(62) 812 245 6452

Info Kegiatan

 
 

Oleh: Puthut EA

Siang kemarin aku baru saja merampungkan kisah gila dua sahabat, Sergey Brin dan Larry Page, di dalam sebuah buku yang memikat, Google Story.

Mereka berdua masih belum genap tiga puluh tahun ketika mengguncang dunia dengan proyek mesin pencari di dunia maya, yang mustahil bagi para pengguna dunia maya tidak mengenal mesin pencari ini, Google. Mereka juga belum genap tiga puluh tahun ketika memelengakkan kepala banyak pialang saham di Wall Street dengan polah yang tidak konvensional. Dan mereka masih tetap belum genap tiga puluh ketika mendongakkan kepala, menantang dominasi raksasa Microsoft dengan penguasanya, orang terkaya di Amerika, Bill Gates.

Bukan, bukan keberhasilan finansial yang membuat aku selalu terpikat dengan polah anak muda. Tapi semangat, gairah serta sejenis keras kepala yang aneh, yang membuat aku akan terus membaca buku-buku seperti ini. Dunia berhutang banyak kepada anak-anak muda, di berbagai lini, dari seni sampai ekonomi, dari teknologi sampai politik. Anak-anak muda baik perempuan maupun laki-laki, yang kadang disertai sikap meletup-letup, eksentrik, dan sedikit kacau.

Semalam, hanya selang beberapa jam setelah aku merampungkan buku itu, di sebuah warnet, dua kabar yang dikirim teman lewat surat elektronik, membuatku tercenung. Kabar pertama dari Surabaya, dikirim oleh seorang teman dari Surabaya, mengabarkan sekelompok orang menyerbu sebuah acara dengan dalih pembasmian komunisme. Kabar kedua dikirim dari Swiss, latar peristiwanya terjadi di Bandung, baru terjadi dua jam sebelumnya, sebuah acara yang digelar di Toko Buku Ultimus didatangi segerombol orang dengan dalih yang sama.

Di surat elektronik tersebut dijelaskan, diskusi tentang Marxisme dibubarkan, pembicara dan beberapa pesertanya digelandang ke kantor polisi. Toko Buku Ultimus ditutup, disegel, dan dilintangi garis batas polisi berwarna kuning. Peristiwa tersebut sempat diwarnai baku dorong. Segera aku memencet telepon genggam, menghubungi Bilven, sahabatku sekaligus pengelola toko buku itu. Telepon tidak diangkat. Aku beralih ke nomor yang lain, nomor telepon Hakim. Telepon diangkat. Dan kami saling bicara.

Pikiranku segera meninggalkan Sergey dan Larry, beralih ke Bilven dan Hakim. Dua orang terakhir ini memang tidak setenar dan sekaya dua orang yang lain. Tapi ada kemiripan di antara kedua pasang sahabat itu. Ultimus memang bukan Google, tapi bukan berarti Ultimus tidak penting. Sergey dan Larry memang dua kandidat doktor dari Stanford, tapi Bilven dan Hakim adalah dua orang yang kuanggap sangat cerdas dan punya dedikasi.

Membaca surat elektronik itu membuat kepalaku dialiri sejenis kemarahan. Ada sesuatu yang mendidih di dalam perutku, merangsek, membuatku mual. Dalam keadaan seperti itu, aku menulis.

***
Kira-kira empat tahun yang lalu, Ayunk, salah seorang sahabat mengundangku untuk mengisi sebuah acara diskusi di STT Telkom Bandung. Ayunk adalah mantan anggota Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), organisasi di mana aku pernah cukup lama terlibat di dalamnya, bahkan dari mulai pertama membentuknya. “Kita bisa ngobrol setelah acara itu, mungkin ada sesuatu yang bisa kita lakukan bersama,” kata Ayunk saat itu. Kalimat itulah sesungguhnya, bukan acara diskusinya, yang membuat aku tertarik untuk datang. Setiap perjumpaan adalah potensi. Dan perjumpaaan ke sekian setelah masing-masing orang menapaki jalannya sendiri-sendiri adalah potensi yang menggairahkan.

Acara diskusi itu sendiri berlangsung dengan biasa saja. Mungkin karena aku sudah sejak dulu tidak begitu tertarik dengan diskusi-diskusi formal. Tapi penyelenggara diskusi itulah yang membuatku sangat bergairah. Hampir semua anak-anak muda, penuh energi, tapi tidak meledak-ledak. Tenang dan sangat mitayani. Beberapa di antara mereka kukenal dengan baik karena sebagaimana Ayunk, mereka adalah mantan anggota LMND. Proyek diskusi saat itu diselenggarakan dengan tujuan yang sangat sederhana, membangkitkan kembali gairah di kampus untuk membaca dan berdiskusi. Batu pertama yang mereka letakkan adalah dengan membuat sebuah perpustakaan di dalam kampus, dengan nama Sang Pemula.

Rangkaian diskusi itu berlangsung cukup lama, tiga atau empat hari, dengan mendatangkan banyak pembicara. Uang untuk menyelenggarakan acara diskusi saat itu diambil dari dana saweran, terutama tentu saja dibantu oleh Ayunk, yang kebetulan saat itu baru saja lulus kemudian langsung bekerja.

Ayunk menepati janji. Selesai acara penutupan, di malam harinya, aku dibawanya ke sebuah rumah kecil. Jumlah total orang yang berkumpul di sana saat itu adalah sembilan orang. Angka yang sangat aku sukai.

