(62) 812 245 6452

0 item(s) - Rp 0
  • Pelita Keajaiban Dunia

Kumpulan Puisi Nurdiana Jilid 2.

 

Editor: R. Miryanti, Heri Latief, Bilven. 
Pengantar: Chalik Hamid, Asahan Aidit
Ilustrasi: A. Gumelar
Desain sampul: Ucok (TYP:O Graphics)

 

Nurdiana adalah nama pena dari Suar Suroso, buku kumpulan karya puisinya ini meniti pada semangat gerakan pemuda yang berjiwa kerakyatan.

 

Pak Suar memiliki latar belakang sejarah kehidupan pergerakan nasional, sejak usia muda beliau adalah aktivis di kampungnya, dan ikut serta berjuang dalam Laskar Rakyat Padang melawan agresi militer Belanda. Di periode pasca perang kemerdekaan Republik Indonesia, dan setelah pemilu 1955, beliau dipercayakan oleh organisasi Pemuda Rakyat untuk mewakili bangsanya di berbagai konferensi pemuda internasional sedunia. Melalui pengalaman hidupnya sebagai aktivis mahasiswa, Pak Suar selama bertahun-tahun turut berperan dalam mendukung solidaritas internasional terhadap gerakan pembebasan rakyat sedunia menentang penindasan kekuatan imperialisme yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

 

Peristiwa Berdarah 1965/1966 telah ditandai dengan lahirnya sistem pemerintahan orde baru di bawah rezim militer Soeharto yang terkenal kejam. Rezim Soeharto juga melarang karya seni yang berlawan dan memenjarakan ribuan seniman berhaluan kiri di kamp konsentrasi tapol Pulau Buru. Represi ini menjadikan ekspresi semangat berlawan kaum muda semakin kuat untuk membangun masyarakat berkeadilan sosial di Indonesia terutama pada periode pasca reformasi. Sejak menjadi aktivis pemuda yang mengalami pergerakan budaya kerakyatan di zaman Bung Karno, kemudian sampai kini hidup di pengasingan di negeri Tiongkok, maka hasil pengamatan Pak Suar mencerminkan refleksi dirinya dalam karya-karya puisi yang memiliki makna juang nilai-nilai kemanusiaan.

 

Dalam kumpulan karya puisinya berjudul Pelita Keajaiban Dunia, Nurdiana mengulas suatu perbandingan kondisi ketidakadilan di Indonesia, misalnya di salah satu puisinya mengenai teroris islam yang dihukum mati melalui pengadilan dan jasadnya pun diserahkan pada keluarganya, sedangkan D. N. Aidit sebagai menteri negara RI dibunuh begitu saja di pinggir sumur dan keluarganya sampai saat ini tak tahu di mana jasadnya berada.

 

Karya puisi pak Suar adalah sebuah karya sastra yang berlawan, dan juga telah menjadi semacam filter dalam kehidupan gelap bangsa kita, semoga cahaya puisinya bisa memberikan pencerahan dan semangat anak muda Indonesia untuk membangun kesadaran bangsanya.
Lembaga Sastra Pembebasan
Heri Latief – R. Miryanti
Amsterdam, 27 Desember 2009


Write a review

Please login or register to review

Pelita Keajaiban Dunia

  • Penerbit : Ultimus
  • Cetakan : 1, Feb 2010
  • Pengarang: Nurdiana
  • Halaman : xx + 144
  • Dimensi : 14.0 X 20.0 cm
  • ISBN : 978-602-8331-13-5
  • Availability: 10
  • Rp 30,000


Related Products

Akar dan Dalang

Akar dan Dalang

Pembantaian Manusia Tak Berdosa dan Penggulingan B..

Rp 65,000

Mengenang Gubuk Reyot

Mengenang Gubuk Reyot

dan cerita-cerita lainnya.   Editor: Bilven. Des..

Rp 35,000

Aku Hadir di Hari Ini

Aku Hadir di Hari Ini

Kumpulan Puisi Hr. Bandaharo.   Editor: Putu Oka..

Rp 35,000

Gelora Api 26

Gelora Api 26

kumpulan cerpen dan puisi.   Editor: Chalik Hami..

Rp 25,000

Nyanyian dalam Kelam

Nyanyian dalam Kelam

Kumpulan Puisi.   Editor: Putu Oka Sukanta, Bilv..

Rp 20,000

Puisi-Puisi dari Penjara

Puisi-Puisi dari Penjara

Editor: Putu Oka Sukanta, Bilven. Pengantar: Asep ..

Rp 30,000

Cerita untuk Nancy

Cerita untuk Nancy

sepilihan puisi.   Editor: Heri Latief, Bilven. ..

Rp 33,000

Jelita Senandung Hidup

Jelita Senandung Hidup

Kumpulan Puisi Nurdiana Jilid 1.   Pengantar: As..

Rp 30,000

Mawar Merah

Mawar Merah

kumpulan puisi.   Pengantar: Asahan Aidit, M.A.,..

Rp 28,000

Senandung Juang Palu Arit

Senandung Juang Palu Arit

Kumpulan Puisi Nurdiana Jilid 3   Tahun 2017 ada..

Rp 100,000

Jalan Sutera Abad 21

Jalan Sutera Abad 21

Demi koeksistensi damai, kerja sama dan kemakmuran..

Rp 65,000

Tags: puisi, sajak, penyair, Tragedi 1965, kejahatan kemanusiaan, Nurdiana, Suar Suroso, eksil