0 item(s) - Rp 0
  • Patah

Di tengah ruang-ruang yang makin tak gratis dan publik yang kian kerontang, puisi bukan hanya kian langka tapi memang ia harus mati lantaran mengabaikan ranah tempat tumbuhnya daya-daya puitik. Untunglah Jabaril bukan jenis penyair yang lagaknya seperti jagoan jadul yang memajang puisi layaknya batu akik nan tak terpermanai.

Setiaji Purnasatmoko

 

Temuan bahasa ungkap, dalam hal ini menjadi ’puisi’ tak semudah menggunakan bahasa baku keseharian, walau kemudian dalam penggunaannya masih meminjam istilah bahasa baku. Tetapi padanya, ’puisi’ mempunyai imajinasi atau gambaran yang cukup menarik, sehingga ’puisi’ mampu memberikan pengayaan tafsir sebagai fenomena estetik itu sendiri. Pada inilah ketertarikan saya untuk menulis puisi.

Rahmat Jabaril 

 

 

 

Write a review

Please login or register to review

Patah

  • Penerbit : Ultimus
  • Cetakan : 1, Mei 2008
  • Pengarang: Rahmat Jabaril
  • Halaman : xx+120
  • Dimensi : 14.0 X 20.0 cm
  • ISBN : 978-979-17174-7-2
  • Availability: 10
  • Rp 24,500


Related Products

Mengukir Sisa Hujan

Mengukir Sisa Hujan

Saya mengenal Soni Farid Maulana sejak dia masih S..

Rp 30,000

Mendaki Kantung Matamu

Mendaki Kantung Matamu

Puisi-puisi Bode Riswandi tampak hendak membangun ..

Rp 20,000

Terusir

Terusir

Kumpulan cerpen yang ditulis oleh Rahmat Jabaril i..

Rp 20,000

Semua Telah Berubah, Tuan

Semua Telah Berubah, Tuan

DUNIA yang dihadapi penyair kini adalah dunia yang..

Rp 49,000

Angsana

Angsana

SONI FARID MAULANA dilahirkan 19 Februari 1962 di ..

Rp 17,500

50% Merdeka

50% Merdeka

  Saya menemukan karakter seorang pemberontak yan..

Rp 30,000

Kepada Penyair Anjing

Kepada Penyair Anjing

Matdon adalah penyair pengembara yang ketika kemba..

Rp 17,000

Culture of Our Art 2

Culture of Our Art 2

Maka seni dalam konteks dunia sosial, tidak melepa..

Rp 30,000

Culture of Our Art

Culture of Our Art

Kampung Dago Pojok tidak lagi sebagai kampung urba..

Rp 100,000

Tags: puisi, Rahmat Jabaril, Bandung