Pembicaraan dimulai dari obrolan ringan. Saling berkabar. Dan di forum itu, untuk kesekian kali mataku terbentur ke dua sosok. Pertama adalah Bilven. Orang ini sangat murah senyum, tampil begitu penuh energi, dan sangat percaya diri. Orang kedua bernama Hakim, pendiam, kalau bicara langsung ke pokok persoalan, tajam.

Obrolan lalu dilanjutkan dengan lebih serius. Temanya berkisar pada bagaimana membuka kemungkinan-kemungkinan agar sebuah komunitas bisa berkembang dengan baik.

Ada baiknya aku menceritakan kondisi sosial saat itu, terutama yang berkaitan dengan gerakan mahasiswa pasca-1998. Karena kondisi tersebut sedikit banyak berpengaruh besar kepada keputusan-keputusan individu-individu yang pernah terlibat di dalamnya. Saat itu, kondisi gerakan mahasiswa berada pada titik yang paling jenuh. Perpecahan ada di mana-mana. Eksponen-eksponen mahasiswa 1998 lalu memilih takdirnya masing-masing. Sebagian ada yang terus aktif di berbagai LSM, sebagian kecil yang lain ada yang menjadi dosen, peneliti, jurnalis, dan beragam kerja kreatif seperti menjadi penulis, pembuat film, dan lain-lain. Sementara itu ada yang memilih menjadi makelar politik, yang alih-alih memperjuangkan keyakinan mereka di tingkat elit, malahan sibuk merangsek di lingkungan tersebut untuk menerima ceceran-ceceran kue reformasi yang didaku oleh mereka. Itu biasa. Begitulah gerak setiap zaman. Kalau kata Gus Dur dalam sebuah guyonannya, yang keluar dari ayam bukan hanya telor, tapi juga tahi.

Salah satu kemampuan manusia adalah melakukan refleksi atas diri dan tindakannya, baik secara sosial maupun secara individual. Semenjak aku hengkang dari dunia aktivis mahasiswa, aku membawa banyak catatan dan pertanyaan. Himpunan pertanyaan dan catatan itu begitu berkelindan, rungkut. Tidak gampang untuk ditapis dan dilucuti sehingga mendapatkan yang mana yang pokok dan yang mana yang ranting, mana akar dan mana daun.

Sejak dulu, aku curiga. Dalam proses pendidikan di banyak organisasi gerakan mahasiswa, yang ada hanyalah sistem indoktrinasi. Kuasa senioritas atas segala hal, diam-diam menyimpan badai masalahnya sendiri. Selain itu, proses organisasional tidak selalu diikuti dengan proses internalisasi nilai-nilai. Tujuan menghalalkan cara. Pada beberapa hal, itu berbahaya. Aku hanya punya ukuran yang sederhana untuk itu. Kalau di satu hari, seseorang sudah dibiasakan dengan cara-cara seperti itu, dalam praktik yang sangat sederhana kemudian bisa menjelma hal berikut ini. Aku mengaku aktivis. Hari ini aku korupsi sekian puluh ribu rupiah, entah dari uang koran organisasi atau yang lain, aku butuh makan, organisasi tidak memikirkan itu, maka aku sah untuk korupsi. Tapi kalau sekali saja aku melakukan itu, prinsip itu akan bisa kuulang dalam skala yang lebih luas dan lebih tinggi. Dan sikap korup seperti itu bukan hanya mengancam dari segi finansial, tapi juga menggerogoti mental. Seperti rayap yang terus menggerogoti tiang-tiang penyangga rumah. Sikap korup seperti itu dapat dengan mudah dilacak hasil-hasilnya. Terutama bagi mereka yang memiliki kesempatan mendapatkan efek-efek publisitas ketika mereka menjabat jabatan-jabatan politik legal.

Dalih kompromi, manusiawi, dan tetek-bengek pemakluman lain, tak lebih dari pembelaan-pembelaan yang konyol. Aku pernah mendengar sebuah cerita dari negeri Cina, tentang seorang panglima yang berkhianat. Ia, panglima itu, menjual informasi kepada seorang pimpinan yang berseberangan dengan pimpinannya sendiri. Ketika pihak musuh menang, saat si panglima menagih janji karena pembelotannya, pimpinan pihak musuh malah menghukumnya sambil berkata, “Kalau kemarin kamu bisa mengkhianati rajamu sendiri, maka selanjutnya kamu pasti bisa mengkhianatiku!”

Aku saat itu, memang belum bisa mengudari reruwet dan menarik konklusi-konklusi penting untuk diriku sendiri. Tapi satu hal yang aku sangat percaya, dibutuhkan banyak orang muda yang punya visi dan karakter. Dan itu butuh waktu.

Ada satu lagi yang kupikir saat itu, menyangkut hubungan dengan dana. Aku diingatkan oleh seseorang dengan pepatah tua, “Kalau mulutmu memakan rotiku, maka mulutmu akan mengatakan apa yang kukatakan.” Dana, duit, dan sebangsanya harus disikapi dengan hati-hati, sebab bisa menjadi perangkap di kemudian hari.

Aku beruntung dan sekaligus tidak beruntung. Beruntung karena ternyata di perjalananku, aku bertemu dengan orang-orang yang berpikiran sama, dari latar-balakang yang berbeda. Aku tidak beruntung karena justru di lingkungan teman-temanku sendiri, pemikiran seperti itu membentur tembok keras. Bagi mereka, konsekuensi dari jalan pemikiran itu sangat panjang, jauh, dan rumpil. Hanya menghabiskan energi yang susah diukur pencapaiannya.

