(62) 812 245 6452

Info Kegiatan

 
 

Oleh: Pungkit Wijaya

Sastra Sufi identik dengan tarekat keagamaan. Bagi seorang sufi sastra seringkali dijadikan medium untuk mengungkapkan kegelisahan atau pemikirannya terkait suatu ajaran. Biasanya memang ajaran agama. Sufi tak bisa lepas dari agama.

Misalkan dalam Islam, sufi termasuk ke dalam sejarah dan memberikan sumbangan tersendiri pada peradaban.

Minggu 6 Oktober 2013 pukul 15.00  bertempat di Penerbit/ Toko Buku Ultimus, Jalan Cikutra IV No. 30. Bandung digelar diskusi sastra sufi yang pembicaranya penyair legendaris Mathori A-Elwa. Diskusi sastra sufi diselenggarakan Majelis Sastra Bandung, Sorge Magazine, Ultimus dan penerbit medium.

Selain itu pula. diskusi ini disiarkan langsung (Live Streaming) ke stand buku Ultimus yang kebetulan sedang berada dalam Pameran Buku Bandung 2013.

Acara dibuka dengan pembacaan puisi para peserta diskusi yang hadir. Sementara, Kyai Matdon, Rois A’am Majelis Sastra Bandung dalam sambutannya mengungkapkan “Acara bulan ini diadakan berkat kerja sama semua pihak. Sastra sufi memang dipandang penting bagi perkembangan perpuisian terutama di Indonesia atau di Bandung sendiri”.

Acara diskusi sastra sufi dihadiri peserta dari Bandung dan luar kota Bandung, dari mulai mahasiswa kampus dan peminat sastra sufi.

Yopie Setia Umbara membuka acara diskusi sastra sufi dengan sederet pertanyaan Apa itu sastra Sufi? Bagaimana eksistensinya dalam sejarah dunia kesusastraan? Apakah sastra sufi itu memiliki manfaat bagi masyarakat?

Memang, istilah sastra sufi –khususnya di kalangan pecinta sastra Islam– cukup menarik perhatian. Banyak yang masih tertarik untuk menengok genre ini mengingat banyak karya jenis sufisme yang cenderung menawan sebagai bacaan kamar. Mereka yang menyukai sastra sufi bukan hanya golongan muslim taat, melainkan juga mereka yang tergolong berpikir sekular. Sayangnya, genre ini kurang mendapat tempat dari perbincangan umum.

Mistikus Sejati
Selanjutnya, Mathori A Elwa mencoba mengurai secara biografi dirinya ketika awal menulis puisi. Ia merupakan penyair yang bisa disebut memiliki “kelainan” karena kemampuannya mencipta karya-karya sufi, selain ia sendiri menekuni jalan kehidupan di jalur sufistik. Di era akhir 1980 hingga awal 1990-an, di Yogyakarta, Mathori A Elwa sangat dikenal dengan ikon sastra sufinya.

Saat itu ia aktif di beberapa sanggar seni dan teater, termasuk aktif bersama Budayawan Emha Ainun Najib dan menjadi editor buku-bukunya. Sejak 2003 silam, ia hijrah ke Bandung dan menjadi editor buku di Penerbit Nuansa Cendekia.

Mathori A Elwa dengan panjang menguraikan keterkaitan antara sastra sufi dan dunia para mistikus, seperti halnya dengan dunia ghaib yang tak terlihat oleh mata. Seorang sufi, sejatinya akan mengamalkan atau menuliskan dalam media karya sastra. Dengan demikian sastra sufi sangat identik sekali dengan tasawuf. Dengan optimis, ia memuji Abdul Hadi salah satu sastrawan Indonesia yang harus diikuti untuk menresukan tradisi sastra sufi.

Namun, ada yang menarik dalam diskusi, peserta Ratna M Rochiman, “Apakah sastra sufi identik dengan dunia Islam semata? Apakah dalam tradisi agama lain tidak ada?” lantas pertanyaan itu dijawab Mathori dengan menyandingkan spirit dalam agama-agama lain.

Dalam pandangan Mathori A Elwa, terkadang dalam menulis ikhwal puisi, saya atau “para sufi” dengan bermidiumkan kata-kata (baca; sastra) tak hendak menggolongkan atau mengambil idiom sufi seperti laut, pantai dsb. Metafor atau diksi-diksi dalam sastra sufi muncul secara alamiah dalam tulisan sebagai hasil pengyahatan dari kehidupan sehari-hari.

Intinya, tak hendak secara konseptual menuliskan ajaran sufi. Para penyair sufi biasanya berangkat dari pengalaman dirinya sendiri dalam menafsir kehidupan yang fana ini. Tegas Mathori A-Elwa.

Para sufi biasanya memiliki satu ajaran atau berguru. Dari itu pula seringkali sufi menjadi mistikus sejati.

Sumber: noiseyouth.net - 8 Oktober 2003


Artikel & Tinjauan Buku