tersebut bisa menjadi mahacipta yang indah. Ultimus misalnya. Toko buku yang sudah berdiri sejak tahun 2001 ini menjadi penerbit yang sukses mencetak beberapa judul buku yang setengahnya ditulis oleh penulis pemula. "Dalam menebitkan buku, kita cenderung memilih tema yang menyinggung nilai-nilai filsafat, sejarah, memoar atau juga sastra. Dan kami tidak melihat siapa yang menulis, tapi apa yang dia tulis," papar Bilven, salah seorang owner Ultimus.
|
|
|
Sunyi Senyap di Padepokan Seni |
|
Written by Amaliya
|
|
Tuesday, 10 November 2009 19:23 |
|
Gedung kesenian (GK) yang tidak juga mampu melewati masa kritisnya merupakan potret ketidakseriusan pemerintah daerah terhadap seni. Fungsi GK pun seolah tercerabut dari akarnya, tergeser oleh, katakanlah, hotel yang lebih sering dipilih sebagai tempat pementasan seni dan budaya.
Ambillah contoh Gedung Padepokan Seni (Padepokan) yang terletak di Jln. Peta Kota Bandung. Gedung milik Pemerintah Kota Bandung yang disahkan oleh Gubernur Jawa Barat (Jabar) Yogie S.M. itu merupakan salah satu saksi bisu yang secara perlahan terbunuh rohnya karena fisik dan fungsinya yang tak lagi utuh.
|
|
Written by Anton Kurnia
|
|
Tuesday, 10 November 2009 17:14 |
|
Kata “kiri” sudah lama sekali menjadi sesuatu yang angker sekaligus amat sexy di negeri ini, tapi diam-diam juga dibenci. Istilah “kiri” biasanya mengacu pada sesuatu yang berkaitan dengan komunisme, sosialisme dan marxisme (walaupun ketiga hal itu tentu saja berbeda satu sama lain) atau sesuatu yang anti-kemapanan.
|
|
Toko Buku dengan Sentuhan Personal |
|
Written by Sita Planasari, Rana Akbari, Fitriawan, Rinny Srihartini, Mawar Kusuma
|
|
Tuesday, 10 November 2009 16:23 |
|
Sejumlah toko buku didirikan dengan semangat memberi alternatif. Ada yang memilih segmen anak dan remaja, menjual buku seken, dan berkonsep pujasera. Lakukah?
Suatu saat, jaringan toko buku besar Foxbook mendirikan cabangnya yang kesekian, tepat di seberang toko itu. Meski dikelola dengan sepenuh hati, namun para pelanggan setia toko independen ini mulai tergoda oleh tawaran menarik hypermarket buku itu.
|
|
Written by Puthut E.A.
|
|
Friday, 15 December 2006 07:00 |
|
Siang kemarin aku baru saja merampungkan kisah gila dua sahabat, Sergey Brin dan Larry Page, di dalam sebuah buku yang memikat, Google Story. Mereka berdua masih belum genap tiga puluh tahun ketika mengguncang dunia dengan proyek mesin pencari di dunia maya, yang mustahil bagi para pengguna dunia maya tidak mengenal mesin pencari ini, Google. Mereka juga belum genap tiga puluh tahun ketika memelengakkan kepala banyak pialang saham di Wall Street dengan polah yang tidak konvensional. Dan mereka masih tetap belum genap tiga puluh ketika mendongakkan kepala, menantang dominasi raksasa Microsoft dengan penguasanya, orang terkaya di Amerika, Bill Gates.
|
|
|
|
|
|
|
Page 1 of 2 |