Hanya satu hal yang kemudian memaksaku melangkah: menutup mata dan telinga. Percobaan-percobaan kulakukan dengan teman-temanku. Poinnya, memperkecil skala, menurunkan target, sabar, dan siap jatuh-bangun dengan seluruh percobaan itu. Sebuah komunitas harus memikirkan bagaimana ia bisa hidup dengan pekerjaan yang dihasilkan oleh orang-orang yang ada di dalamnya supaya punya martabat dan tidak gampang disetir oleh siapa pun. Sembari itu, terus membuat strategi-strategi kreatif untuk menjadi lahan-lahan yang mampu mentransformasikan nilai-nilai.

Percobaan dilakukan di beberapa kota, dalam skala kecil, dan lebih banyak gagalnya. Dan kegagalan-kegagalan serta pemikiran-pemikiran itu pula yang kuutarakan di forum malam itu, sebagai bahan belajar bersama.

Hal lain yang menjadi masalah saat itu adalah kondisi kebijakan kampus yang mulai mengadopsi sistem manajemen profesional. Itu adalah konsekuensi dari sikap pemerintah saat itu yang patuh kepada kebijakan asing dan menjauhi tanggung jawabnya selaku penyelenggara pemerintahan. Kampus harus mandiri, subsidi pendidikan dikurangi, mahasiswa tidak punya banyak pilihan lain, cepat lulus atau semakin mengeluarkan biaya yang mahal.

Sebagai orang yang banyak mendapatkan pengalaman intelektual di kampus-kampus, orang-orang yang berkumpul saat itu memprihatinkan gejala seperti itu. Hal tersebut pulalah yang membuat mereka berpikir untuk membuat sebuah perpustaan alternatif untuk mencoba menghadang upaya pembekuan kreativitas dan pemikiran.

Malam itu, kami berpikir keras. Dan paginya, aku pulang ke Yogya.

***
Kampung tempatku tumbuh mungkin representasi dari sebuah entitas negara-bangsa yang bernama Indonesia. Di sana, perbedaan pendapat dan keyakinan diselesaikan dengan cara yang keras, sebagaimana Indonesia sering memakai cara itu untuk menyelesaikan masalah sosial-politiknya. Cara-cara negara dibocorkan dan merembes ke mana-mana. Cara-cara negara telah diadopsi dengan oleh banyak entitas sosial-politik yang lebih kecil. Juga kampungku.

Aku dibesarkan dengan fanatisme agama yang sangat kokoh dan terjaga. Jika Al-quran jatuh di lantai, aku harus menyungginya di atas kepala. Sementara tangan kananku memegang buku suci itu, tangan kiriku akan menutup hidung, tidak bernapas untuk sekian saat, sebagai perwujudan rasa menyesal dan dosa.

Di sekolah, guru agamaku memang mempersilakan pemeluk agama lain keluar ketika ia mengajar. Tapi itu hanya basa-basi. Guruku lebih senang kalau pemeluk agama lain ada di dalam kelas, dan ia bisa menyambitkan serangkaian ajaran yang mengatakan bahwa mereka, para anak-anak yang beda agama dengan kami, adalah kafir dan akan masuk neraka.

Aku adalah bagian dari kekejian itu. Anak beragama Kristen Katolik maupun Kristen Protestan adalah musuhku. Mereka seperti najis. Harus dijauhi dan harus dimusuhi.

Di luar sekolah, di kampung, hal yang hampir sama kami sebarkan kepada banyak orang lain. Mereka bisa saja anak janda, anak eks-tapol, atau anak orang-orang yang dituduh mencemari kampung.

Orang tuaku yang punya kesadaran lebih plural tidak bisa menghambat pengalaman sosialku dalam hal membenci orang yang beda agama, dituduh komunis, atau dituduh bejat. Aku dan banyak anak yang lain, bersama orang-orang dewasa telah menakik luka ke perasaan banyak anak yang lain.

Tapi aku beruntung karena aku senang membaca buku. Sebuah buku yang dibaca adalah sebuah perjumpaan. Proses itu memang tidak mudah, penuh tanda-tanya, menyita energi, terbata-bata. Perjumpaan tidak melulu berjalan dengan lancar, bisa sangat alot dan butuh waktu yang lama. Serumpil apa pun itu, lewat bukulah aku diajari untuk mendekati pemikiran orang lain dan mendekati pengalaman orang lain. Lewat bukulah aku diajak untuk masuk ke dalam sebuah pengandaian, bahwa ada orang lain yang hidup dengan dunia dan keyakinan berbeda, bagaimana seandainya aku menjadi mereka?

Perjumpaan dengan buku dan perjumpaan dengan orang dari beragam latar, seiring perkembangan nalarku, membuatku sangat menyesali sikap-sikap yang pernah kulakukan. Aku kemudian merasa bahwa aku telah berhutang banyak kepada buku-buku yang pernah kubaca, dan berhutang banyak kepada orang-orang yang mengajakku berpikir.

Melalui buku kemudian aku berbalik memberi syak kepada cara-cara negara yang mencoba menularkan wabah kebencian berdasarkan apapun, termasuk keyakinan agama, ideologi, dan perbedaan ras.

