Info Kegiatan

 
 

Bandung – Jumpaonline, Jumat, 12 Juli 2013, bertempat di Toko Buku Ultimus Bandung, Remy Sylado, Sastrawan kawakan menghadiri acara launching buku Kamus Isme-Isme. Bertajuk ‘Ngaji Bahasa Bersama Remy Sylado’, acara itu pun bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke 68.

Puluhan peserta hadir di acara tersebut, mulai dari aktivis, mahasiswa, penulis, sampai peminat sastra.

Acara dimulai dari pukul enam petang dan dibuka oleh Kyai Matdon, sebagai Moderator. Sebelum acara ngaji berlangsung, secara simbolis Matdon menyerahkan satu porsi nasi tumpeng kepada Remy diiringi tepuk tangan hadirin.

Selanjutnya Remy memaparkan beberapa permasalahan bahasa Indonesia yang kerap menjadi bahan perdebatan banyak pihak. Remy menilai bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu yang diajarkan oleh penjajah Belanda kepada rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

“Ketika VOC masuk ke Nusantara, rakyat kita diajarkan bahasa Indonesia oleh Belanda untuk mempermudah komunikasi,” katanya.

Selain itu, Remy menjelaskan tentang banyaknya kata serapan dan prokem yang banyak diucapkan oleh sebagian orang. Ketika satu perkataan yang keliru namun diucapkan oleh banyak orang, maka akan kesulitan untuk memperbaikinya karena sudah menjadi kebiasaan.

“Jika ada sembilan orang bersamaan mengucapkan kata yang salah, dan saya mencoba menegurnya, ya tidak bisa. Saya bisa dianggap gila kalau begitu,” ujarnya.

Bahasa prokem atau gaul yang muncul akhir-akhir ini pun tak luput dari perhatian Remy. Ia beranggapan bahwa bahasa prokem yang berkembang di masyarakat itu sah-sah saja. Malahan, Remy menambahkan, jika sudah disepakati oleh sebagian besar masyarakat, itu bisa menjadi bahasa baku atau serapan.

“Dulu tidak ada kata cuek, kata itu dipopulerkan oleh salah seorang penyanyi yang akhirnya kini menjadi bahasa baku. Jadi jangan kaget jika suatu saat kata-kata seperti ciyus, miapah, bisa saja masuk dalam kamus Bahasa Indonesia,” ucapnya.

Acara ngaji yang berlangsung hampir selama dua jam itu diakhiri dengan sesi tanya jawab dari peserta. Beberapa peserta yang hadir antusias melayangkan pelbagai pertanyaan.

Egi Primayoga, seorang peserta yang hadir menanyakan ihwal suatu kata yang memiliki tendensi negatif jika diucapkan. Remy menjawab bahwa masyarakat Indonesia dominan memakai perasaan dalam olah ucap atau mendengar.

“Selain berkata sesuatu yang enak didengar, kita pun mesti memiliki etika dalam pengucapan suatu kata atau kalimat. Jangan sampai kata yang kita ucapkan membuat orang yang mendengarnya tersinggung,” ujarnya.

Setelah acara selesai, satu persatu hadirin mengantre untuk meminta tanda tangan Remy Sylado di buku yang dibawa masing-masing. Tidak ketinggalan, hadirin secara bergantian berfoto dengan penulis idolanya tersebut.

AGUNG GUNAWAN SUTRISNA

Sumber: jumpaonline.com - Maret 2014