(62) 812 245 6452

0 item(s) - Rp 0
  • Mengenang Gubuk Reyot

dan cerita-cerita lainnya.

 

Editor: Bilven.
Desain sampul: Dhany A.

 

Penulis buku ini, Syarkawi Manap, adalah salah seorang mahasiswa yang dikirim untuk studi ke Kuba, dan menolak pulang. Paspornya kemudian dicabut paksa oleh pemerintah orde baru dan ia hidup tanpa kewarganegaraan (stateless) sejak akhir 1966. Ia ‘berkelana’ dan ‘kelayapan’ dari satu negeri ke negeri lain menjadi seorang ‘eksil’ seperti ribuan orang Indonesia yang bernasib sama. 

 

Cerita perjalanan hidup Syarkawi Manap, yang ditulis secara jujur dan lengkap, sudah diterbitkan sebelum buku ini dengan judul Kisah Perjalanan (Ultimus; 2009) setebal 300-an halaman. Sedangkan buku pertamanya, Di Pengasingan (Ultimus; 2007), berisi kumpulan cerita-cerita pendeknya yang hampir semua menceritakan kehidupan sehari-hari selama di pengasingan dengan gaya bahasa yang sederhana tapi kaya pengalaman.

 

Buku ketiga Syarkawi Manap ini, Mengenang Gubuk Reyot, ditulis secara ringan dan sederhana, namun mengandung nilai-nilai pengalaman, sejarah, dan kemanusiaan yang besar. Tentu karena ditulis berdasarkan kisah nyata.

 

SYARKAWI MANAP, lahir di Tanjung Raya, Lahat, Sumatera Selatan, pada 30 Juni 1942, putra keempat dari enam bersaudara keluarga Manap. Pernah belajar di Akademi Ilmu Sosial Aliarcham, kemudian melanjutkan pelajaran di Havana (Kuba), selama dua tahun. Karena terjadi peristiwa G30S di tanah air, sejak akhir 1966 berstatus stateless (tanpa kewarganegaraan) sampai tahun 1992. Dari Kuba, ke Vietnam, dan atas bantuan Pemerintah Republik Demokrasi Vietnam, diberi kesempatan belajar di negeri itu selama dua tahun. Selanjutnya pindah ke Tiongkok untuk belajar di kota Yang Chow, Provinsi Chiang Xu, selama dua tahun. Dari situ pindah lagi ke Luo Hua di Provinsi Chiang Xi untuk bekerja. Tiga tahun kemudian, pindah lagi ke Yen Thai di Provinsi Shan Tung untuk belajar selama dua tahun. Setelah menyelesaikan pelajaran di Yen Thai, pindah ke Birma (sekarang Myanmar) untuk bekerja. Setelah enam tahun bekerja di Birma, pindah lagi ke Tiongkok untuk bekerja di Nan Chang, ibu kota Provinsi Chiang Xi. Lima tahun kemudian, beserta keluarga pindah ke Swedia, diberi suaka politik oleh Pemerintah Kerajaan Swedia, dan setelah lima tahun tinggal di negeri ini, mendapat kewarganegaraan Swedia hingga kini.

 

Write a review

Please login or register to review

Mengenang Gubuk Reyot

  • Penerbit : Ultimus
  • Cetakan : 1, Okt 2013
  • Pengarang: Syarkawi Manap
  • Halaman : x + 142
  • Dimensi : 14.5 X 20.5 cm
  • ISBN : 978-602-8331-41-8
  • Availability: 10
  • Rp 35,000


Related Products

Gelas-Gelas Retak

Gelas-Gelas Retak

Trilogi Catatan Harian Aktivis PNI & Tragedi 1..

Rp 65,000

Akar dan Dalang

Akar dan Dalang

Pembantaian Manusia Tak Berdosa dan Penggulingan B..

Rp 65,000

Banten Seabad Setelah Multatuli

Banten Seabad Setelah Multatuli

Catatan Seorang Tapol 12 Tahun dalam Tahanan, Kerj..

Rp 50,000

Keluarga Abangan

Keluarga Abangan

(memoar).   Pengantar: Stanley Adi Prasetyo. Edi..

Rp 40,000

Wounded Longing

Wounded Longing

short story collection.   Translator:Dr. Keith ..

Rp 25,000

Aku Hadir di Hari Ini

Aku Hadir di Hari Ini

Kumpulan Puisi Hr. Bandaharo.   Editor: Putu Oka..

Rp 35,000

Pelita Keajaiban Dunia

Pelita Keajaiban Dunia

Kumpulan Puisi Nurdiana Jilid 2.   Editor: R. Mi..

Rp 30,000

Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan

Editor: Bilven. Desain sampul: Ucok (TYP:O Graphic..

Rp 50,000

Di Pengasingan

Di Pengasingan

sebuah kumpulan cerita pendek.   Pengantar: M.A...

Rp 35,000

Jelita Senandung Hidup

Jelita Senandung Hidup

Kumpulan Puisi Nurdiana Jilid 1.   Pengantar: As..

Rp 30,000

Potret Diri dan Keluarga

Potret Diri dan Keluarga

Penyunting: Harsutejo. Bank naskah: Nurul Utami. D..

Rp 45,000

Perempuan Berkepang Kenangan

Perempuan Berkepang Kenangan

Kumpulan Cerpen 2011-2015   “Tamasya imajiner se..

Rp 55,000

Tags: eksil, Syarkawi Manap, komunis, PKI, Tragedi 1965, kejahatan kemanusiaan, kumpulan cerita