Sampai sekarang, selalu ada rasa marah kalau ada sekelompok orang mencoba memberangus buku, membungkam mulut yang ingin bersuara beda, apalagi dilakukan dengan cara-cara barbar ala preman. Sudah selayaknya buku dihadapi dengan buku, gagasan ditarungkan dengan gagasan, tulisan dihadapi dengan tulisan.

Tapi jelujur sejarah Indonesia selalu dipenuhi dengan upaya-upaya seperti itu. Kalah bertarung secara ideologi dan nalar membuat kaum intelektual berlari di belakang orang-orang bersenjata. Kalah bertarung pemikiran di kampus, berlindung di balik kekuatan gerombolan orang yang hanya punya satu jalan: kekerasan. Mereka serupa kambing-kambing muda yang terus mengembik-embik, menukar kemanjaan mereka dengan aduan-aduan cengeng, bertukar pengaruh untuk membasmi kekuatan yang lain. Itu terjadi di banyak tahun, dan terutama di tahun 1965.

Pengalaman 1998 juga memberi pelajaran-pelajaran serupa itu. Sudah bukan rahasia lagi ketika tentara terkepung secara politik, lalu mengorganisasikan kekuatan-kekuatan kontra-rakyat dengan dalih apa pun, tapi yang paling sering dipakai adalah rumus lawas: awas komunis bangkit!

Sampai sekarang, cara-cara seperti itu masih sering dilakukan. Biasanya muncul di bulan-bulan tertentu, seperti meriang yang mewabah di musim-musim tertentu.

Kemarin, satu dari sekian korban adalah sebuah komunitas bernama Ultimus.

***
Hanya selang beberapa bulan setelah pertemuan malam-malam di Bandung itu, Ayunk meneleponku. Ia bilang saat itu, teman-teman di Bandung siap menjalankan sebuah proyek toko buku. Dalam beberapa hari, akan ada seseorang yang datang ke Yogya, namanya Fenty.

Tidak lama kemudian Fenty datang. Ia datang dengan konsep yang memukau. Seluruh pernik tentang toko buku itu dibawa serta, termasuk nama: Ultimus. Saat itu, aku sedang berproses di dalam sebuah komunitas yang bernama Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY).

AKY sedang tumbuh sebagai komunitas yang cukup menjanjikan. Para aktivitasnya tidak kenal lelah, merebut setiap lini kemungkinan. Apa pun, asal menjanjikan proses-proses manusiawi, kami jumputi dengan sabar. Menerbitkan buletin, menggelar diskusi, bekerja sama dengan puluhan komunitas dari berbagai kegiatan mulai dari sastra sampai komunitas jalan-jalan, mulai dari pusat kota sampai pelosok jauh. Niatannya hanya satu, bertemu dengan sebanyak mungkin kelompok, bekerja sama, dan saling berbagi gagasan.

Dengan pola kerja seperti itu, harus diakui, AKY mampu membangun kerja sama dengan banyak kelompok, salah satunya adalah rumah-rumah penerbitan. Dan di situlah Ultimus bertemu dengan AKY dalam jarak yang begitu dekat. Ultimus ingin membuka toko buku, dan AKY telah dipercaya oleh banyak penerbit karena sering bekerja sama dengan mereka.

Ada satu hal besar yang tampaknya segera menghadang Ultimus saat itu. Sebagaimana komunitas yang dikerjakan tenaga-tenaga muda, modal yang mereka miliki adalah kecerdasan dan dedikasi. Untuk modal uang, mereka agak cekak. Padahal saat itu, rumah-rumah penerbitan tidak lagi mudah untuk memberikan kepercayaan bagi toko-toko buku yang baru buka. Hal ini bisa dimaklumi karena saat itu banyak sekali toko buku yang gulung tikar tanpa bisa mengembalikan buku-buku yang dijual. Banyak penerbit kemudian mensyaratkan sistem kredit. Dan sistem seperti ini jelas akan memberatkan Ultimus.

Faiz Ahsoul adalah salah seorang aktivis AKY yang punya kenalan dengan banyak rumah penerbitan. Ia bersama Fenty keliling ke banyak penerbitan di Yogya, meminta model konsinyasi dengan jaminan satu saja: AKY. “Ultimus teman kami. Jaminannya AKY. Alamat kami jelas, pengurusnya jelas. Kami tidak akan pernah lari dari tanggung jawab.” begitu kira-kira kalimat Faiz ketika menjumpai kolega-koleganya di rumah-rumah penerbitan. Nasib menoleh ke arah Ultimus dan AKY. Para pengelola penerbitan tidak keberatan dan percaya dengan sistem konsinyasi yang ditawarkan oleh Ultimus.

Beberapa hari kemudian Fenty balik ke Bandung dengan setumpuk harapan. Kami yang tertinggal di Yogya juga penuh dengan harapan-harapan baru. Kami punya kawan baru.

***
“Siapa saja teman-teman yang ditangkap? Ada yang kukenal?” tanyaku semalam, setelah berhasil menghubungi Bilven.

“Pam.” jawabnya singkat.

Ketika penggropyokan terjadi, Bilven dan beberapa teman bisa bersembunyi di salah satu ruang di Ultimus. Dengan cara-cara lama, akhirnya ia bisa dievakuasi di tempat yang aman. Salah satu pengalaman aktivis 1998 adalah mengevakuasi kawan di titik bahaya.

