(62) 812 245 6452

Info Kegiatan

 
 

BANDUNG - Nama toko buku “Ultimus” selalu dikaitkan dengan hal-hal berbau kiri atau Marxisme. Toko itu masih eksis hingga kini.

Tidak ada kegiatan mencolok di “markas” Ultimus di sebuah rumah kontrakan di Jalan Rangkas Bitung, tepat di seberang Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kebonwaru, Kota Bandung, Jawa Barat, meski, September identik dengan peristiwa berdarah G-30S-PKI 1965.

Ultimus justru bersiap berkemas untuk pindah ke tempat baru. Desember mendatang, toko akan pindah ke kawasan Dago.

Di halaman toko tampak gazebo sederhana yang sudah berdebu. Di dinding pintu terpampang spanduk gelap bertuliskan huruf terang “Ultimus’.

Memasuki ruang utama toko, terdapat etalase yang memajang beberapa buku, salah satunya tentang pembantaian pasca-G-30S-PKI 1965 karya John Rossa.

Lalu, ada tiga rak kayu yang penuh dengan buku. Di antara deretan buku, terdapat Das Kapital karya Karl Marx yang dipajang berdampingan dengan Anti Duhring karya Fredrick Engels.

Di bagian muka Das Kapital terpampang sosok Karl Marx yang penuh cambang dan janggut memenuhi seluruh kover. Di bawah kanan, terdapat logo Ultimus.

Sejak 2008 lalu, Ultimus melebarkan sayap bisnis dengan menerbitkan buku-buku kiri. Sebelumnya, Ultimus hanya toko buku, perpustakaan umum, dan komunitas diskusi.

Pendiri Ultimus, Bilven Sandalista, menjelaskan, penerbitan buku-buku kiri menjadi bagian dari misi Ultimus. Menurutnya, Marxisme merupakan bagian dari kekayaan intelektual yang pernah hidup. Karena itu, tidak heran bila ada warga yang mengecap Ultimus sebagai penganut komunis.

Pada 2006, komunitas Ultimus bahkan menjadi buah bibir warga Bandung. Saat itu, Ultimus, yang masih bermarkas di Jalan Lengkong Besar, menggelar diskusi tentang Marxisme. Namun diskusi dibubarkan paksa oleh sebuah ormas karena dianggap menyebarkan ajaran komunis dan membahayakan NKRI. Malah beberapa pengurusnya diamankan aparat, meski akhirnya dibebaskan.

Bilven menuturkan, saat pembubaran dan penangkapan itu justru Ultimus banyak mendapat bantuan, misalnya dari KontraS dan LBH Jakarta. Komunitas itu berdalih, tidak ada dasar yang kuat untuk menangkapi aktivis yang melakukan diskusi tentang faham kekirian.

Saat insiden penangkapan itu, Ultimus belum menjadi penerbit tetapi masih menjadi ruang diskusi, pertunjukan, perpustakaan, dan toko buku.

“Supaya efek misi lebih besar, kami putuskan jadi penerbit. Supaya buku yang kami terbitkan bisa diakses semua orang di mana saja. Dengan penerbitan, kami bisa bikin peluncuran buku di luar kota,” terang Bilven. (ton)

Sumber: okezone.com - 28 September 2012