Pam orang yang sangat simpatik. Tubuhnya jangkung dan kalau bicara pelan, tenang. Aku mengenal dia cukup baik, terutama saat aku dulu sering mendapatkan tugas-tugas politik di Bandung. Dulu ia aktif di kelompok musik. Kalau mereka sedang berada di Yogya, kami sering kangen-kangenan di Taring Padi yang saat itu masih menempati ruang yang sangat eksotik di Gampingan.

Aku dan Pam menjadi lebih sering bertemu ketika Ultimus berdiri. Ia sering datang ke sana, mengikuti serangkaian kegiatan yang diadakan oleh Ultimus.

Terakhir pertemuan kami terjadi juga di Ultimus, bulan April lalu. Saat itu aku ikut pertemuan antara sekelompok penerjemah, Ultimus, dan Insist Press. Pam ikut di pertemuan itu.

***
Hanya butuh waktu sebentar, Ultimus melejit cepat. Tempat Ultimus saat itu berada di sebuah ruko kecil, di Jalan Karapitan 127. Dengan segera tempat itu menjadi tempat alternatif yang mempertemukan banyak orang dari beragam aktivitas. Mulai dari sastrawan, pembuat program komputer, aktivis politik, sampai pedagang gorengan. Hampir semua jenis kelompok seni ada, mulai dari pemusik, pelukis, pembuat film. Benar-benar ramai dan menggairahkan. Di tempat lama itu, ruko Ultimus bersandingan dengan ruko penjual alat-alat musik. Di sana, di toko musik itu, ada gitar bolong yang tidak bersenar, dan di tubuh gitar itu terdapat tanda tangan para musisi yang pernah membeli atau berkunjung ke sana. Salah satu tandatangan yang bisa aku ingat menunjukkan sebuah grup musik yang kemudian sangat terkenal, Peterpan.

Ultimus setia dengan tujuan awal saat didirikan. Tempat itu menjadi tempat yang sangat menyenangkan bagi banyak orang. Setiap orang yang datang, tidak peduli membeli buku atau tidak, boleh membuat minuman hangat. Buku-buku yang dijual boleh dibaca sepuasnya. Bahkan kesepakatan awal di mana Ultimus akan menyisihkan 300 rupiah dari setiap rabat yang dihasilkan per buku yang laku dengan segera dinaikkan menjadi 500 rupiah. Angka yang sangat fantastis.

Uang itu digunakan untuk banyak hal, mulai dari membantu gerakan-gerakan pro-demokrasi untuk membuat selebaran maupun buletin sampai menyelenggarakan diskusi-diskusi. Ultimus juga menggenapi takdir sosialnya dengan cara yang lain.

Mahasiswa-mahasiswa yang kekurangan uang bisa membantu menjualkan buku yang diambil dari Ultimus. Mereka menjual di kampus-kampus atau tempat-tempat keramaian lain seperti di tempat-tempat seminar. Ultimus juga selalu membantu komunitas-komunitas lain yang ingin mendapatkan dana sendiri untuk menjalankan kegiatan komunitas tersebut. Maka toko-toko buku kecil hasil kerja sama sederhana antara Ultimus dan komunitas-komunitas kecil lain mulai bertebaran, dari Sukabumi sampai Garut.

Tapi langkah maju Ultimus menemukan halangannya yang pertama, dan cukup telak, dan itu justru datang dari orang-orang yang seharusnya mendukung kerja-kerja Ultimus.

Saat itu ruko kontrakan hampir habis masanya. Ultimus berencana untuk pindah ke tempat yang lebih besar lagi. Tapi para aktivis Ultimus masih pikir-pikir soal biaya. Hingga kemudian datanglah sekelompok anak muda, dari sebuah organisasi politik mahasiswa, menawari kerja sama. Kelompok itu menawari untuk mengontrak rumah yang jauh lebih besar. Mereka akan membagi beban biaya sewa 50:50. Kelompok itu akan membuka usaha mendirikan warung dan warnet. Melihat antusiasme itu, Ultimus menyambut gembira.

Akhirnya mereka menemukan rumah besar di tempat yang strategis yakni di Lengkong Besar, di depan Universitas Pasundan. Rumah itu disewa seharga 40 juta setahun. Ultimus yang memang sudah mempunyai dana, segera membayar uang bagiannya sebesar 20 juta sekaligus sebagai bukti-jadi penyewaan. Tapi setelah beberapa bulan, orang-orang yang mengaku aktivis itu tidak menepati janji. Padahal Ultimus tidak mungkin pindah lagi, karena sudah memberikan uang jaminannya. Dan semua barang sudah diberesi di tempat itu. Akhirnya, Ultimus harus menerima beban lain, ia harus membayar semua biaya karena kelompok anak muda itu tidak jadi melakukan kegiatannya.

Semenjak itu, Ultimus mempunyai beban finansial yang sangat besar. Pasaknya jauh lebih besar dibanding tiang yang sanggup mereka pancang.

Di saat yang sulit itu, Ultimus tetap tidak mau mengendorkan kegiatannya. Kegiatan di Ultimus makin digenjot terutama yang berurusan dengan masalah-masalah sosial. Sebuah perpustakaan yang cukup lengkap menempati ruang yang paling mewah. Ultimus juga menggelar kursus-kursus gratisan, mulai dari kursus bahasa Inggris sampai kursus membuat film. Semua gratis. Bahkan mereka kemudian bekerjasama dengan sekelompok pemuda yang bergiat di dunia film dengan mendirikan perpustakaan film yang berisi ribuan judul film.

Satu lagi yang kemudian dilakukan Ultimus, ia membuka lini penerbitan. Salah satu buku penting yang pernah diterbitkan oleh Ultimus bekerja sama dengan lembaga lain adalah Kapital karya Karl Marx.

Para aktivis Ultimus tahu bahwa mereka punya masalah finansial. Tapi mereka terus bergerak, melakukan sesuatu sembari menghadapi beban yang tidak gampang itu.

***
Ketika Ayunk menahkodai Ultimus di saat-saat awal, Bilven sedang sibuk mengerjakan skripsi. Beberapa bulan setelah Ultimus berdiri, ketika Bilven merampungkan skripsinya dan dinyatakan lulus dengan nilai yang sangat memuaskan, ia segera terlibat penuh di Ultimus. Ia datang di saat yang tepat, karena Ayunk kemudian harus sering pergi berhubungan dengan tugas-tugas kantornya.

Bilven seorang pekerja keras. Ia jago pembukuan dan seorang pemasar yang jitu. Wajahnya yang keren dan selalu murah senyum, tentu lebih memudahkan kerja-kerjanya. Sepanjang aku mengenalnya, ia tidak pernah mengeluh sekalipun beban kerjanya menumpuk. Aku termasuk orang yang mendapat kehormatan di Ultimus karena salah satu orang yang dipercaya oleh mereka untuk melihat pembukuan keuangan toko buku itu.

“Tidak ada uang yang tidak dipertanggungjawabkan di sini. Semua tercatat dengan baik, walau hanya dua puluh lima rupiah.” Sembari mengatakan itu, Bilven membuka seluruh catatan keuangan Ultimus dan rekening-rekening bank. Saat itu, Ultimus sudah jalan hampir setahun.

Bilven tidak merokok, tapi ia kecanduan minum kopi. Ia orang yang agak tertib dalam hal tidur, jarang begadang, dan bangun paling pagi di antara anggota-anggota Ultimus yang lain. Untuk lebih merasakan apa yang dia kerjakan, aku pernah mengikutinya selama dua hari dari bangun tidur sampai tidur lagi.

Begitu bangun tidur ia langsung membuka toko buku. Ultimus mungkin salah satu toko buku yang buka paling pagi di penjuru dunia, bisa jam tujuh bahkan jam enam pagi. Dan toko buku itu mungkin juga tutup paling malam, sering jam sepuluh tapi sering pula sampai jam dua belas malam bahkan jam tiga dini hari. Setelah memastikan semua siap, Bilven membuat kopi. “Dunia terasa terang kalau minum kopi di pagi hari,” ucapnya saat itu.

Setelah beberapa teman yang lain bangun, Bilven segera mengurus hal-hal yang berhubungan dengan administratif. Menelepon, menerima telepon, memeriksa hasil penjualan, melakukan pencatatan dan menulis agenda-agenda kegiatan. Agak siang sedikit, ia pergi ke bank untuk mengirim uang ke penerbit-penerbit. Mbak-mbak di kasir bank sangat hapal dengan wajah Bilven, mereka menyapa Bilven dengan ramah. Tapi Bilven tetap saja pemalu, mukanya merah kalau disapa ramah. Setelah itu ia biasanya ikut sibuk mempersiapkan acara-acara yang akan digelar di Ultimus. Hampir setiap hari selalu ada acara di Ultimus, bahkan kadang dobel, sore dan malam.

Di sela-sela kesibukannya, ia masih melanjutkan kuliah di ITB, mengambil gelar S2. Kini, gelar itu telah disandangnya, dan ia tidak menggunakan kedua ijazah yang didapatnya dari dua universitas yang bonafid, S1 dari STT Telkom Bandung, S2 dari ITB. Ia malah memilih bekerja mengurus toko buku Ultimus.

Setahuku, Bilven, laki-laki berdarah Batak dan lahir di Malang itu, yang wajahnya jauh lebih muda dibanding usianya yang sebenarnya itu, tidak punya pacar, bahkan belum pernah pacaran.

***
Sebagai toko buku, sudah tentu acara yang banyak digelar di Ultimus adalah acara yang berhubungan dengan buku. Karena itu, nama Ultimus dengan singkat nyangkut di benak banyak penulis. Lebih dari seratus acara peluncuran buku pernah diadakan oleh Ultimus, dari yang paling sederhana sampai yang paling ramai. Dari mulai di halaman ruko kecil, di toko yang sekarang lebih besar, sampai di gedung-gedung tertentu. Penulis dari berbagai wilayah di Indonesia pernah mampir di toko buku ini dari mulai Sumatra, Bali, Kalimantan, Sulawesi, apalagi Jawa. Ultimus tidak pernah pilih-pilih dalam mengadakan penyelenggaraan acara peluncuran buku. Mulai dari penulis besar seperti Seno Gumira Ajidarma, Putu Wijaya, sampai penulis-penulis pemula, semua mendapatkan kesempatan yang sama.

Tapi semakin lama, acara di Ultimus semakin berkembang. Mulai ada pentas musik, pameran lukisan, menonton film bareng, dan banyak lagi yang lain. Terakhir aku di sana, ada penyelenggaraan konser amal oleh beberapa grup musik di halaman samping toko buku Ultimus.

Di toko buku yang tidak begitu besar itu, telah terjalin sebuah hubungan sosial yang menenteramkan. Penulis bertemu pemusik, pekerja teater bertemu pelukis, aktivis LSM ketemu dengan pakar-pakar pemrograman komputer, dan pertemuan-pertemuan itu menghasilkan sekian banyak hubungan yang saling menguntungkan.

Ultimus berkembang melempar potensi yang dimilikinya  ke berbagai arah. Ketika tragedi tsunami melanda Aceh, banyak acara amal digelar di sana, bahkan Ultimus menjadi titik pertemuan penting bagi para relawan yang akan pergi ke Aceh. Saat gempa melanda Yogya beberapa bulan yang lalu, satu truk bantuan penuh bahan makanan tiba di Yogya dalam waktu yang singkat, lengkap dengan para relawan yang siap bekerja. Bantuan yang diorganisasikan oleh Ultimus bahkan terus mengalir, sampai berminggu-minggu kemudian.

Setiap hari, puluhan bahkan ratusan anak muda berdatangan di Ultimus dengan berbagai agenda masing-masing. Ultimus telah menjadi sebuah tempat sosial yang penting bagi banyak orang. Dan bukan hanya bagi mereka yang tinggal di Bandung.

***
Bilven tidak sendirian. Ultimus adalah sebuah komunitas. Jalannya Ultimus tidak hanya ditentukan oleh Bilven melainkan juga oleh belasan aktivis mereka yang datang dan pergi. Tapi harus diakui, Bilven telah mengawal Ultimus di barisan paling depan. Tepat di samping Bilven, di lini paling depan, selalu ada seorang pemuda berwajah manis, cenderung pendiam, bernama Hakim.

Hakim orang yang serba bisa. Ia menguasai dengan baik pemrograman komputer, terampil mengotak-atik peralatan elektronika, bahkan ia menguasai ilmu arsitektur.

Ketika Ultimus masih menempati ruko kecil dan orang-orang yang terlibat di dalamnya merasa membutuhkan sebuah saung untuk tempat berbincang, Hakimlah yang mengerjakannya mulai dari membuat desain, mencari bahan sampai ikut membantu menukangi pekerjaan itu. Hasilnya, sebuah saung indah, kokoh, dan berbiaya rendah.

Di tempat yang baru, ketika Ultimus ingin membuat tempat berdiskusi yang lebih besar, Hakim pula yang merancang desainnya sampai ikut menyelesaikannya. Halaman samping yang cukup lapang itu dalam waktu singkat telah diisi sebuah panggung mungil dikelilingi kursi-kursi yang elok. Sederhana tapi indah. Juga ketika Ultimus membutuhkan perangkat pengeras suara, Hakim mengerahkan kemampuan, menekan biaya hingga perangkat tersebut jadi, dengan kualitas yang bagus dan tidak berbiaya tinggi. Perangkat pengeras suara itu ikut dirusak dalam tragedi yang terjadi di Ultimus kemarin sore.

Konon kabarnya, dari kecil, Hakim selalu menjadi orang tercerdas di sekolahnya. Ia dapat nilai tertinggi untuk matematika dan ilmu pasti lainnya. Bahkan kalau tidak salah, di nilai hasil akhir SMP atau SMA ia menyabet nilai sempurna untuk matematika. Kalau ada hitung-hitungan matematika yang rumit, ia hanya butuh waktu sekian detik tanpa kalkulator.

Aku pernah bertemu dengan seorang pemrogram komputer di Ultimus. Orang itu bekerja di Sumatra dan sedang berlibur di Bandung. Ia pernah berkata kepadaku, kalau Hakim mau, ia pasti bisa bekerja dengan mudah dan mendapatkan gaji jutaan rupiah bermodalkan otak cemerlangnya itu.

Hakim berasal dari Jember, dan sebagaimana Bilven, ia jarang pulang ke rumah. Seluruh tenaganya dikerahkan untuk Ultimus. Sekalipun pendiam, Hakim punya selera humor yang sangat tinggi. Tapi kelucuannya lebih sering muncul saat ia menggunakan bahasa Sunda dengan logat Jawa Timuran. Yang paling sering membuatku tertawa dan tetap tertawa ketika mengingat dia adalah saat dia memanggil Bilven dengan bahasa Sunda berlogat Jawa Timuran, “Bilven…kadiek…” B-nya tebal, D-nya juga tebal.

Di Ultimus, Hakimlah yang bertugas mendistribusikan berbagai tugas. Tapi beginilah kata pemuda yang juga alumni STT Telkom itu, “Di sini orang bekerja tidak perlu banyak bicara, semua sudah langsung tahu apa tugas masing-masing tanpa diminta. Semua terjadi begitu lancar. Orang tahu kapan dia istirahat dan kapan dia bekerja. Begitu ada orang yang lelah menghadapi pekerjaan, satu-dua orang sudah berdiri di dekat orang itu, siap menggantikan.”

Setahuku juga, sama seperti Bilven, Hakim belum punya pacar dan belum pernah pacaran.

***
Pertama dan yang paling utama, para aktivis Ultimus adalah mereka yang punya kesadaran politik. Mereka memang belum tahu akan sejauh mana menapaki kerja-kerja itu, tahu mereka tahu persis untuk apa mereka mengerjakan itu semua.

Selain itu, para aktivis Ultimus adalah mereka yang sangat mencintai buku. Dan bukan rahasia lagi, kebanyakan dari mereka tergila-gila dengan karya Pramoedya Ananta Toer. Tulisan-tulisan Pram menginspirasi mereka. Hal itu bisa dilihat dari kerja pertama sebelum Ultimus berdiri, sebuah perpustakaan alternatif yang diberi nama Sang Pemula. Nama itu diambil dari salah satu judul karya Pram. Bahkan alamat surat elektronik Ayunk, si penggagas awal Ultimus, memakai nama Minke, tokoh utama dalam tetralogi Buru.

Penghormatan atas kerja, berdikari, bekerja sama, adalah nilai-nilai penting yang menopang Ultimus. Nilai-nilai yang mereka percayai akan membawa kemaslahatan bagi banyak orang. Di kantor mereka, tertera kalimat bernas Multatuli, tertempel di tembok, berdekatan dengan papan yang berisi agenda-agenda kerja meraka, “Sebab kita bersukacita bukan karena memotong padi, kita bersukacita karena memotong padi yang kita tanam.”

Setiap kali membaca kalimat itu, seakan ada energi yang selalu bangkit, siap menggantikan kelelahan, dan memantik kalimat lain yang berasal dari karya gemilang Pram, “Berbahagialah kalian yang mendapatkan hasil dan pengetahuan dari kerja dan keringat sendiri.”

Ayunk, Krisdo, Fenty, dan belasan anak muda lain yang pernah mencicipi dan melabuhkan keringat di Ultimus tetap menganggap Ultimus adalah rumah yang nyaman bagi mereka sekalipun banyak di antara mereka yang sudah bekerja di luar kota Bandung. Sering sekali setiap liburan tiba, mereka berkumpul di Ultimus, menikmati malam-malam yang panjang dengan saling berbagi pengalaman dan membongkar kenangan.

Ada begitu banyak tempat yang membuatku gampang jatuh kangen. Salah satunya, tentu Ultimus. Di tempat itu aku bertemu dengan banyak orang yang sangat mengasyikkan untuk diajak ngobrol dan bertukar gagasan. Banyak lagi kegiatan yang bisa dilakukan mulai dari membaca buku-buku yang ada di perpustakaan dan toko buku, menonton film sampai bermain catur dengan Bilven. Tiga kali aku bermain catur dengannya, dan tiga kali pula aku selalu kalah.

Ada banyak ruangan di toko buku Ultimus. Setidaknya ada dua kamar yang disediakan bagi para tamu jika mereka ingin menginap. Tapi yang tidur di Ultimus selalu minimal belasan orang, termasuk para aktivisnya. Para aktivis Ultimus tidak ada yang tidur di dalam kamar. Mereka cukup menggelar tikar, tidur di depan ruang televisi atau di sela-sela rak-rak buku.

Aku paling senang tidur di sela-sela rak-rak buku. Mencium bau kertas, dan merasa berada di dunia yang paling mengasyikkan. Hanya saja, kalau pagi tiba, harus segera menyingkir.

***
Ketika tulisan ini kubuat, televisi di sampingku menampilkan teks berjalan yang kira-kira isinya menyatakan bahwa pihak kepolisian tidak melihat indikasi bahwa kegiatan yang dilakukan di toko buku Ultimus menyebarkan gagasan tentang komunisme, namun orang-orang yang ditangkap masih terus diperiksa.

Hanya selang beberapa saat kemudian sebuah pesan layanan singkat terkirim ke telepon genggamku, dari Bilven. Isinya tenang, terkontrol namun tetap bernada optimistik, “Hormat saya kepada semua anak manusia yang bersolidaritas dan berani memperjuangkan harkat intelektual bangsa jauh melampaui zamannya.”

Membaca kalimat itu, membuatku semakin terharu.

Tragedi yang menimpa Ultimus memang segera mendapatkan banyak respons baik lewat surat-surat elektronik maupun lewat pesan layanan singkat. Hampir semua memberikan dukungan moral, dan banyak juga yang langsung ikut terjun melakukan advokasi di lapangan. Hal itu menunjukkan bahwa Ultimus telah mendapatkan tempat di hati banyak orang.

Sebuah pesan layanan singkat dari Hakim masuk. Isinya mengatakan bahwa teman-teman yang ditangkap sudah boleh keluar. Hanya saja Ultimus masih harus menyelesaikan urusannya, sebab ternyata tragedi malam itu merembet ke buku-buku yang pernah diterbitkan oleh Ultimus.

Apa pun itu, Tragedi Ultimus semakin menguatkan indikasi bahwa penyebaran gagasan dan kekuatan pemikiran masih menghadapi banyak masalah di negeri ini. Selalu ada kekuatan yang mencoba menghadang dan membatasi berkembangnya sekelompok orang yang mencoba peduli dengan sesamanya dan mengembangkan pemikirannya.

Jika berpikir saja sudah direpresi, maka itu berarti mencoba menggagalkan berdirinya sebuah rumah semenjak dari membuat pondasinya. Hanya saja mereka yang melakukan kebrutalan itu lupa bahwa alih-alih mereka bisa menghentikan, justru tindakan mereka akan mengobarkan api resistensi.

Ultimus, sebagaimana karya gemilang anak manusia, telah diawali dari niat baik, lalu dikerjakan dengan kesungguhan dan ketekunan. Ultimus pasti bukanlah hanya sekadar bangunan dan isinya yang bisa ditutup, disegel, dirusak dan mungkin dibakar. Tapi ia telah menjelma menjadi benih yang terus hidup dan tumbuh di hati dan imajinasi banyak orang, yang mustahil bisa dimusnahkan. Mustahil.

15 Desember 2006

Sumber: puthutea.com